My Lovely Star

My Lovely Star

Author            :           Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Cast                :           Jung Jin Rae (reader)

Jung Jin Young (B1A4)

Sehun (EXO-K)

Kai (EXO-K)

Baro (B1A4)

Chunji (Teen Top)

Nichkhun (2PM)

Genre            :           Romance, Friendship, Family

Length            :           One Shoot

Disclaimer      :           Cerita ini hanya fan fiksi. Cerita-nya milik author. Pernah di publish di FB dengan  cast yang berbeda.  Jadi dilarang copas sembarangan tanpa izin. I make no money from this. Just have fun as a fan… =) just enjoy the story… =)

Diakhiri di musim panas…, dan sekarang sudah musim panas lagi. Satu tahun telah berlalu, tapi entah kenapa aku masih merasa ia ada di sini. Tersenyum padaku, berbicara padaku, membelai rambut panjangku. Seandainya sekarang aku bisa melihatnya…, bertemu dengannya…, ah, tapi tidak mungkin. Sedang apakah ia sekarang? Apakah ia memikirkanku? Apakah ia bahagia? Rasanya aku ingin siang cepat berlalu dan berganti malam. Karena hanya pada malam hari-lah aku bisa melihatnya. Seperti yang ia janjikan dulu, ia selalu ada di sana setiap kali aku memandang kelam-nya malam, ia menyapaku dengan sinar terang nan lembutnya.

“Nuna…, Nuna! Nuna!! Woy Nuna!!!”Jin Young mengguncang-guncang pundakku sambil menatapku dengan cemas. “Nuna sakit lagi? Pusing?” Jin Young meletakkan tangannya di keningku.

Aku tersadar dan menggeleng lemah. “Aku baik-baik saja. Hehehe. Mianhae. Sudah siap?” tanyaku pada adik sematawayangku itu.

“Kalau nuna pusing, aku saja yang menyetir.” Tawar Jin Young.

“Tidak apa-apa. Biar aku saja. Huh, panas sekali ya! Nanti kita mampir dulu di supermarket dan beli es krim yang banyak ya Jin Young. Kau yang traktir! Kan kau sudah dapat honor. Hehehe…”

Jin Young nyengir lebar. “Oke deh!” dia membentuk huruf “O” dengan jari tangannya. “Makasih yaa Nuna karena sudah mau menjemputku. Hehehe.”

Aku mengacak-acak rambut pirang adikku itu dengan gemas. “Asal jangan lupa saja traktirannya! Hahaha…”

“Siip..siip! Besok malam aku traktir Nuna, Omma, dan Appa makan malam di restoran Perancis!” cerocos Jin Young.

“Pasang sabuk pengamanmu, Jin Young!” aku melotot galak. Jin Young terkekeh, lalu memasang sabuk pengamannya. Aku pun mulai memacu mobilku dengan kecepatan sedang.

Adikku (Jung Jin Young) baru saja mendapat royalti dari lagu yang dia buat. Selain kuliah, Jin Young juga bekerja sebagai penulis dan composer lagu. Jin Young 2 tahun lebih muda dariku. Kami kuliah di universitas yang sama, hanya berbeda jurusan. Jin Young jurusan Teknik Informatika, sedangkan aku kedokteran.

Orang-orang pasti mengira kami kembar. Wajah kami sangat mirip. Ditambah lagi Jin Young jauh lebih tinggi dariku. Malah sempat juga ada yang menyangka aku ini adiknya, dan Jin Young kakaknya. Sambil menyetir, sesekali aku melirik Jin Young yang sedang menyanyikan lagu-lagu Bruno Mars. Hhhhh.., aku sangat beruntung memiliki adik sepertimu, Jin Young. Benar kata orang : kita mungkin melupakan orang-orang yang tertawa bersama kita. Tapi kita tidak akan mungkin melupakan orang-orang yang pernah menangis bersama kita.

Jin Young-lah yang membuatku bangkit lagi. Hidup lagi. Ya, memang benar, ada saatnya aku merasa Jin Young bersikap seperti seorang kakak. Aku tahu aku ini cengeng dan lemah. Jin Young membuatku kuat. Dia meyakinkanku semuanya akan baik-baik saja. Dan benar, semuanya kini baik-baik saja. Masih terasa sakit, tentu saja. Tapi setidaknya kini aku merasa ikhlas. Membiarkan orang itu terbang ke langit yang tertinggi…, bersinar terang di atas sana.

Aku tahu ini hari apa. Aku hanya mencoba pura-pura tidak mengingatnya.

Lima belas menit kemudian, kami pun sampai di depan rumah. Sekarang baru jam 11 siang, ayah dan ibu pasti belum pulang. Walaupun ini adalah hari sabtu, tapi ayah dan ibu kami tetap saja bekerja. Mereka mengelola perusahaan elektronik yang cukup besar di Seoul. Sebuah sedan putih, motor ninja merah, dan motor ninja hijau terparkir di depan rumah kami. Aku tersentak, menyadari siapa yang datang berkunjung ke rumah kami. Apakah mereka juga ingat ini hari apa?

“Kenapa mereka kemari?” tanya Jin Young. Kami pun keluar dari dalam mobil dan masuk ke rumah.

“Jin Young! Jin Rae Nuna!” sapa Baro riang begitu kami masuk ke dalam rumah. Baro, Chunji, dan Kai  duduk di sofa sambil meminum jus yang dibuat oleh Nyonya Choi, pengurus rumah kami.

Jin Young memeluk satu per satu sahabat-sahabatnya saat SMA itu. “Hey, tumben kalian kemari…! Aku punya games baru! Ayo main!” ajak Jin Young riang. Baro, Chunji, dan Kai malah menatapku. Aku membalas tatapan mereka dengan agak canggung.

Kai meletakkan tangannya di pundak Jin Young. “Sekarang tanggal 20.” Kata Kai kalem. Aku mencoba menghindari tatapan anak-anak. Aku tidak mau mereka melihat air mataku yang hampir jatuh.

Jin Young hanya terdiam. Sepertinya dia baru mengingat sesuatu. Aku tidak menyalahkannya tentu saja.

“Aku tahu.” Kata Jin Young. “Kalian pergi saja. Aku dan Nuna ada acara lagi.” Kata Jin Young, defensif.

“Kalian mau ke Gwangjoo?” tanyaku.

“Nuna!” potong Jin Young.

“Tidak apa-apa, Jin Young. Aku ikut. Tentu saja aku harus ikut. Kenapa kalian tidak memberitahuku sejak kemarin? Kalau tahu kalian akan ke sana kan…aku jadi bisa merangkai bunga yang cantik dulu.” Kataku, sedikit terbata-bata. Air mataku mendesak ingin keluar, tapi aku mencoba menahannya. Aku harus menahannya. Aku tidak mau Jin Young melihatku sedih lagi. Kalau dia tahu aku menangis, mungkin dia tidak akan mengizinkanku ikut ke Gwangjoo.

“Kalau begitu…, kita pergi sekarang? Pakai mobilku saja…” kata Chunji.

Aku duduk di belakang bersama Jin Young dan Kai. Chunji menyetir, dan disampingnya Baro.

Selama di perjalanan, kami lebih sering diam. Hanya terdengar alunan musik dari CD player. Baro dan Chunji kadang-kadang memberikan lelucon, tapi itu sama sekali tidak membuatku tertawa. Aku tahu mereka mengkhawatirkanku. Aku hanya menatap jalanan yang padat lewat kaca jendela.

Perjalanan ini membawaku semakin dekat pada raga-nya. Tapi jiwa-nya.., di manakah jiwa-nya berada saat ini? Apakah sekarang ia melihat kami? Apakah ia senang karena kami akan menemui raga-nya yang kini membeku di Gwangjoo? Apakah ia merindukan sahabat-sahabat konyol-nya ini? Dan….apakah ia merindukanku?

Hhhhhh…. sekarang tepat 1 tahun. Aku tidak lupa. Hanya berusaha tidak mengingatnya. Karena mengingatnya hanya membuatku terluka. Tapi melupakannya juga membuatku menderita.

“Nuna membuat bintang lagi?” tanya Jin Young. Aku mengangguk. Aku memang sengaja membawa kertas untuk membuat bintang-bintang kecil. Dulu… orang itu yang mengajariku cara membuat bintang-bintangan dari kertas warna-warni. Sudah ada jutaan bintang kertas kecil yang kubuat selama setahun ini. Aku membawanya sebagaian. Tas selempangku penuh dengan bintang-bintang itu. Dan kini, selama di perjalanan yang menyesakkan ini, aku membuat bintang lagi. Lagi-lagi…dan lagi. Sambil mencoba merangkai kembali kenangan bersama orang itu.

Satu lipatan, dua lipatan, satu persatu air mataku jatuh seiring melipatnya kertas-kertas panjang itu, dan akhirnya membentuk sebuah bintang. Aku tidak peduli tatapan cemas Jin Young dan Kai. Bukan. Aku menangis bukan karena sedih. Aku menangis karena aku bahagia. Beberapa jam lagi aku akan bertemu dengannya. Aku akan memberikan bintang-bintang ini untuknya. Aku akan menabur bintang ini di pembaringannya. Kuharap ia datang ke pusara-nya. Aku ingin bertemu “dengannya”. Dengan jiwa-nya. Bukan hanya dengan tubuh beku-nya.

******

*Flashback*

Awal musim semi satu tahun yang lalu…..

Aku duduk di bangku taman di kampusku, di bawah sebuah pohon besar. Taman ini sering disebut taman cinta, karena saking banyaknya mahasiswa/i yang pacaran di taman ini. Aku duduk sendirian, sambil corat-coret di buku sketsa-ku. Aku memang suka menggambar. Ya..meskipun hasilnya jelek. Hehe.

Sama seperti mahasiswa/i yang lain, aku juga sering menghabiskan waktuku di taman ini, bersama Nichkhun. Tapi itu dulu. Sudah 4 bulan aku duduk di taman ini sendirian. Aku memang masih sedih karena putus dengannya. Kesal karena dia mengkhianatiku. Namun sekaligus merasa beruntung, karena aku tidak perlu menghabiskan waktuku yang berharga bersama playboy macam dia.

Aku merasa kehilangan, tentu saja. Aku merasa terluka, sudah pasti. Aku hanya mencoba menutupinya. Aku tidak mau Jin Young ikut khawatir memikirkan masalah Nuna-nya yang cengeng ini.

“Aaaarrrggghhh!!!!!” aku menjerit begitu merasakan sesuatu yang dingin tiba-tiba menyentuh lengan kiri-ku. Aku menoleh. “Sehun!” bentakku. Oh Sehun tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajahku. Lalu dia menyodorkan segelas cold cappucino padaku. “Untuk Nuna…” katanya, sambil tersenyum manis. Aku tidak akan bisa marah bila melihat angelic smile-nya.

“Gomawo…” kataku.

Sehun duduk di sampingku. “Aku juga punya ini. Untuk Nuna..” lagi-lagi ia tersenyum, sambil menyerahkan sebuah permen loli-pop besar berbentuk bintang, warna-nya pelangi.

“Gomawo…” kataku lagi. “Tidak ada kuliah?” tanyaku. Sehun kuliah di kedokteran, sama sepertiku. Dia adik tingkatku. Aku sudah mengenal Sehun sejak balita. Umurnya 4 tahun lebih muda dariku. Tapi karena dia ikut kelas akselerasi saat sekolah dasar, jadinya dia bisa sekelas dengan Jin Young saat SMP dan SMA.

Sehun menggeleng. “Tidak ada.., nanti sore sih.., jam 3. Masih lama. 30 menit lagi nuna ada kelas kan?”

Aku mengangguk. Aku heran mengapa anak ini bisa hafal jadwalku. Beberapa anak cewek yang melintas di hadapan kami melambai dan tersenyum genit pada Sehun. Sehun balas tersenyum sopan. Sehun memang sangat populer di kampusku. Ya, sejak dulu Sehun dan Jin Young memang populer. Bedanya Jin Young itu agak “nakal”, sedangkan Sehun “baik”. Jin Young – adikku yang sok dewasa itu bahkan lebih berpengalaman soal cinta dibanding aku. Aku sering belajar padanya. Hahaha.

Sehun tidak pernah punya cewek. Jin Young pernah bilang padaku, sebenarnya Sehun naksir padaku. Tapi dulu aku tidak menanggapinya dengan serius.

Aku menatap kedua bola mata Sehun yang bening. Benarkah? Benarkah kamu mencintaiku, Sehun?

Aku menggeleng. Tidak mungkin! Aku ini nuna-nya. Aku akan terlihat seperti tante-tante bagi Sehun. Aku tidak pernah membayangkan pacaran dengan cowok yang lebih muda 4 tahun dariku! Hahaha.

——- ***** ——–

Malam Minggu. Aku, Jin Young, Sehun, Baro, dan Kai datang ke pesta ulang tahun Chunji. Chunji merayakan ulang tahun ke-18 nya di salah satu hotel berbintang 5 di pusat kota Seoul. Diantara geng Jin Young, Chunji memang yang paling makmur.

Aku mengenakan gaun biru muda. Sementara para cowok mengenakan jas rapi. Jin Young dan Kai memakai jas hitam (beda model). Baro memakai jas putih (sedikit non formal). Sedangkan Sehun memakai jas biru muda. Aku heran kenapa anak itu bisa “serasi” denganku malam ini!

Chunji tampak sibuk menyambut tamu undangan. Banyak sekali teman-temannya yang datang. Saudara-saudaranya dari luar Korea pun banyak yang hadir. Kami duduk agak pojok sambil menikmati hidangan. Kai dan Baro sudah menghabiskan banyak sekali makanan. Jin Young yang hobi sekali makan pasta, sudah menghabiskan 5 piring pasta! Aku heran… terbuat dari apa sih perut anak-anak cowok ini! Diantara mereka ber-4, hanya Sehun yang makan-nya “normal” sepertiku. Tapi soal minuman…kami sama-sama tidak normal! Hehehe. Salah satu persamaan antara aku dan Sehun adalah sama-sama pecandu kopi! Kami sudah meminum bergelas-gelas coffee sejak tadi. Bedanya, aku lebih suka cappucino, sedangkan Sehun lebih suka vanilla late.

“Chunji menyuruh kita menyanyi di panggung.” Kata Baro.

“Hah? Kalian saja ah.., suaraku kan jelek.” Kataku.

“Bohong ah! Suara Nuna bagus kok..” kata Kai. Nyengir lebar.

“Tidak ah..kalian saja…”

“Nanti kok Nuna…habis acara games…” kata Jin Young. “Suara Nuna bagus ko.., Nuna kan kakak-ku, pasti bagus dong suaranya, sama sepertiku. Hehehe.”

Aku hanya mendelik sebal pada Jin Young. MC mengoceh, tapi aku tidak terlalu fokus. Mataku baru saja menangkap sosok Nichkhun bersama seorang cewek. Ganti cewek lagi?! Aku mendengus sebal melihat Nichkhun kini bergandengan mesra dengan cewek baru-nya. Oh, aku lupa, Nichkhun kan sepupu jauh-nya Chunji. Jadi tentu saja dia datang ke pesta ini.

Sejak putus denganku, Nichkhun sudah berganti setidaknya dengan 6 orang cewek! (aku tahu dari Chunji). Sekarang aku merasa heran, kenapa bisa dulu aku dan Nichkhun bertahan selama 2 tahun?! 2 tahun pastilah waktu yang sangat lama bagi Nichkhun, mengingat dia adalah seorang cassanova. Kupikir…aku bisa merubahnya. Tapi ternyata tidak. Sudahlah. Lupakan!

Aku membelalak ngeri saat MC yang… well, terkesan banci menghampiri kami. Bukan. Bukan ngeri karena wajah MC itu. MC itu ganteng, meskipun sikapnya kewanita-wanitaan. Aku ngeri pada apa yang baru saja dia katakan!

“Kenapa kalian diam saja? Ayooo…. kalian pasangan yang serasi lhoo malam ini. Baju kalian juga cocok, bo! Hihihi.., ayooo…maju ke atas panggung dan berdansa…,mau diiringi lagu apa? Hip hop? Classic? Trot? Atau dangdut? Hehe..maaf… ai inget lagu favorit ai di negara ibu ai. Hihihi..”

Aku hanya membelalak. Ngeri. Dance???? No Way!!!! Aku menyesal mengapa duduk di samping Sehun! Ya, MC itu pasti mengira kami adalah pasangan. Baju kami kan serasi!

Sehun juga sama bingungnya denganku. Lalu, tanpa kusangka, dia pun berdiri. Orang-orang bertepuk tangan riuh. Aku melotot pada Sehun. Memberi tatapan Sehun-Kubunuh-Kau-Nanti!

“Bolehkah saya menyanyi saja?” tanya Sehun pada MC itu.

MC itu terkekeh. “Oooh..boleh-boleh bo.., silahkan…, ajak juga pacar-nya yaaa…” MC itu mengedipkan matanya dengan genit pada Sehun.

Jin Young tersedak, menahan tawa. Aku tahu apa yang dia pikirkan. Oh, kasihan sekali Sehun digoda oleh om-om banci! Hahaha.

“Hmmm….sebentar..” Sehun menghampiri panggung, berbisik pada pianis yang ada di panggung. Lalu dia menghampiri meja penuh cokelat, meraih 5 buah cokelat berbentuk bintang, kemudian berdiri di hadapanku sambil memegang cokelat-cokelat itu di tangan kanannya, sementara tangan kiri-nya memegang mic.

Mulai terdengar alunan piano yang lembut. Sehun pun mulai menyanyi :

Cry when you want to cry. Don’t purposely hold in your sadness
I’ll embrace you so that you can smile again
When you’re tired, I’ll lend you my shoulder so that you can rest for a bit
I pray no tears in your dreams
I know you’ll fly high in your life
Although this world tries to look at you with a small view
I can confidently say you’re the only one
Find your broken dreams again. Don’t say that you can’t
I will help you to make that dream come true
When you feel like you can’t breathe, close your eyes for a bit and think about your future

I pray no tears in your dreams
I know you’ll fly high in your life
Although this world tries to look at you with a small view
I can confidently say you’re the only one
Uh I’ll protect you and stay by your side as tears flow
Just rest without any worries in my embrace
The sadness formed in your eyes that won’t fall
In your dreams there are rough dark clouds that don’t show but
you smile. Don’t hold back your hurt anymore
Just throw it high into the sky. I want to go towards the end now
Open up the wings that were folded away. Take my hand
Don’t cry again
I pray no tears in your dreams
I know you’ll fly high in your life
Although hearts that changed coldly may not know you,
who is cooler than anyone, stay by my side. You’re the only one
I pray no tears in your dreams
I know you’ll fly high in your life

(B1A4 – Only One. Translation – yeoljjung @ FLIGHTB1A4)

Sehun berlutut kesatria di hadapanku. Layaknya seorang Pangeran yang berlutut di hadapan Putri, sambil memegang cokelat berbentuk bintang, dan tersenyum manis. Orang-orang bertepuk tangan riuh. Banyak juga cewek yang menjerit-jerit. Cowok-cowok bersiul. Chunji juga ikut tertawa dan bertepuk tangan. Heboh sekali! Aku tersenyum. Gaya-nya Sehun sudah seperti penyanyi beken saja! Hahaha.

“Nuna, cepat ambil cokelatnya!” bisik Jin Young di telingaku. Aku menatap Sehun yang masih berlutut dengan sebelah kaki-nya, masih tersenyum, dan masih mengulurkan tangannya padaku (sambil memegang cokelat). Aku pun melangkah, menghampirinya, lalu meraih cokelat-cokelat berbentuk bintang itu. Orang-orang kembali bertepuk tangan dan bersiul-siul. Rasanya aku malu sekali!

Sejak kejadian malam itu, orang-orang menyangka aku dan Sehun jadian. Bahkan Nichkhun-pun sampai menelepon dan mengucapkan selamat padaku! Nichkhun bilang, dia menyesal karena telah mengkhianatiku. Aku bilang aku sudah memaafkannya. Itu saja. Aku tidak pernah berniat kembali ke massa lalu.

Soal Sehun…, sebenarnya kami tidak jadian. Sehun juga tidak pernah berkata dia mencintaiku / menyayangiku. Ya..seperti biasa saja. Sehun setiap hari memberiku hadiah. Sama seperti 12 tahun yang lalu. Sehun kecil…, fans-ku yang selalu memberiku hadiah apapun (asal bentuknya bintang) setiap hari. J

——- ***** ——–

Musim panas….

Kami menghabiskan liburan musim panas di Pulau Jeju, di Villa-nya Chunji. Untung saja Shin Ae (adik perempuannya Kai) juga ikut. Jadi, aku ada teman cewek. Hehehe.

Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Shin Ae naksir Jin Young. Aku senang sekali menggoda adikku itu. Masalahnya, Shin Ae itu masih SMP. =p

Aku sekamar dengan Jin Young, Kai dengan Shin Ae, Baro dengan Sehun, Chunji sendiri. Ini ide-nya Kai. Dia mau sekamar dengan adiknya agar tidak ada sohib-nya yang berani mendekati adiknya. Kai benar-benar sister complex. Ck-ck-ck..

Shin Ae memang sangat cantik dan imut-imut. Chunji dan Baro sering menggodanya. Jadi, aku tidak menyalahkan Kai bila ia ingin menerapkan “pengamanan ekstra” untuk menjaga adik perempuannya itu.

Di kamar….

Jin Young membereskan pakaiannya. Aku tiduran di tempat tidur. Ada 2 buah tempat tidur besar di kamar itu. Ah.., enak sekali Chunji memiliki villa mewah seperti ini. Kami bisa melihat pantai dari jendela kamar kami. Angin bertiup sepoi-sepoi. Hmmm…, rasanya aku ingin bermain-main di pantai.

“Jin Young…, kalau Shin Ae sudah besar nanti, dan dia masih menyukaimu, kau mau menerimanya tidak? Hehehe.” Tanyaku usil. Aku sedang bersemangat menggoda adikku.

Jin Young mendelik padaku. “Hmmm…, bagaimana ya? Aku sih tidak masalah pacaran dengan cewek yang jauh lebih muda dariku. Kalau nuna bagaimana ya?” timpal Jin Young sadis. Aku tahu ke mana arah pembicaraannya. Aku salah! Aku terlalu meremehkan adikku yang licik itu. Dia selalu bisa membalas kata-kataku! Uh!

Aku menatap jendela. Melihat laut lagi. Jin Young menghampiriku, dia duduk di tempat tidurku. “Nuna, aku sangat setuju nuna bersama Sehun.” Kata Jin Young. Aku langsung menatapnya. “Tapiii….”

Jin Young langsung memotong omonganku. “Tidak ada tapi. Dia memang jauh lebih muda dari nuna. Tapi itu tidak masalah kan, nuna? Selama kalian saling mencintai, itu bukan masalah. Aku hanya ingin kakak yang sangat kusayangi, dan sahabat terbaikku bahagia selamanya.” Jin Young tersenyum lembut.

Aku menatapnya. Jujur saja aku terharu dengan kata-katanya. “Gomawo, Jin Young-ah. Tapiii…, entahlah.” Aku mengangkat bahu.

“Sayangi dia selagi masih ada waktu…” kata Jin Young. Matanya menerawang.

“Apa?” tanyaku. Tak jelas.

“Eh.., tidak.., aku hanya sedang menasehati nuna. Begini ya, Nuna. Berdasarkan pengalamanku : sayangilah seseorang dengan sungguh-sungguh selagi kita masih diberi kesempatan untuk menyayanginya. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan dia pergi…”

Aku terbahak-bahak mendengar “pidato” Jin Young barusan. “Huwahahaha.., kau habis menonton drama mellow ya?! Hahaha…”

Jin Young mendelik. “Aku serius, nuna.”

Aku hanya tertawa. Ya, saat itu aku hanya bisa tertawa. Seharusnya aku menuruti kata-kata Jin Young. Mungkin saat itu dia sedang memberiku clue.

——- ***** ——–

Hari ke-2 kami di pulau Jeju….

Chunji mengajak kami menaiki banana boat. Jin Young melarangku naik. Aku juga tidak mau, karena aku takut air. Aku pernah tenggelam di kolam renang saat sekolah dasar, sejak saat itu aku tidak berani berenang apalagi bermain-main di laut. Yah.., kalau main-main pasir di pantai sih berani-berani saja.

Jin Young juga melarang Sehun naik. Sehun hanya tertawa dan mengangguk. “Aku mau main-main saja di pantai. Hahaha.” Ujar Sehun. Aku heran, mengapa Jin Young melarangnya. Dan heran mengapa Sehun menuruti kata-katanya. Seharusnya, saat itu aku peka. Mungkin itu juga salah satu clue yang diberikan Jin Young padaku.

“Aku dan Shin Ae akan memasak saja di rumah.” Kataku.

“Horeeee!!!!!” Baro berseru senang.

“Oke…, kalau kita pulang ke rumah, makanannya sudah siap ya nuna! Hehehe.” Kata Chunji.

“Oke..” kataku, nyengir. Baro, Chunji, Jin Young, dan Kai pun pergi dari villa.

“Nuna, nanti sore datang ke pantai ya! Aku punya kejutan! Hehehehe.” Kata Sehun. “Ke pantai yang di sebelah selatan ya nuna!” Sehun pun melambaikan tangannya sambil tersenyum manis ala Sehun, lalu pergi.

Hah? Aneh-aneh saja si Sehun! Kejutan apa sih?! Mau tak mau aku jadi penasaran juga.

Pukul 3 sore, makanan sudah siap tersaji. Aku, Shin Ae, dan beberapa pengurus villa Chunji – memasak hidangan yang sangat special hari ini. Hehehehe. Jin Young pasti akan ngiler begitu melihat ada lobster pedas manis favoritnya. J

Anak-anak pun tiba di villa. Mereka terlihat senang sekali. “Nuna, aku ketemu bule cantik lho! Hahaha…, tapi…sepertinya si bule suka-nya sama Jin Young!” kata Baro. Aku hanya geleng-geleng kepala.

“Mana Sehun?” tanya Jin Young padaku.

Aku menggeleng. “Mungkin masih di pantai. Dia menyuruhku datang ke pantai nanti sore, jam 4-an mungkin.”

Jin Young terlihat sedikit cemas. Berkali-kali dia menelepon ke ponsel Sehun. “Tidak diangkat terus.” Kata Jin Young. Seharusnya saat itu aku juga curiga, karena saat itu Jin Young terlihat terlalu cemas berlebihan.

“Nanti juga dia pulang, dia kan bukan anak kecil lagi! Mungkin dia sedang main-main sama bule. Hehe. Ayo makan!” kata Baro. Aku melirik Jin Young, dia masih terlihat gelisah.

Suasana ramai sekali. Anak-anak bercanda dan tertawa-tawa riang. Hanya Jin Young yang terlihat murung. “Aku akan menyusulnya.” Kataku. Anak-anak menatapku. “Sehun bilang….dia punya kejutan untukku. Mungkin dia menungguku. Tunggu sebentar ya!” kataku. Aku pun mengambil topi, lalu segera berlari menyusuri pantai, agak jauh dari villa. Entah karena terpengaruh Jin Young, atau entah karena apa. Yang jelas saat itu aku merasa sangat gelisah. Aku benar-benar khawatir pada Sehun! Bukan karena takut dia diculik. Entahlah…, yang kutahu, saat itu aku benar-benar gelisah.

Setelah menyusuri pantai cukup jauh, akhirnya aku menemukan Sehun! Dia tertidur telentang di pasir, di bawah pohon. Agak jauh dari laut. Di sebelahnya ada sebuah bintang besar yang terbuat dari pasir. Aku tersenyum. Aku berjalan hati-hati, takut Sehun terbangun. Di sebelah bintang itu, ada tulisan di pasir : Ini bintang untuk Nuna hari ini. Aku memang tidak pernah berkata langsung “Aku mencintai Nuna”. Tapi lewat bintang-bintang yang kuberikan, aku menyampaikan perasaanku pada nuna. Nuna ingat, kapan pertama kali aku memberikan bintang untuk nuna? Aku akan selalu menjadi bintang yang paling terang untuk nuna di langit malam….

Aku tersenyum membaca tulisan di pasir yang sudah agak memudar itu. Tidak menyangka, Sehun bisa bersikap begitu romantis! Aku menatap Sehun yang tertidur pulas, damai, tenang…

Apa aku harus membangunkannya? Tapi aku harus menjawab apa? Aku benar-benar bingung. Baru kali ini Sehun terang-terangan mengungkapkan perasaannya padaku. Aku bingung harus menjawab apa nanti kalau dia bangun!

“Nunaaaaa!!!!!!” Jin Young berlari menghampiriku.

“Eh.., Jin Young. Jangan berisik! Nanti Sehun bangun. Lihat, dia membuat ini untukku. Apa yang harus kukatakan padanya Jin Young? Aku malu….”

“Sehun!!!!!” Jin Young mengabaikanku. Dia malah menghampiri Sehun dan mengguncang-guncang tubuh Sehun. “Oh Sehun!!! Bangun!!!!” Jin Young terus menggoncang-goncang bahu Sehun. Tapi Sehun tidak bangun-bangun. “Sehuuun!!!! BANGUN BODOH!!!!!!” Pekik Jin Young. Air matanya mengalir deras. Aku menutup mulutku. Air mataku menetes. Tidak…., kumohon…, jangan bilang ini semua nyata….

“BANGUUUUUNNN SEHUN BODOH!!!!!! AKU BILANG BANGUUUUNNN!!!!!!” Jin Young berteriak sambil menangis. Saat itu rasanya sekelilingku menjadi dingin. Beku. Aku merasa beku di musim panas itu. Aku tidak kuat lagi. Segalanya terasa gelap.

* end of flashback*

——- ***** ——–

Kembali ke masa sekarang…..

Aku berlutut di hadapan pusara Sehun. Satu tahun tepat telah berlalu. Sehun yang tertidur damai di pantai, kini ia pun tertidur damai di pusara ini. Aku berdoa, lalu menaburkan bintang-bintang kertas kecil di atas pusara Sehun. Aku tidak bisa menahan air mataku yang mendesak keluar.

Aku bisa mendengar isakkan Jin Young, Baro, Chunji, dan Kai yang berdiri di belakangku. Baik dulu maupun sekarang, aku tidak pernah menyalahkan adikku karena tidak pernah memberitahu kami soal penyakit yang diderita Sehun.

Sehun menderita kanker hati. Tidak ada yang tahu soal ini selain Jin Young. Jin Young sudah tahu hal ini sejak SMA. Sehun hanya berbagi rahasia pada Jin Young. Karena kuliah di kedokteran, Sehun jadi lebih memahami dirinya sendiri. Kondisi tubuhnya. Jin Young tahu kondisi Sehun semakin hari semakin memburuk. Kini aku mengerti mengapa dulu Jin Young menasehatiku untuk mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh selagi masih ada kesempatan.

Sehun…, aku sangat mencintaimu…menyanyangimu. Seandainya saat ini kamu bisa mendengar isi hatiku. Melihatku. Tersenyum padaku…

Oh ya, tentu saja aku ingat kapan pertama kali Sehun memberikan bintang untukku. Saat dia berumur 4 tahun! Saat itu dia memberikan sebuah gambar bintang yang dia lukis di buku gambarnya dan diwarnai corat-coret dengan crayon-nya. Mulai saat itu, setiap hari, Sehun selalu memberiku hadiah bintang. Apapun yang berbentuk bintang. Jenis hadiahnya sering sama, tapi dengan warna yang berbeda, atau ukuran yang beda, atau rasa yang beda (bila makanan).

Sudah selama itukah? Selama itukah kamu mencintaiku, Sehun?

Angin berhembus cukup kencang. Membuat rambut panjangku sedikit acak-acakan. Tiba-tiba aku merasakan belaian di kepalaku. Aku membelalak, tidak percaya pada apa yang kulihat saat ini. Di sini, di sampingku, Sehun berdiri sambil tersenyum manis ala Sehun. Dia membelai rambutku. Merapikannya. Lalu dia berkata : “Ya, selama itu nuna. Aku akan terus menjadi bintangmu. Aku selalu ada di dalam dirimu, nuna. Kumohon jangan menangis lagi…, aku akan selalu ada di hatimu.” Sehun tersenyum lembut.

Aku tersenyum dan mengangguk padanya. Sehun ikut tersenyum.

“Nuna tersenyum pada siapa?” tanya Jin Young. Dia tidak melihat apapun di sampingku.

Sehun membelai kepalaku lagi, lalu pergi. Pergi entah ke mana. Mungkin ke dunia yang lain, yang belum bisa kusentuh untuk saat ini. Tunggulah aku, Sehun. Suatu hari nanti…aku juga pasti bisa pergi ke tempat yang sama denganmu. Tempat yang indah. Untuk saat ini.., teruslah bersinar di langit malam, seperti yang kau janjikan.

**** Finish *****

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s