Show Me The Destiny

Image

Title : Show Me The Destiny

Length : oneshoot

Author : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Main Cast : Choi Min Ah (OC), Lee Tae Min (SHINee)

Support cast : Choi Jong Hun (FT Island), Lee HongKi (FT Island)

Melihatmu…hanya membuatku mengingat kembali orang itu.

Senyumanmu…. mirip.

Tatapan mata lembutmu… sama.

Wajahmu… serupa.

Melihatmu… hanya membuka kembali lembaran lama.

Merobek kembali luka yang masih menganga.

Perih.

Tentu saja luka itu masih terasa.

Entah sampai kapan hati ini akan berdusta.

Apakah harus menunggu sampai hati ini mati dan membusuk?

Apakah harus menunggu sampai jiwa ini meninggalkan raga yang fana?

Menyusul dia yang telah pergi….

Akankah kamu terluka?

Seoul. Rabu, minggu pertama September 2010.

Aku berlari tergesa-gesa menuju tempatku bekerja sambilan. Sebuah restoran Jepang yang terletak tak jauh dari Universitas Seoul. Restoran ini buka pukul 8 pagi. Aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Ya Tuhan! Aku sudah terlambat 10 menit! Entah “pidato” macam apa yang akan kuterima dari bos-ku.

Akhirnya aku sampai. Napasku terengah-engah. Keringat bercucuran dari dahiku. Kaus biru-ku basah. Aku merapikan poni dan rambut ikal panjangku yang dikepang.

“Ohayou…, maaf saya datang terlambat.” Aku membungkukkan badanku dalam-dalam. Semua karyawan dan tentu saja bos kami (Mr. Ogawa) menatapku. Setiap pagi, sebelum restoran buka, kami memang selalu berkumpul untuk melakukan evaluasi dan pemberian motivasi dari Mr.Ogawa.

Mr.Ogawa menghampiriku, sambil menatapku ia tersenyum dan berkata, “Segera ganti pakaianmu. Lakukan yang terbaik untuk hari ini. Ganbatte!” Pria setengah baya itu pergi begitu saja. Aku hanya bisa melongo. Tumben sekali hari ini Mr.Ogawa bersikap sangat baik! Aku heran karena tidak mendapat hukuman pekerjaan tambahan ataupun potongan gaji.

“Hhhhh….” aku menghela napas panjang, bersyukur. Kemudian segera berlari ke kamar mandi untuk mengganti kaus biru dan celana jins belel-ku menjadi seragam pelayan ala lolita.

Aku bekerja setiap hari Selasa dan Rabu. Karena hanya pada hari-hari itulah aku tidak memiliki jadwal kuliah. Hari minggu adalah “waktu keluarga”. Ayah, ibu, dan kakak laki-lakiku tidak akan mengizinkanku bekerja pada hari minggu.

“Choi Min Ah! Kenapa kau terlambat?” tanya Kim Mi Young. Sama sepertiku, Mi Young juga bekerja sambilan di restoran ini. Dia kuliah di universitas yang sama denganku. Bedanya, aku jurusan Hukum, sementara Mi Young sastra.

Aku menatap gadis cantik yang lebih tinggi 8 cm dariku itu. Aku memang mungil. Tinggiku hanya 163 cm. “Semalam aku begadang mengerjakan tugas.., jadinya bangun telat deh..”

Mi Young menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dasar mahasiswi! Sukanya SKS alias sistem kebut semalam. Sama sepertiku. Hehehe.” Mi Young mengedipkan sebelah matanya. “Oh ya, kau beruntung karena hari ini suasana hati bos sedang sangat bagus. Persiapkan dirimu, Min Ah!”

“Memangnya ada apa?” tanyaku penasaran. Dua orang mahasiswa baru saja masuk ke dalam restoran. Restoran ini memang sangat digemari anak-anak kuliahan karena harganya yang sangat “merakyat”. Mi Young menahanku. Padahal kan seharusnya aku berdiri di dekat pintu dan menyambut tamu.

“Nanti siang bakal ada acara reality show di restoran ini. Daaan.., bintang tamunya adalaaah…, coba tebak! Salah satu boyband favoritku! Hehehe.”

“2PM? Suju? Beast? MBLAQ? Duuuh.., kau kan suka semua boysband! Sudah ya! Aku harus bekerja. Kalau tidak, nanti bos ngomel-ngomel.” Aku pun berbalik. Ketika hendak melangkah, Mi Young berkata. “SHINee!!!! Nanti siang SHINee akan syuting reality show di sini! Persiapkan dirimu, Min Ah! Siapa tau kita bisa ikutan nongol di TV. Hehehe.” Mi Young berkata dengan ceria dan penuh semangat.

Aku membeku. SHINee??? Ya.., sepertinya aku harus mempersiapkan diriku. Siapkah aku..? Hatiku? Siapkah aku bertemu orang itu? Tak terasa mataku memanas. Sebelum air mataku jatuh, cepat-cepat aku meninggalkan Mi Young.

Pukul 2 siang….

Banyak sekali orang yang berkumpul di depan restoran. Sepertinya para fans SHINee. Mereka membawa poster, foto, dan tulisan-tulisan nama member SHINee. Restoran untuk sementara ditutup bagi pelanggan lain. Kini yang berada di restoran hanyalah SHINee, para kru sebuah acara reality show, beberapa pelayan restoran, dan Mr.Ogawa. Aku bersembunyi di dapur, di dekat lemari pendingin.

“Min Ah!” seseorang menepuk pundakku. Aku terlonjak kaget. Menatap Mi Young dengan kesal.

“Ayo kita keluar! Bos menyuruh kita berdiri di dekat pintu masuk.”

Aku menggeleng. “Kau saja! Oh ya, ajak saja Eun Hye, dia pasti senang.”

Mi Young menatapku dengan tatapan aneh. “Kau kenapa sih? Sakit? Mukamu pucat loh..”

Aku mengangguk. “Aku pusing dan agak mual.” Kataku berbohong.

Mi Young menyentuh dahiku dengan telapak tangannya. “Tidak panas. Ya sudah, kau istirahat saja di sini. Aku keluar dulu ya! Kyaaaaa….senangnya bisa ketemu Key!!!!” pekik Mi Young. Lalu dia pun pergi sambil melambaikan tangannya riang.

Aku terduduk lemas di lantai. Beberapa koki menatapku. Aku hanya tersenyum simpul. Koki-koki itu sibuk mengintip dari balik kaca dapur. Hhhh.., sepertinya hanya aku yang tidak ingin terlihat sekarang ini.

“Permisi…, apakah ada yang bisa membuatkan kami takoyaki?” ujar sebuah suara. Beberapa koki cewek ribut. Hanya koki-koki cowok yang bisa bersikap tenang. Karena penasaran, aku menoleh. Dan di sanalah aku melihatnya. Ia berdiri di ambang pintu dapur. Rambutnya panjang dan berwarna pirang. Ia memakai baju yang sama persis dengan yang kulihat di MV “Lucifer”. Senyuman itu…terasa tidak asing. Wajah itu…kenapa jadi begitu mirip dengan orang yang sangat kurindukan?

Kedua mata orang itu membelalak lebar. Ia segera menghampiri aku yang masih terduduk di lantai, agak jauh dari pintu dapur. “Nuna????” ujar orang itu. “Min Ah Nuna kan????” tanyanya riang.

‘Tolong….kumohon jangan tersenyum seperti itu.’ kataku dalam hati. Aku memberanikan diri menatap kedua matanya yang bening. “Tae Min…” kataku pelan.

“Bagaimana kabarmu Nuna? Sudah 4 tahun kita tidak bertemu. Aku rindu Nuna!!!!!” Tae Min memelukku tiba-tiba. Aku tersentak. Aku bisa merasakan bahu kiriku hangat dan basah. Tae Min menangis?

“Aku kangen sekali padamu Nuna.., kupikir aku tidak bisa bertemu lagi denganmu..” ujar Tae Min di sela-sela tangisannya.

Aku hanya bisa terdiam. Air mataku jatuh dengan deras. Tae Min, mengapa sekarang wajahmu begitu mirip dengan almarhum kakakmu? Mengapa sekarang aku merasa kakakmu lah yang memelukku? Mengapa tadi aku sempat berpikir kakakmu lah yang tersenyum padaku? Berbicara padaku? Ah.., aku benar-benar merindukannya. Aku sangat merindukan kakakmu, Tae Min.

******

*flashback*

“Oppa!!! Jemput aku! Aku malu naik bus dengan dandanan aneh seperti ini!” keluhku. Rambutku yang ikal diberi pita warna-warni seperti pelangi. Kaus kakiku beda warna kiri dan kanan-nya. Sepatuku juga berbeda kiri dan kanan. Tas-ku terbuat dari karung, dan aku memakai kalung yang terbuat dari tali jemuran. Benar-benar kacau! 

 

Aku bisa mendengar Lee Tae Woo Oppa tertawa keras lewat ponselku. “Tidak apa-apa, Min Ah. Namanya juga sedang masa orientasi siswa. Nikmatilah masa-masa kelas 1 Senior High School-mu..hahaha. Kalau kau sudah kelas 3 sepertiku, nanti kau pasti kangen masa-masa sekarang ini.”

 

“Oppaaaaa….” rengekku.

 

“Oke..oke.., aku jemput sekarang. Tunggu di depan gerbang sekolahmu ya.”

 

“Ne, Oppa. Gomawo. Saranghae..” aku menutup ponselku. Tersenyum bahagia. Sejak dulu aku selalu bisa mengandalkan Lee Tae Woo, sahabat sekaligus pacarku tersayang.

 

Sudah satu jam aku menunggu Tae Woo Oppa. Tapi ninja merah-nya belum juga muncul. Tumben sekali Tae Woo Oppa datang telat. Biasanya dia selalu datang cepat sekali, mengendarai motor-nya dengan kecepatan super, seperti pembalap professional.

 

Dua jam berlalu. Aku mulai kesal. Sejak tadi aku berusaha menghubungi ponselnya, tapi tidak aktif. Sambil menahan air mata yang hampir jatuh, aku pun berjalan gontai menuju halte bus yang cukup jauh dari sekolahku. Jalanan di dekat halte terlihat macet. Banyak orang yang berkerumun. Karena penasaran, aku pun menghampiri kerumunan itu.

 

Aku berjalan perlahan. Tercium bau amis. Ya Tuhan! Sepertinya telah terjadi kecelakaan! Banyak darah berceceran di jalanan. “Katanya motor itu tertabrak truk besar. Pengemudinya meninggal seketika. Dia sudah dibawa ke rumah sakit.” Kata orang di depanku. “Kasihan sekali ya. Lihat! Motornya saja sampai rusak seperti itu!” timpal orang di sampingnya. Aku maju ke depan. Mataku membelalak melihat plat nomor motor yang tergeletak itu. “TAE WOO OPPPPAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” jeritku sambil berurai air mata. Kemudian gelap.

*end of flashback*

“TAE WOO OPPPPAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” aku terbangun. Napasku terengah-engah. Keringat dingin bercucuran di keningku. Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Lagi-lagi aku memimpikan masa lalu. Mataku basah. Perasaanku campur aduk. Aku rindu Tae Woo Oppa. Aku sangat mencintainya. Aku sangat membenci diriku. Aku benci tingkah manja-ku. Seandainya dulu aku tidak meminta Oppa menjemputku. Seandainya 4 tahun yang lalu aku bisa bersikap mandiri, mungkin Oppa tidak akan mengalami kecelakaan itu. Mungkin Oppa tidak akan pergi dari dunia ini.

Ya Tuhan…, mengapa kenangan itu masih terekam jelas di otakku?? Apakah aku harus selalu hidup di massa lalu? Lantas apa artinya aku mengikuti terapi psikologis selama ini bila ternyata aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri? Sama seperti 4 tahun yang lalu.

*******

Aku merasa kepalaku di-elus-elus. Aku menggeliat, dan membuka mataku perlahan. Kakak laki-lakiku, Choi Jong Hun, tersenyum lembut. “Putri tidur, ayo bangun.., temani kakakmu ini jalan-jalan. Masa setelah 3 tahun lebih tinggal di London, lalu sekarang sibuk kuliah dan kerja sambilan, kau jadi melupakan kakakmu? Masa kau tidak punya waktu untukku? Ini kan hari minggu. Kau mau tidur terus seharian?” cerocos Jong Hun. Aku duduk dan langsung memeluk kakakku itu. “Gomawo, Oppa…”

“Untuk?”

“Untuk selalu ada di sisiku. Untuk selalu mendukungku. Untuk…semuanya.”

Jong Hun tersenyum. “Putri tidur…kau akan terlihat jauh lebih cantik bila sudah mandi. Ayoooo mandi!!!!!!” Jong Hun menarik tanganku. Aku pun turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi dengan gontai. “Mandinya jangan lama-lama!!!! Hari ini kita wisata kuliner bersama Hong Ki! Katanya dia kangen padamu!” teriak Jong Hun. “Iyaaaa Oppa bawel!!!!” aku balas berteriak dari dalam kamar mandi.

Aku menatap cermin. Choi Jong Hun versi cewek balas menatapku. Aku nyengir. Bersyukur karena dulu aku tidak berada di Korea saat FT Island sedang booming. Untunglah di universitas sekarang ini hanya sedikit orang yang mengetahui fakta bahwa aku adalah adik kandungnya Choi Jong Hun FT Island. Kalau banyak yang tahu bisa repot! Ternyata.., aku memang sangat mirip dengan kakakku. Tae Min juga. Aku baru menyadari…., ternyata sekarang dia benar-benar mirip Tae Woo Oppa.

*******

Aku, Jong Hun, dan Hong Ki sudah menjajal banyak sekali pusat jajanan hari ini. Mulai dari makanan Perancis, China, Korea, dan Thailand. Rasanya perutku mau meledak saking kenyangnya! Dan sekarang… Hong Ki malah mengusulkan untuk makan okonomiyaki dan ramen di restoran tempatku bekerja.

“No way!!!! Perutku udah buncit gini. Lagian aku males kalau ke sana pasti nanti teman-temanku pada heboh! Tadi aja udah heboh sama fans-fans kalian! Meskipun kalian nyamar, nggak mempan tau! Asal tau aja, di restoran tempat aku kerja sambilan, ada Kim Mi Young. Dia itu fans fanatik idol-idol Korea!”

“Wah.., bagus dong! Dia pasti nge fans aku kan?! Hahaha.” Hong Ki terbahak-bahak.

Aku mendelik sebal pada Hong Ki. “Masalahnyaaa…kalau Mi Young tau aku itu adiknya Jong Hun, dan kenal kamuuuuuu Hong Ki Oppa.., hidup aku nggak bakal tenang lagi!” seruku kesal. Hong Ki hanya terbahak-bahak. Jong Hun juga malah ikut tertawa. Sama sekali tidak membantu!

Akhirnya, setelah kalah “berdebat”, kami pun memutuskan untuk pergi ke restoran Jepang tempatku bekerja. Aku berdoa semoga hari ini Mi Young dan Eun Hye tidak masuk kerja. Untungnya, do’a ku itu terkabul. Tapi masalahnya, sejak pertama kali masuk ke restoran, sudah banyak pengunjung yang memperhatikan kami. “Turunkan topi kalian!” bisikku. Hong Ki menurut. Dia menurunkan topinya, jadi semakin menutupi wajah. Jong Hun membenarkan letak kacamata hitam-nya. Kami naik ke lantai 2. Syukurlah, di lantai 2 hanya ada 5 orang pengunjung paruh baya. Kami pun duduk di pojok.

“Min Ah!!!” Mr.Ogawa menghampiriku.

“Selamat sore, Mr.Ogawa.” sapaku sopan sambil tersenyum.

Mr.Ogawa menatap sekilas Jong Hun dan Hong Ki, kemudian menatapku lagi. “Kau mengganti nomor ponselmu, Min Ah?”

“Aahhh.., benar bos. Maaf saya lupa memberitahu bos. Baru saja saya ganti nomornya beberapa hari yang lalu.”

Mr.Ogawa menatapku tajam selama beberapa saat, kemudian tatapannya jadi melembut. “Tae Min selalu datang kemari sejak acara syuting reality show itu.”

Jong Hun langsung menatapku. “Tae Min?” gumamnya.

“Dia menanyakan nomor ponsel dan alamat rumahmu. Oh ya, dia juga menitipkan ini padaku.” Mr.Ogawa memberikan sebuah kotak bersampul Winnie The Pooh padaku. Perlahan aku membukanya, lalu mengeluarkan sebuah buku harian dengan gambar Rabbit. Aku pun mulai membaca.

Halaman pertama berisi fotoku saat berumur 7 tahun. Tae Min 5 tahun. Dan Tae Woo Oppa 9 tahun. Aku dan Tae Woo Oppa memakai kostum harimau, sementara Tae Min memakai kostum kelinci. Di bawah foto itu terdapat tulisan : ‘Saat merayakan ulang tahunku yang ke-5. Saat itu aku berharap, aku juga memakai kostum harimau.  ‘

 

Aku tersenyum, lalu membuka halaman berikutnya. Aku memakai gaun putih cantik. Tae Woo Oppa memakai baju Pangeran. Aku ingat! Itu foto saat aku bermain drama di sekolah dasar. Saat itu aku senang sekali karena Tae Woo Oppa berperan sebagai Pangeran. Di bawah foto itu terdapat tulisan :‘Min Ah nuna cantik sekali menjadi putri. Sangat serasi dengan Tae Woo hyung. Saat itu aku berharap menjadi ksatria-nya Nuna. Faktanya : aku hanya jadi penonton. L . Tapi aku senang karena saat itu Nuna terlihat sangat bahagia. ^^.

 

Aku membaca setiap halaman di buku itu. Ada 9 halaman dan 9 foto. Mataku memanas saat menatap halaman ke-7. Foto close-up aku dan Tae Woo Oppa. Di bawah foto itu ada tulisan : ‘Min Ah Nuna saat pertama kali pacaran dengan hyung. Hehehe. Saat itu aku sangat senang, sekaligus patah hati’.

Halaman ke-8 : Fotoku saat menaiki ayunan sambil memakan es krim. Wajahku sembab karena air mata. Di foto itu aku menjulurkan lidah. Kedua tanganku memegang es krim. ‘Perang Dunia antara Nuna dan Hyung. Ksatria Tae Min menghibur Nuna dengan membelikan Nuna es krim vanilla.’

Halaman terakhir, foto terakhir. Fotoku saat memakai seragam senior high school. Aku terlihat sangat bahagia di foto itu. Di samping kiriku, Tae Woo Oppa merangkulku. Dia juga memakai seragam. Di samping kananku, Tae Min memakai seragam junior high school-nya sambil nyengir lucu. ‘Saat ini aku memang hanya siswa junior high. Aku tidak yakin apa itu cinta. Hahaha. Tapi yang aku tahu pasti saat ini adalah aku sangat mencintai hyung dan nuna. J

 

Halaman berikutnya, tidak ada foto, hanya ada tulisan :

Dear Min Ah nuna,

Kenanganku tentangmu hanya sampai di situ. 4 tahun yang lalu… nuna menghilang tanpa kabar. Aku sangat sedih karena nuna meninggalkanku. Jong Hun hyung juga tidak mau memberitahuku di mana nuna berada.

 

Nuna tahu mengapa aku hanya memasukkan sedikit foto ke dalam buku ini? Dan kenapa hanya ada sedikit tulisan? Itu karena terlalu banyak foto yang terekam dalam otakku yang kecil ini. Banyak juga yang ingin kutulis, hingga rasanya tulisanku akan melebihi novel Harry Potter kesukaan nuna. Hahaha.

 

Mengapa nuna tidak pernah menghubungiku? Apakah nuna selama ini tidak tahu? Aku sudah berhasil mewujudkan salah satu mimpiku. ^^ . Sekarang aku sudah menjadi penyanyi seperti yang selama ini kuinginkan. 

 

Nuna…, bukan hanya nuna yang merasa sedih. Aku juga. Bukan hanya nuna yang merasa kehilangan. Aku juga. Aku lebih kehilangan hyung. Aku sudah bersamanya bahkan semenjak aku masih berada di dalam kandungan ibuku. Jangan pernah menyalahkan diri nuna lagi. Dan jangan pernah menyalahkan Tuhan.

 

Nuna percaya takdir, bukan? Takdir itu memang sering terasa menyakitkan. Tapi kadang takdir membawa kita ke tempat yang “terbaik” menurut takdir. Tuhan membimbing kita ke jalan yang terbaik. Aku percaya, saat ini syurga lah yang terbaik untuk hyung. Dan saat ini, di sinilah tempat yang terbaik untuk nuna.

 

Nuna, aku akan selalu menjadi ksatria nuna. Aku akan terus melindungimu sampai kau menemukan Pangeran-mu. Hyung pangeran masa lalumu, nuna. Aku percaya, suatu hari nanti, nuna akan bertemu dengan pangeran yang lebih baik dari hyung.

 

Nuna, izinkan aku mengisi memori masa depanku dengan kenangan-kenangan tentang nuna. Aku akan selalu menjadi adik kecil nuna, seperti yang nuna inginkan. Aku ingin nuna tersenyum bahagia lagi seperti dulu. Aku ingin buku ini nantinya dipenuhi dengan foto-foto bahagia nuna.

 

Aku selalu menyayangimu, Nuna. Baik dulu maupun sekarang. Bahkan ketika 4 tahun nuna menghilang, otak ini terus memutar memori yang dulu. Aku senang, karena sekarang aku bisa menambahkan memori baru tentang-mu.

 

With Love,

Your Knight,

Lee Tae Min

 

Aku menutup buku itu. Air mataku berurai. Jong Hun merangkul pundakku. Hong Ki menggenggam tanganku lembut. Benar. Masih banyak halaman kosong di buku ini. Sama seperti hidupku. Masih banyak halaman kosong di dalam buku perjalanan hidupku yang harus ku-isi. Banyak pilihan di depan sana. Takdir akan membimbingku ke “jalan yang semestinya.”

****

Pertengahan Oktober 2010….

Aku melihat Tae Min di salah satu acara musik di stasiun TV. Dia dan grup-nya (SHINee) membawakan sebuah lagu berjudul “Hello”. Tae Min terlihat lebih fresh dengan rambut pirangnya yang pendek dan agak ikal. Aku tersenyum sambil menatap layar televisi. Aku juga ingin mengisi lembaran buku kehidupanku denganmu, Tae Min. Dengan-mu. Bukan dengan bayangan kakak-mu.

Ponselku bergetar. Ada pesan dari Tae Min : Aku akan menjadi namja idaman nuna. Tunggu aku nuna. Tunggu aku berubah menjadi seorang “Pangeran”.

*** Finish *****

Written By : Azumi Aozora

4 thoughts on “Show Me The Destiny

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s