13th March

Title                 : 13th March

Author                        : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Genre              : romance, friendship, family, angst

Length            : oneshoot

Main Casts      : Mia Lee (OC), Kim Myung Soo / L (Infinite), Nichkhun (2PM)

Support Casts : Infinite, 2PM, and Super Junior members

==== Mia Lee  PoV ====

Bandung, Indonesia, @Sushi Tei Trans Studio Mall, 8 Maret 2013

“Miaaaaaa!!! Lo yakin ngasih tiket ini buat gue? Ya ampuuunnnn!!!! Makasiiih cantiiik!! Love you muah-muah! Aaaaarrrggghhh!! Gue nggak nyangka bisa nonton music bank! Yesung Oppaaaaa…I’m comiiing!!!!” Ayu memelukku dengan erat sambil jingkrak-jingkrak seperti orang gila.

Beberapa orang memerhatikan kami dengan penasaran. Aku hanya nyengir kaku, kemudian cepat-cepat duduk dan memesan makanan.

“OMG!!!! Ini ada free pass backstage juga? Lo dapet nih free pass dari mana Mi? Oh mai Gat!!!! Gue bisa liat Yesung pas ganti baju doong nantiii!!!!”

Langsung saja kujitak kepala Ayu. Ayu hanya nyengir lebar.

“Nggak usah tanya ini itu Yu. Kalau lo nggak mau,,, mending gue kasih tuh tiket sama free pass backstage buat temen gue yang lain aja.”

“Eits..eits…, nggak bisa! Di dunia ini kaan cuma gue sahabat lo yang paliing baik dan cantik! Hahaha. Duh..duh.., untung deh …, asalnya kan gue sengaja nggak booking nih tiket karena takut besok jadi acara kantor ke Singapura, taunya nggak jadi, daan.. gue beruntung banget karena dapet gretongan dari lo. Kyaaaaaaa!!!!!”

“Ck..ck..ck..” Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat tingkah sahabatku sejak kuliah ini. “Traktir gue makan. Lo kan bilang… lo baru promosi jadi team leader.”

Ayu cengengesan. Sahabatku itu memang baru saja di promosikan menjadi team leader funding officer di Bank Mega 2 minggu yang lalu, dan kami belum sempat merayakannya. Sudah hampir 6 bulan aku tidak bertemu dengan Ayu. Sibuk dengan karir kami masing-masing. Ayu dengan kerjaannya di bank, sementara aku mengurus bisnis fashion-ku di Jakarta.

“Hehehe. Boleh-boleh…, tapi kenapa cuma di sini sih Mi? nggak mau minum-minum apa?”

“I’m not drinking anymore.”

“Kenapa?”

“Pokoknya enggak.”

“Smoking?”

Aku menggeleng.

Ayu hanya mengangkat bahu cuek. Dia menyilangkan kakinya yang jenjang dan mulus. Beberapa cowok melirik antusias padanya. Sejak dulu, Ayu memang terkenal sebagai diva. Perawakannya benar-benar sempurna. Dan orang lain sering mengira dia bossy dan sombong. Padahal sebenarnya ia hanya seorang Elf. Fans Yesung sejati! Berisik dan heboh abis!

Tak bosan-bosannya dia menonton konser yang ada Suju-nya. Bahkan sampai rela pergi ke luar negeri hanya untuk nonton konser Suju! Ck-ck-ck.

Tapi.., mungkin hanya aku yang mengetahui “sisi fangirl”-nya itu. Ayu jarang memberitahu orang lain kalau dia sebenarnya seorang fangirl, kecuali pada orang-orang terdekatnya.

“Lo masih inget.., pas kuliah dulu.., lo pertama nyapa gue dengan bahasa Korea?” tanyaku tiba-tiba.

Ayu mengangguk. “Yap! Abisnya tampang lo korea abis, Mi! eh.., taunya namanya Mia. Hahaha. Mia Lee sih.., dan lo sering marah kalau ada yang nulis nama marga lo dengan singkatan doang. Mia L.”

Aku tersenyum. Meskipun Ayu adalah sahabat pertama-ku sejak pertama kali aku tinggal di Indonesia, tapi ia tidak tahu semua hal tentangku.

“Eh, lo ke Bandung buat meeting di Trans Hotel ya? Jam berapa meetingnya?” tanya Ayu.

“Jam 2 yu.”

“Trus.., lo mau langsung balik ke Jakarta lagi?”

Aku menggeleng. “Nggak. Gue mau kabur sebentar nih di Bandung. Hehehe. Kangen Bandung banget gueee Yu.”

Ayu menyipit. Tampak curiga. Tapi ia ikut tersenyum.

Triiing. Ada message dari Line.

K : Hope to see you soon at mubank! ^_^

K : have you got the ticket?

K : I’ll be waiting you at the backstage too. Hehehe.

Aku menghela nafas panjang. Tidak membalas line Nichkhun oppa. Ya, aku mengenal Nichkhun oppa. Bisa dibilang,,,, dia adalah sepupu jauh-ku. Tidak ada yang tahu mengenai hal ini selain “orang itu”. Seandainya saja “orang itu” tidak datang juga…, aku pasti dengan senang hati menerima tawaran Nichkhun oppa untuk menonton konser-nya, seperti sebelum-sebelumnya, saat 2PM konser di Jakarta. Tapi kali ini berbeda. Karena.., selain 2PM.., “orang itu” dan grup-nya juga datang.

==== End of Mia PoV ====

===== Kim Myung Soo / L PoV =====

Jakarta…, Indonesia….. @Hotel

Aku tidak menyangka.., sekarang… aku bisa berada di negara yang sama dengan “dia”. 5 tahun sudah berlalu sejak terakhir kali aku melihatnya.

“Myung Soo, kenapa? Jet lag?” tanya Sungyeol.

Aku tersenyum tipis dan menggeleng. “Panas sekali di sini ya.” Kataku.

Hoya melingkarkan lengannya di pundakku. “Setelah konser besok.., kita boleh jalan-jalan. Asyik kan? Hahaha.”

“Jinja?”

Sungjong mengangguk dengan bersemangat. “Aku ingin ke Bali, hyung! Katanya tempatnya bagus sekali.”

Pletak! Sungkyu menjitak kepala si maknae. “Kita bukan liburan panjang wooy!!!”

Sungjong mengelus-elus kepalanya. “Memangnya Bali jauh dari sini ya hyung?”

“Tentu saja jauh. Aku malah ingin jalan-jalan di sini saja. Aku ingin ke Kota Tua.” Kata Sungkyu.

“Mwo? Apa itu hyung? Kota Tua?” mata Sungjong berbinar.

Aku tidak terlalu memerhatikan lagi obrolan mereka. Pikiranku sibuk berkelana ke sana-kemari.

Hhhhh…

Berkali-kali aku menghela nafas panjang.

Kini.., setelah kami berada di negara yang sama.., kota yang sama…, bisakah kami bertemu? Di mana ia sekarang? Apakah ia akan datang besok malam?

“Seperti apa wajahnya sekarang? Apakah dia merindukanku juga?” tanpa sadar aku menyuarakan pikiranku.

“Mwo? Wajah siapa? Siapa yang rindu padamu, myungsoo~yaa?” tanya Woohyun. Yang lain ikut menatapku juga.

Aku tersentak kaget dan hanya tersenyum tipis. “Molla~”

Woohyun menyipitkan matanya dan menatapku tajam.

“Kalian tidak pergi untuk rehearsal? Kami baru saja selesai…” tiba-tiba saja Junsu 2PM datang, diikuti teman-teman 2PM nya. Tanpa sadar, mataku bertemu dengan Nickhun. Kami saling tatap tanpa ekspresi.

Aku hanya menghela nafas panjang. Hhhh.., Nickhun pasti tahu di mana “dia” berada saat ini. Tapi.., aku tidak mungkin bertanya padanya.

******

Keesokan harinya, @Music Bank Concert, GBK….

Stylist merapikan rambutku. Aku hanya menatap cermin, melihat pantulan diriku yang tanpa ekspresi.

“Ya! Myungsoo~ya.., semangatlah!!! Ini pertama kalinya kita bertemu Inspirit Indonesia. Kau harus semangat!!! Hmm?” Sungkyu mengepalkan sebelah tangannya. Memberiku semangat.

“Ne, hyung…”

Tak jauh dari tempatku duduk, Nickhun tampak sedang ngobrol di ponsel. “You’re coming tonight, right? Why you didn’t answer my message?”

Mataku menyipit. Jangan-jangan.., Nickhun hyung sedang berbicara dengan “dia”.. Nickhun tidak menyadari tatapanku karena dia duduk membelakangi-ku dan agak jauh dariku.

“I can’t hear you clearly. So crowded there, right? Take care okay.., and I’m waiting you here. Come here after the show end.”

Woohyun merangkul pundakku. “Ayo! Giliran kita tampil.”

Sebelum pergi, aku sempat melirik Nickhun sekilas, dia masih terlihat berbicara di ponselnya.

“Dia” datang malam ini? Ia ada di sini sekarang? Menonton konser? Dan.., apa tadi Nickhun hyung bilang? “Dia” akan datang ke backstage juga setelah konser ini berakhir?

Tiba-tiba saja mood-ku membaik. Aku tersenyum sendiri seperti orang gila.

You’re such a mood booster, Mia Lee.

==== End of Myung Soo / L PoV =====

==== Mia Lee PoV====

@Trans Hotel, Bandung

Aku menatap pemandangan malam hari kota Bandung lewat jendela kamarku. Musik kencang mengalun memenuhi ruangan. Aku hanya mendengarkan konser Infinite 2nd Invasion tanpa melihat video-nya lewat Smart TV yang ada di kamar hotel ini.

Tanpa melihat-pun.., aku bisa tahu kapan “orang itu” menyanyi. Bagaimana ekspresinya. Smirk di wajahnya. Senyum setengahnya. Pandangan dinginnya…

Memoriku memutar lagi berbagai kilasan adegan masa lalu. Bagaimana saat kedua mata dingin itu berubah menatapku lembut. Bagaimana saat seringaian menyebalkannya itu berubah menjadi seulas senyuman hangat. Bagaimana saat kedua tangan besar itu merengkuhku dan membuatku nyaman.

Tanpa sadar mataku memanas. Dan tanpa sadar, sejak tadi ponselku masih terus tersambung dengan ponsel Nickhun Oppa.

“You’re coming tonight, right? Why you didn’t answer my message?” tanya Nickhun Oppa.

“I’m sorry. I forgot reply your line messages, Oppa.” Kataku.

“I can’t hear you clearly. So crowded there, right? Take care okay.., and I’m waiting you here. Come here after the show end.”

Aku menghela nafas panjang. “I’m not coming. I’m in Bandung now.”

“Why?” Nickhun Oppa tampak syok. “I thought you’re already here now…”

“I can’t.” bisikku lemah.

“Because of that person, right? You’re afraid you’ll fall in love with him again.”

“OPPA!”

“Hhhh.., okay…, just wait me there. I’ll come to you after the show end. Bandung, right? I think I could go there.”

“Don’t come here Oppa!”

“Why? You don’t miss me?”

“I miss you. But.., I’m so busy here. There’re so many meeting I should attend. For the sake of my business.”

Di seberang sana, Nickhun Oppa terdengar menghela nafas berat. “Take care your health, Mia…”

“I know.” Kataku tak sabar. “Don’t forget your promise.”

“I won’t. But.., please let me see you. I miss you so much, Mi.”

“You can’t come here. Your fans will notice you.”

“No. I promise. My fans won’t recognize me.” Kata Nickhun Oppa keras kepala. Aku tersenyum. Kalau ada satu persamaan antara kami… itu adalah sama-sama keras kepala.

“Okay.” Kataku akhirnya. Mengalah. “I’ll wait you here. This hotel is kind of private. Maybe you’ll not meet your fans here.”

Bagaimanapun juga.., aku memang merindukan sepupu jauh-ku itu. Dan karena waktu-ku tidak banyak…, kurasa aku harus sering bertemu orang-orang yang kusayangi, sebelum akhirnya aku menyesal karena tidak bisa bertemu mereka lagi. Tapi.., haruskah aku bertemu L? Bisakah? Apakah pernah se-detik saja ia memikirkanku?

Kepalaku kembali memutar adegan 5 dan 6 tahun silam. Saat pertama kali aku bertemu Myungsoo alias L. Saat itu sungguh bukan saat-saat yang menyenangkan. Selama 16 tahun aku hidup…, itu-lah pertama kalinya aku tahu bahwa aku bukanlah anak kandung ibu dan ayahku. Aku hanyalah anak adopsi. Ayah dan ibuku mengadopsi-ku dari seorang teman lama mereka yang telah meninggal dunia karena kecelakaan setelah aku lahir. Bisa dibayangkan,,,,bagaimana kacaunya perasaanku saat itu. Bagaimana mungkin orang yang selama ini kuanggap ibu dan ayah-ku ternyata tega menyimpan sebuah rahasia besar. Dan bagaimana mungkin mereka tega bercerai setelah memberitahu-ku hal itu?!

Ayah angkatku menikah lagi, begitupula dengan ibu angkatku. Aku tinggal dengan ibu angkatku itu, bersama suami barunya.

Saat itu aku tidak peduli lagi dengan semua hal. Aku.., yang asalnya gadis baik-baik.., berubah menjadi gadis pemberontak. Tak jarang aku membuat ibuku menangis, dan suami baru ibuku naik darah. Tapi aku tetap tidak peduli.

Satu-satunya orang yang bisa memahamiku saat itu hanyalah sepupu jauh-ku.., Nickhun Oppa. Dia adalah cucu dari kakak-nya nenekku. Yah.., tapi itu sebelum aku tahu bahwa aku hanya anak angkat. Tapi meskipun Nickhun Oppa tahu aku hanyalah anak angkat, dan tahu bahwa kami sama sekali tidak memiliki hubungan darah, dia tetap baik padaku seperti dulu. Hanya dia yang selalu mengerti aku.

Tapi.., tanpa kusadari.., di dunia ini selain Nickhun Oppa ternyata ada satu orang lagi yang selalu diam-diam mengerti diriku. Kim Myung Soo alias L. Anak dari suami baru ibu angkatku.

Awalnya aku tidak terlalu mempedulikan dia. Karena sepertinya dia hanyalah anak baik penurut dan pendiam. Dia juga tidak pernah menyapaku, selain mengucapkan “Annyeong haseyo” pada pertemuan pertama kami.

Aku tahu.., dia sedang menjalani sebuah training untuk menjadi penyanyi dan idola di sebuah agensi. Itu membuat kami jadi jarang bertemu di rumah. Dan tanpa kusadari, ternyata MyungSoo adalah teman satu sekolahku sejak dulu, tapi selama ini aku tidak pernah melihatnya. Mungkin karena sikap cuek-ku.

Karena sikap berontakku pada ibu angkatku dan suami barunya…, sering sekali tidak ada yang peduli ketika aku tidak pulang tepat waktu. Mungkin ibu angkatku dan suami barunya sudah menyerah dengan sikapku.

Sempat pada suatu hari aku tidak pulang ke rumah, besoknya juga tidak masuk sekolah. Ponselku hidup, tapi sama sekali tidak ada telepon ataupun message dari ibu angkatku. Sepertinya dia sudah benar-benar tidak peduli lagi padaku.

Saat itu aku “kabur” ke rumah lama kami. Rumah itu masih belum terjual, dan aku mencuri kunci rumah itu dari ibu angkatku.

Saat itu aku berpikir…, mungkin memang sebaiknya aku hidup sendirian.

*Flashback 6 dan 5 tahun yang lalu*

Hujan turun dengan deras. Aku hanya menatap jalanan lewat jendela rumahku. Berharap hujan terus turun sepanjang hari ini.

Seharian ini aku belum memakan apapun. Perutku sangat kepalaran, tapi aku mengabaikannya. Sejak kemarin aku hanya meminum soju. Sekarang tumpukkan botol-nya memenuhi setiap sudut rumah.

Petir menggelegar. Hujan angin-nya deras sekali. Bulu kudukku meremang. Apalagi sekarang sudah pukul 6 sore. Sudah mulai gelap.

Tok..tok..tok…

Ada yang mengetuk pintu depan rumah. Awalnya aku mengabaikannya, tapi makin lama ketukan itu makin keras. Orang itu menggedor-gedor pintu dengan tidak sabar.

“Miaaaa!!! Ini aku! Aku tahu kau ada di dalam!”

Aku langsung terdiam begitu menyadari suara siapa itu.

“Myungsoo?” aku terkejut begitu membuka pintu. Myungsoo basah kuyup. Matanya terlihat cemas sekali, entah karena apa. Aku tidak pernah menduga Myungsoo akan mencariku.

“Syukurlah kau ada di sini. Ternyata dugaanku benar.” Myungsoo tersenyum lembut, dan tiba-tiba saja dia memelukku dengan erat. Tubuhnya yang basah dan dingin membuatku ikut basah, tapi pelukannya membuatku hangat. Tanpa kusadari, air mataku mengalir deras di dada-nya yang bidang.

“Kupikir kau menghilang, Mia~yah.., jangan pernah kabur seperti ini lagi. Kau membuatku hampir gila!” Myungsoo melepas pelukannya, lalu menatap sekeliling ruangan. Melihat tumpukkan botol soju. Aku tahu apa yang ia pikirkan. Aku sudah siap menerima omelannya. Tapi.., tanpa kuduga, Myungsoo malah membelai kepalaku dan menatapku lembut. “Mulai sekarang.., kalau kau ingin menangis, menangis saja di pelukanku. Kalau kau merasa lelah, bersandar saja di pundakku. Kalau kau merasa tak sanggup berjalan, aku akan menopangmu. Jangan pernah bersandar pada soju-soju itu lagi! Kau punya aku, Mia~yah.., aku akan selalu ada untukmu.” Myungsoo menatapku sambil tersenyum hangat. Perlahan ia mendekatkan wajahnya padaku. Bibirnya yang dingin menempel di bibirku. “Saranghae, Mia Lee.”

Mulai detik itu, kehidupanku berubah 180 derajat. Berkat Myungsoo.., aku merasa “hidup” kembali.

Ternyata.., selama ini, sebelum ibu angkatku dan ayah Myungsoo menikah lagi, Myungsoo selalu memperhatikanku. Dia mengaku.., sudah sejak lama ia ingin mengenalku. Tapi aku terlalu cuek dan dingin pada semua orang. Dia bilang…itu membuatnya segan untuk mendekatiku.

Meskipun saat itu semua orang berpikir aku adalah bad girl, tapi Myungsoo selalu memperlakukanku dengan baik. Aku mulai mengingat beberapa kejadian, saat-saat di mana Myungsoo membelaku dari sekumpulan bad boy yang ingin menggangguku. Dan saat-saat di mana sekumpulan cewek akan mem-bully –ku.

Aku mulai mendapatkan kehidupanku kembali berkat Myungsoo. Aku tidak pernah menyentuh lagi alkohol dan rokok. Kedua hal itu paling dibenci Myungsoo.

Sikap ibu angkatku dan ayah Myungsoo juga jadi berbeda. Mereka malah merestui sekali hubunganku dengan Myungsoo. Ibuku benar-benar terharu begitu melihat perubahan sikapku. “Kupikir kau benar-benar membenci eomma, Mia sayang…, syukurlah karena sekarang kau bisa tersenyum lagi.” Sebuah kalimat simple itu entah kenapa bisa menghancurkan dinding yang selama ini kubangun untuk menghalangi diriku dan ibu angkatku. Justru.., selama ini kupikir ibuku-lah yang membenciku. Kupikir ia ingin membuangku. Kupikir aku tidak berarti apapun baginya.

Ya.., tahun ini merupakan tahun yang sangat menyenangkan. Semuanya sempurna. Rasanya aku sanggup hidup terus seeperti ini selama ribuan tahun, asalkan Myungsoo tetap berada di sisi-ku.

Tapi.., kata “selamanya” itu tidak pernah ada. Selalu ada kata “akhir” setelah kata “awal”.

Satu tahun kemudian,,, setelah menjalani 1 tahun yang penuh kegembiraan, berita buruk itu datang.

Aku di-vonis menderita kanker hati. Stadium 3.

Tidak ada yang tahu mengenai hal ini. Aku mengetahuinya saat aku kontrol ke dokter. Saat itu aku memang sering sekali merasakan sakit di bagian perut atasku.

Saat itu juga.., rasanya duniaku hancur.

Bagaimana mungkin…di saat aku merasakan hidupku sempurna…, ternyata jatah hidupku hanya sebentar lagi?!

Dokter menyarankan agar aku dirawat intensif dan melakukan operasi. Tapi aku terlalu takut. Aku bukan takut mati. Aku hanya takut orang-orang yang kusayangi menderita karena melihatku.

Lebih baik aku pergi dengan lebih cepat. Lebih baik aku pergi dengan meninggalkan kesan “aku baik-baik saja”, dibanding pergi dalam keadaan sakit.

Aku kembali menjadi bad girl. Saat itu, aku memberitahu ibu angkatku.., aku akan tinggal bersama ayah angkatku. Aku mengatakan hal-hal buruk pada ibuku. Aku berkata.., aku tidak bahagia tinggal bersamanya. Aku berkata.., aku ingin belajar di Amerika, di sekolah terbaik, dengan kehidupan yang lebih baik. Ayah angkatku bisa memberiku semua itu. Ia bisa memberiku apapun. Harta. Semuanya bisa ia berikan padaku, selain kasih sayang. Itulah yang kubutuhkan. Aku tidak membutuhkan orang-orang yang menyayangiku, karena kasih sayang hanya akan membuatku semakin lemah.

Lebih baik aku hidup sendiri.

Yang paling sulit bagiku…, membuat Myungsoo membenciku. Aku ingin dia melupakanku. Lebih baik kalau dia membenciku daripada melihatnya menangis karena kematianku. Kupikir dengan membuatnya membenciku.., ia tidak akan merasa sedih bila suatu hari nanti aku benar-benar pergi dari dunia ini. Ya, kurasa sebentar lagi aku akan pergi…

Satu-satunya orang yang mengetahui penyakitku hanyalah Nickhun Oppa. Aku terpaksa memberitahunya karena aku membutuhkan pertolongannya.

Myungsoo tahu.., Nichkhun oppa bukan benar-benar saudaraku. Kami tidak memiliki hubungan darah sama sekali karena status anak angkatku.

Aku membuat Myungsoo mengira.., aku mengkhianatinya. Aku membuat seolah-olah aku sangat mencintai Nichkhun oppa sebagai seorang laki-laki, bukan sepupu. Aku membuat seolah-olah…, aku dan Nichkhun oppa akan menikah setelah aku lulus sekolah nanti di LA.

Sesuai rencanaku. .., Myungsoo meninggalkanku. Mungkin saat ini dia benar-benar membenciku.

Kupikir.., dengan begitu aku akan menjadi lebih tenang. Tapi kenyataannya ternyata sebaliknya. Setelah pindah ke LA dan tinggal bersama ayah angkatku dan istri barunya, aku merasa hidupku sudah tidak berharga lagi.

Semula aku berpikir…, dengan membuat Myungsoo dan ibuku membenciku.., aku akan bisa mengahadapi kematianku dengan damai. Tapi kenyataannya.., aku justru semakin takut. Tapi aku terus menguatkan diriku. Inilah yang terbaik. Lebih baik aku yang menderita sendirian.., daripada harus membuat Myungsoo dan ibuku ikut menderita.

Di LA, tanpa sepengetahuan ayahku…, aku menghabiskan banyak sekali uangnya untuk berobat. Aku masih menolak operasi. Aku takut. Aku benar-benar takut bila hidupku akan berakhir di ruang operasi. Aku hanya terus rajin berobat dan rawat inap. Sesuai dugaanku.., ayah angkatku sama sekali tidak tahu dan tidak peduli akan kupakai apa uangnya yang sangat banyak itu.

Aku tahu, lebih baik berobat di negara-negara maju seperti Amerika dan Jepang, dibanding berobat di negara berkembang seperti Indonesia. Tapi.., entah kenapa saat itu aku ingin sekali tinggal di Indonesia, setelah Nickhun oppa bercerita banyak hal tentang negara itu. Pulau-pulau dan pantai-pantai yang masih alami dan belum terjamah.., semua itu adalah impianku. Aku ingin melihat sesuatu yang “alami” sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan dunia ini.

Ayah angkatku memberiku banyak sekali fasilitas. Rumah, uang, kendaraan. Bisa dibilang.., kehidupanku di Jakarta (Indonesia) lebih dari cukup. Aku sering jalan-jalan menjelajahi berbagai tempat indah di Indonesia. Mulai dari timur sampai ke barat. Semuanya pernah kudatangi.

Tanpa kuduga.., di Jakarta.., aku juga bertemu dengan seorang teman yang membuatku lebih bahagia. Ayu.

Meskipun Ayu tidak tahu semua hal tentangku.., tapi kehadirannya membuatku merasa sedikit lebih hidup.

*End of Flashback*

Aku menghela nafas panjang berkali-kali. Mengingat semuanya hanya membuatku merasa kesepian.

Suatu keajaiban bagiku karena sampai sekarang aku masih bisa bertahan hidup. Aku tidak menduga aku akan hidup selama ini.

Sejak tinggal di Indonesia.., aku hanya berobat jalan ke dokter, sesekali rawat inap bila sedang liburan. Aku juga mencoba berbagai pengobatan tradisonal. Sepertinya pengobatan tradisional itu membantuku bertahan hidup lebih lama dari yang seharusnya. Mungkin karena di dalam nadi-ku mengalir se-perempat darah Indonesia, sehingga aku cocok tinggal dan berobat tradisional di sini.

Ya.., 5 tahun sudah berlalu. Tak pernah sekalipun aku bertemu ibu angkatku lagi.

Myungsoo.., aku bahagia karena ia kini menjadi seorang idol, dan sukses mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang penyanyi dan aktor.

Diam-diam Nichkhun oppa membantuku memata-matai ibu angkatku di Korea. Oppa bilang.., ibuku baik-baik saja. Dia bahkan membuka sebuah butik di Gangnam.

Meskipun aku dan ibuku sama sekali tidak memiliki darah yang sama, tapi kecintaan kami terhadap fashion ternyata sama. Sudah sejak lama aku juga ingin membuka butik-ku sendiri. Maka, semenjak lulus kuliah, aku pun mulai merintis lini fashion-ku sendiri. Merancang berbagai busana pria dan wanita, tampil dalam berbagai fashion show, meluncurkan branded baru.

Kini sudah 2 tahun aku menggeluti bisnis fashion. Aku sekarang terlalu cinta Indonesia, sehingga rasanya sulit bagiku untuk keluar dari negara ini. Aku senang sekali men-desain berbagai model batik untuk wanita. Aku juga menggabungkan berbagai unsur khas daerah-daerah di Indonesia ke dalam sebuah gaun. Membuatnya menjadi sebuah gaun yang elegan dan memiliki karakter yang kuat. Tak kalah bila dibandingkan dengan desaigner muda Indonesia berbakat yang saat ini sedang naik daun, Tex Saverio.

Tex Saverio adalah teman sekaligus sainganku. Aku senang bertukar ide dengannya. Dia orang berbakat yang ku-kagumi.

Aku melirik jam dinding. Sudah pukul 11 malam. Ternyata aku terlalu lama melamun ya.

Sekarang.., konser mubank pasti sudah selesai. Kuharap konser-nya sukses. Kuharap.., Myungsoo menikmati kunjungannya yang pertama ke Indonesia.

Selama Myungsoo ada di Jakarta, aku akan menghilang sejenak dari ibu kota yang sesak itu.

===== End of Mia PoV ======

==== Myung Soo / L PoV ====

Aku tersenyum senang. Sambutan inspirit Indonesia benar-benar luar biasa. Selama di panggung, aku berusaha tampil se-maksimal mungkin. Se-enerjik mungkin. Aku mencari-cari sosok Mia diantara barisan penonton. Tapi percuma saja. Aku tidak akan menemukannya semudah itu diantara penonton. Ini bukanlah drama televisi. Seandainya ini drama televisi romantis.., maka saat di panggung tadi aku akan melihatnya. Aku akan membawanya ke atas panggung, dan membuat seluruh dunia tahu.., selama 5 tahun ke belakang ini.., tak pernah sedetik pun aku melupakan gadis itu. Tak pernah sedetik pun aku berhenti mencintai gadis itu, meskipun ia telah lama meninggalkanku.

Aku menunggu di backstage dengan berdebar-debar. Aku sempat menguping tadi.., Nickhun bilang…Mia akan datang ke backstage. Nickhun menunggunya. Aku tahu.., Mia akan datang ke backstage untuk Nickhun, bukan untukku. Tapi.., aku sudah terlanjur merindukannya. Aku ingin melihatnya sejenak saja, meski ia tidak menganggapku ada.

Setelah konser selesai, backstage menjadi ricuh sekali. Para staff dan management memberi kami selamat. Beberapa artis ibu kota juga mengobrol banyak hal dengan kami. Beberapa lucky fans yang mendapatkan freepass backstage mulai membuat heboh suasana. Aku menarik diri. Mengasingkan diriku di pojok. Mataku yang tajam mengawasi pintu berulang kali. Berharap Mia segera melangkahkan kakinya memasuki ruangan ini.

10 menit… 20 menit.. 30 menit.. 40 menit… Mia tak kunjung datang. Apakah ia tidak jadi datang ke backstage? Apakah ia langsung pulang?

Aku melirik Nickhun yang kini sedang membersihkan wajahnya dari make-up. Dia melirikku sekilas lewat cermin, lalu kembali membasuh wajahnya.

Sepertinya Mia dan Nickhun masih berhubungan diam-diam. Pers tidak pernah tahu. Mereka rapi sekali menyembunyikan hubungan mereka. Tanpa kuduga, barusan aku mendengus cukup keras, membuat Nickhun menatapku langsung.

“Ada yang bisa kubantu, Myungsoo ssi?” tanyanya sopan dan ramah sambil tersenyum lebar.

Aku hanya terdiam dan menatapnya tajam.

Nickhun tidak tampak tersinggung. Dia meraih handuk dan mengelap wajahnya yang bersih, kemudian berbalik hendak pergi.

“Tunggu!” kataku. Nickhun menoleh dan mengangkat sebelah alis matanya.

“Mia.., dia.., apakah dia tidak datang?” tanyaku tergagap.

Nickhun tersenyum dan menggeleng. “Dia tidak datang.”

Setelah mengatakan itu, Nickhun pun pergi. Aku menahan keinginanku untuk bertanya lebih jauh.

@Hotel

Kami semua makan malam bersama di grand ballroom hotel. Diadakan semacam pesta kecil-kecilan. Aku menarik diriku. Tidak ikut minum-minum dan menari. Aku benci minum-minum!

“Kita ada wawancara dengan media besok. Sekalian promosi. Hehehe.” Kata Sungkyu. Aku tersenyum tipis dan mengangguk. Aku duduk di meja pojok. Menusuk-nusuk lobster-ku dengan tidak berselera.

Semua orang sibuk ke sana kemari sambil minum. Kini aku sendirian. Kulihat Nickhun juga menarik dirinya dari keramaian, dan tanpa kuduga dia menghampiriku.

“Masih benci minum-minum rupanya.” Kata Nickhun. Aku mengabaikannya. Dia terus saja bicara. “Kau tidak pernah menduga kan.., ada seseorang di luar sana yang meminum alkohol untuk mengurangi rasa sakitnya?”

Aku menatapnya tajam. “Itu hanyalah pelarian diri. Tidak seharusnya menghilangkan sakit dengan minum-minum. Semua itu justru hanya membuat tubuh semakin sakit.”

Tanpa kuduga Nickhun tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata. Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi.

Beberapa saat kemudian tawa Nickhun berhenti. Tatapan matanya jadi suram. “Aku juga berpikir seperti itu. Tapi.., sayangnya ia tidak mau menurutiku. Mungkin ia akan menurut padamu.”

Aku menyipitkan mataku, tak mengerti apa yang dia katakan. Tapi lama-lama otak-ku bisa menduga siapa yang dia maksud.

“Mia.., apakah dia baik-baik saja? Kau membuatnya bahagia kan?” tanyaku.

Nickhun hanya menatapku dengan sedih. Bukan. Bukan tatapan seperti ini-lah yang ingin kulihat darinya. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun menarik kerah bajunya dan mencengkram-nya erat. “Kau menyakitinya?” geramku.

“Kau mau membuat suatu penawaran denganku, Myungsoo ssi?”

“Apa?” aku melepaskan tanganku, dan kembali duduk dengan tenang.

“Aku akan memberitahumu di mana Mia berada sekarang, asalkan kau berjanji satu hal padaku. Aku ingin kau membuat Mia terus hidup.”

“Apa maksudmu?”

Nickhun menghela nafas berat. “Dia tidak pernah mau mendengar kata-kataku. Mungkin dia mau mendengar kata-katamu. Aku hanya ingin ia berobat secara serius. Aku tahu.., mukjizat baginya karena sampai saat ini ia masih hidup. Aku benar-benar mencintainya.., tapi selama ini aku tahu…hanya kau-lah yang selalu ia cintai. Dia tidak pernah tahu.., sakit sekali rasanya saat 5 tahun yang lalu dia menggunakanku untuk membuatmu menjauh dan membencinya.”

Otak-ku mulai memproses informasi tak terduga yang keluar dari mulut Nickhun barusan. “Kenapa? Kenapa dia ingin aku membencinya?”

“Karena dia mencintaimu. Kau pria yang sangat beruntung Myung soo ssi, karena Mia benar-benar mencintaimu, sehingga dia bahkan rela meninggalkan semuanya dan menderita sendirian.” Air mata Nickhun mengalir. “Tapi dia tidak peduli perasaanku. Betapa menderitanya aku melihatnya terus kesakitan. Sekarang.., mungkin Mia akan membenciku karena mengatakan rahasia ini padamu. Tapi biar saja.., aku ingin kau juga menderita sepertiku, Myung Soo ssi. Sekarang.., pergilah. Temui Mia. Buat agar dia mau operasi. Itu satu-satunya cara agar dia sembuh total.”

“Operasi?” mataku menerawang. Berbagai pikiran buruk memenuhi kepalaku.

Nickhun mengangguk. “5 tahun lalu.., Mia meninggalkanmu dan ibunya karena ia tidak ingin kalian tahu kalau dia mengidap kanker hati. Stadium 3. Dan kupikir sekarang kondisinya semakin buruk. Meskipun ia tidak menyadarinya…, tapi aku bisa merasakannya. Satu hal yang kuinginkan darimu,,,, buatlah Mia terus hidup dan bahagia.”

Detik itu juga, rasanya waktu berhenti. Semuanya terasa suram dan menyesakkan. Ya Tuhan.., bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?!

==== End of Myung Soo / L PoV ====

==== Mia PoV ====

Minggu, 10 Maret 2013. @J.co Trans Studio Mall

Aku duduk sendirian sambil menikmati se-lusin donut. Padahal tadi aku sudah sarapan, tapi tetap saja rasanya mulutku ingin mengunyah sesuatu yang manis.

Nickhun Oppa bilang.., ia akan datang ke hotel tadi malam, tapi sudah kutunggu sampai lewat tengah malam…ia tak kunjung datang. Ia bilang…ia tidak bisa datang karena harus syuting di monas.

Aku tahu dari internet.., Infinite belum pulang. Mereka masih di Jakarta. Itu berarti aku tidak boleh pulang ke Jakarta. Aku akan tetap di Bandung. Tapi.., rasanya bosan juga di Bandung tanpa Ayu. Ayu bilang…ia akan men-stalking Suju sampai Suju pulang ke Korea. Hhhh.., ada-ada saja. Dan tadi malam dengan hebohnya Ayu memperlihatkan fotonya padaku. Foto ia bersama Yesung. Selca.

Sudah ratusan kali Ayu berterima kasih padaku karena memberinya free pass backstage. Dia bahkan ikut makan malam bersama para idol itu, karena ternyata salah satu “orang penting” penyelenggara acara itu adalah nasabahnya.

Triiing. Ada message dari Ayu. Kuduga dia kembali mengucapkan terima kasih. Bukan terima kasih sebenarnya yang kuinginkan dari Ayu. Aku hanya ingin ia memaafkanku. Karena selama kami bersahabat.., aku tidak pernah sekalipun menceritakan tentang penyakitku padanya. Tentang Myungsoo, dan juga tentang Nickhun oppa. Sahabatku itu hanya tahu.., aku adalah gadis mandiri yang perfect dan bahagia. Aku ingin meminta maaf,,, karena telah menunjukkan diriku yang palsu pada sahabatku sendiri.

Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Perut atasku terasa sakit sekali. Sial! Aku lupa meminum obatku pagi ini.

Aku membuka message dari Ayu.

Ayu : I will never ever forgive you, Mia Lee!

Aku tertawa, dan kemudian mengetik balasan.

Aku : Why? Cz I didn’t come to the concert last night with you and met your lovely Yesung Oppa? Hehehe.

Ayu : Jangan bercanda sama gue Mia Lee! Semalam.., saat makan bersama karena undangan nasabah gue…, gue sempat denger pembicaraan penting Nickhun sama L.

Jantungku berdebar kencang. Pesan Ayu mulai masuk lagi,

Ayu : lo tau sendiri kan.., gue lancar bahasa Korea. Jadi gue ngerti apa yang mereka omongin. Why you never told me before? Everything! Gue pikir kita sahabat…, seharusnya gue selama ini tahu. Tapi gue terlalu naïf dan bodoh. Pantesan dulu lo sering menghilang saat liburan, Mi. I didn’t know that you’re sick…

Ya Tuhan.., bagaimana ini? Kalau Ayu tahu.., berarti orang itu juga….

“Mia.” Suara berat dan dalam seseorang terdengar di telingaku. Aku menggelengkan kepalaku. Pasti halusinasi. Aku terlalu merindukan orang itu, hingga kini aku bisa mendengar suaranya di dalam kepalaku.

“Mia Lee.” Kali ini, entah kenapa aku merasa suara itu nyata. Aku menoleh dan melihat seorang pria ber-jaket hitam menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.

Orang-orang mulai mengenali siapa dia. Mereka menunjuk-nunjuknya dan menjepret-jepretkan kamera.

“KYAAAAA!!! Itu kan L Infinite! Ganteng bangeet yaa!!!!” heboh cwek-cewek.

“Pantesan ada gossip dia menghilang dari hotel.., ternyata dia ke sini. KYAAAAA!!!!”

Perlahan.., Myung Soo menghampiriku. Tanpa bisa kubendung lagi, air mataku menerobos keluar, mengalir deras di pipiku.

Myung Soo mengulurkan sebelah tangannya dan memegang pipiku. Hangat.

Aku mengamati wajahnya lekat-lekat. Tidak ada yang berubah darinya. Waktu dan popularitas sama sekali tidak pernah merubah Myung Soo-ku. Dia tetaplah Myung Soo. L. Meski sampai sekarang aku heran mengapa dia terus memakai nama panggung yang diambil dari nama depan marga asliku. Mia Lee. Mia L. Itulah sebabnya saat kuliah dulu…, aku paling benci bila ada yang menyingkat menulis namaku menjadi Mia L. Karena itu hanya mengingatkanku pada L …, pada Myung Soo.

Myungsoo memelukku dengan sangat erat. Aku menangis di pelukannya. Menumpahkan semua kerinduan dan rasa bersalahku. “Mianhae…, mianhae Myungsoo~ah..”

Myung Soo tidak mengatakan apapun. Ia hanya terus memelukku dengan erat.

Setelah beberapa saat, Myungsoo melepaskan pelukannya dan menatapku tajam. “Kau harus terus hidup. Demi aku…” bisikknya. Matanya berkaca-kaca, membuatku ingin menangis lagi.

Aku mengangguk. “Tentu. Aku akan terus hidup.” Kataku.

“Aku akan selalu ada di sisimu, Mia…, jangan takut…”

“Tidak.” Tegasku. Mendorong Myungsoo menjauh.

Aku menggeleng. “Jangan. Kau tidak boleh terus berada di sampingku. Kau harus berjanji satu hal padaku, MyungSoo~ah.., kau harus mewujudkan semua mimpimu. Aku akan menemuimu lagi setelah kau menjadi penyanyi dan aktor yang benar-benar sukses. Aku berjanji, aku akan sembuh. Dan kau pun harus berjanji untuk terus berada di jalanmu sekarang…,jangan pernah berhenti karena aku. Bila kau berhenti.., aku tidak akan pernah menemuimu.”

“Mia~yah..” Myungsoo mengulurkan tangannya.

Aku menepis tangannya. “Sekarang kembali-lah. Pulanglah. Semua orang mengkhawatirkanmu. Aku akan baik-baik saja. Kau bisa pegang janjiku. Aku akan menemuimu lagi setelah aku sembuh.”

Air mata Myungsoo mengalir. Aku tidak sanggup melihatnya menangis. Sebenarnya.., aku tidak ingin ia pergi. Tapi aku tidak boleh egois. Demi Myungsoo…, aku harus kuat.

Aku mengeluarkan ponselku yang berdering. Telepon dari Nickhun oppa.

“Nickhun Oppa..” kataku. “Aku akan ke Amerika. Ya, aku akan berobat di sana. Bisa antar aku? Ya..”

“Aku akan menemanimu.” Kata Myung Soo.

Aku menggeleng. “Aku akan pegang janjimu. Kau juga bisa pegang janjiku. Tidak akan lama Myung Soo~ah…, kau bisa menungguku selama 5 tahun ini, apakah kau tidak bisa menunggu sebentar lagi? Satu tahun? Apakah itu terlalu lama bagimu?”

“Benar. Itu terlalu lama bagiku.” Kata Myungsoo di sela-sela tangisnya. “Satu detik tanpamu terasa lama bagiku, Mia~yah..”

Aku memeluk Myung Soo. Dia menangis keras di pundakku. Aku tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang. “Saranghae, Kim Myung Soo…., aku akan menemuimu lagi nanti.”

==== End of Mia PoV =====

==== Myung Soo / L PoV =====

Bandung, 13 Maret 2016

Aku merapatkan coat hitam panjangku. Tidak biasanya udara Bandung se-dingin ini. Melebihi musim dingin di Korea.

Hari ini adalah hari ulang tahun-ku, tapi aku tidak merasa seperti ulang tahun. Tanggal kelahiranku.., sama dengan tanggal kematian Mia.

Ya, sudah 3 tahun berlalu sejak Mia meninggal.

13 Maret 2013. Mia meninggal saat di operasi.

Dia tidak pernah memenuhi janjinya. Tapi sebagai gentleman.., demi Mia.., aku memenuhi janjiku.

Aku terpuruk. Tentu saja. Tapi aku ingat janjiku pada Mia. Aku akan meraih semua mimpiku. Sekarang.., aku sudah menjadi aktor profesional. Infinite sudah menjadi grup yang sangat populer di seluruh dunia.

Aku memegang janjiku.

Dan kini.., aku ingin Mia mengingat janjinya.

Aku berjongkok. Mengelus pusara di hadapanku. Banyak bunga yang masih segar di sana. Tanda bukan hanya aku saja yang telah mengunjunginya hari ini.

Aku sengaja mengambil penerbangan paling awal dari Seoul ke Jakarta. Mia memang meninggal saat di operasi di Amerika, tapi ia dimakamkan di Bandung, Indonesia. Sesuai keinginan terakhirnya. Hal yang ia katakan pada Nickhun hyung sebelum ia memasuki ruang operasi. Awalnya Nickhun hyung menganggapnya angin lalu, tapi siapa yang menyangka permintaan itu justru menjadi kenyataan beberapa jam kemudian.

Sebisa mungkin aku menahan air mataku yang mendesak ingin keluar. Sebagai gantinya aku tersenyum. “annyeong.” Kataku lembut.

“Hanya kau yang belum mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Aku sudah dewasa kan?” aku tersenyum lagi. Sia-sia saja, air mataku menetes.

“Kapan kau akan menemuiku? Apakah harus aku yang menemuimu?”

Sunyi.

“Kau tahu.., kau itu pembohong! Ayo temui aku! Aku sudah memenuhi semua janjiku padamu.”

Sunyi.

“Keabadian…, seperti apa rasanya keabadian…? Kuharap senang. Kuharap di keabadian sana… kau merasa senang.”

Sunyi.

“Nappeun yeoja! Bagaimana kau bisa memenuhi janjimu, hah?” bentakku sambil berurai air mata.

Gluduk..gluduk…cetaarrr…

Petir membelah angkasa. Hujan mulai turun dengan sangat deras. Membasahi seluruh tubuhku.

Aku tersenyum. “Kau marah padaku karena aku membentakmu?”

Angin bertiup kencang sekali. Petir menyambar-nyambar di angkasa. Awan gelap berkumpul di satu tempat tepat di atasku.

Samar-samar aku mendengar suara Mia. Sangat pelan. Tapi suara itu mampu membuat semua pertahananku runtuh.

Aku memeluk pusara-nya sambil menangis meraung-raung. Mencurahkan segenap kerinduanku pada gadis itu.

“Nado Saranghae, Mia ~ yah…. Nado saranghae…”

=== END ===

Woaaahhh…akhirnya beres juga,,,setengah hari ini ngetik nih FF! Hahaha.

Special for Myung Soo / L birthday.

Saengil chukka hamnida, L ssi ^_^

2 thoughts on “13th March

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s