I Don’t Know What I Can Save You From (Chapter 1)

Title               : I Don’t Know What I Can Save You From

Author           : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Genre             : friendship, romance, family

Length           : series

Cast                : Oh Se Hun (EXO-K), Luhan (EXO-M), Carina Pettyfer (OC), and the other EXO member

Disclaimer    : This is just fanfiction. I make no money from this. Don’t share this FF without my permission. The plot is mine. This is the remake of my fanfic titled “The Fifth Season” that was posted on my livejournal.

Enjoy the story.., and don’t forget to give me any comment =)

–       Chapter 1 –

@Seoul, Korea Selatan

Aku baru saja berjalan sekitar 5 meter dari apartemen-ku, tapi sudah merasa tidak aman. Bukan.., bukan rasa tidak aman seperti yang kurasakan dulu, saat banyak sekali stalker di sekitarku. Cowok-cowok aneh yang pantang menyerah mendekatiku sehingga mereka jadi tukang stalker. Benar-benar mengerikan kalau harus mengingat kejadian dulu itu. Baik saat aku tinggal di Belanda maupun di Jepang.

Aku semakin mempercepat langkahku, mengabaikan orang-orang yang melihat ke arahku. Hanya melihat dan menunjuk-nunjuk. Hhhh.., syukurlah. Setidaknya kali ini tidak akan separah dulu. Mungkin. Yah..kuharap begitu. Karena kini kasusnya berbeda, dan tidak ada stalker. Setidaknya mereka bukan Stalker-ku. Mereka hanya kebetulan “tau” aku.

Aku semakin mempercepat langkahku, mengabaikan tatapan penasaran orang-orang. Sial! Seharusnya aku mengikuti saran sepupuku untuk “menyamar”.

Tiba-tiba saja sebuah mobil sport hitam berhenti di dekatku. Aku tersentak. Jelas tahu siapa pemilik mobil mewah itu. Orang-orang yang tadi melihatku jadi semakin heboh karena kini si pemilik mobil sport hitam itu keluar dari dalam mobilnya. Mulutku menganga lebar. Cowok itu malah nyengir lebar tanpa dosa.

“KYAAAAA!!! Oh Se Huuuunnnn!!!!” seru cewek-cewek, mulai menjepret-jepretkan kamera ponsel mereka ke arah kami. Cowok di hadapanku itu tersenyum sambil ber-pose manis di depan kamera.

“Eh lihat.., itu cewek-nya Se Hun kan?” kata seorang gadis seumuranku. “Pantas saja aku seperti pernah lihat wajahnya.” Kata cewek itu sambil menatapku.

“You ruin my morning, Hun!” geramku.

“Ayo.., aku antar.” Cowok itu menarik tanganku dan mendorongku masuk ke dalam mobilnya. Para fans masih menjerit-jerit dan melambaikan tangan mereka. Sehun balas melambai ramah.

“Besok pasti wajahku muncul lagi di berbagai tabloid, dan beberapa menit lagi pasti fotoku terpampang di internet.” Keluhku, sambil menatap cowok berkulit se-putih susu yang duduk di sampingku.

“Bukankah itu tujuan utama kita? Agar semua orang tahu kita adalah sepasang kekasih?” Tanya cowok itu cuek sambil menatapku.

“JANGAN MENGALIHKAN MATAMU SAAT MENGEMUDI!!!” Jeritku. “Are you crazy, Hun? I don’t wanna die now!”

Sehun malah terbahak-bahak. “Easy, Rin. I’m a professional driver.” Sehun mengedipkan sebelah matanya, kemudian kembali fokus mengemudi.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Kamu terlalu berlebihan, Hun. Semua orang sudah tahu hubungan kita. Jadi, tidak perlu show off terus-menerus. I’m sick of it!” tukasku kesal.

Sehun tersenyum lebar, sama sekali tidak peduli perasaanku. “Bahasa Korea-mu sudah sangat bagus, Carina.”

“Don’t change topic, Hun!” kataku. Kesal.

“Oke..oke.., mian..” Sehun nyengir jail.

Hhhhh…, benar-benar memerlukan kesabaran ekstra bila menghadapi makhluk yang satu ini!

“Sudah kubilang kan.., kau sebaiknya menyamar saat pergi keluar. Kacamata kurasa cukup menyamarkan wajah-mu…” Sehun melirikku sekilas, kemudian cepat-cepat kembali fokus menyetir. “Tapi mungkin juga tidak. Rambutmu terlalu mencolok.” Sehun mengomentari rambut ikal pirangku.

“Aku tidak mau mengecat rambutku. Aku suka warna rambut asliku.” Kataku.

Sehun hanya mengangkat bahu. “Kau bisa menggelung rambutmu dan memakai topi. Itu akan sedikit membantu.” Usulnya.

“Akan kucoba.” Kataku. “Oh, stop di sini saja. Kau tidak perlu mengantarku sampai ke depan gedung kampusku. Pasti akan terjadi kehebohan lagi. Berhenti di sini saja, Hun. Aku akan jalan kaki.” Kataku begitu kami mulai dekat universitasku.

Sehun terus saja mengemudikan mobilnya, masuk ke gerbang universitas. “Hey.., I said stop here!” seruku. Sehun pura-pura tidak mendengarku. Mobil terus melaju. “Are you insane?!”

“Carina… I just wanna make sure that you’re safe.” Kata Sehun sambil tersenyum lembut. Mobil berhenti tepat di depan gedung kampusku. Sehun melepas sabuk pengamannya kemudian membuka pintu. “Hun.., Don’t do that!”

Terlambat! Sehun sudah keluar dari dalam mobil, dan cepat-cepat membukakan pintu untukku. Aku keluar sambil menatapnya tajam.

Beberapa orang mulai menyadari siapa cowok yang mengantarku ini. Terutama cewek-cewek. Ya.., siapa sih yang tidak tahu siapa cowok yang sedang naik daun ini?!

“You really ruin my peaceful morning, Hun.”

“I love you too, baby..” Sehun mengedipkan sebelah matanya, tidak menghiraukan kata-kataku barusan. Ia segera masuk kembali ke dalam mobil, lalu pergi.

Aku menyesal mengapa dulu bisa-bisanya membuat kesepakatan gila bersama sepupuku itu! Gila! Dulu aku pasti sudah gila karena setuju dengan idenya Sehun untuk pura-pura menjadi pacarnya di depan publik.

Aku mengabaikan orang-orang yang memfoto-ku. Cepat-cepat aku berlari menuju kelasku di lantai 3.

Ya. Tidak ada seorangpun yang tahu … aku ini sebenarnya sepupu Oh Sehun, maknae EXO-K, grup yang sedang sangat populer di Korea dan Asia. Aku lahir dan besar di Belanda. Ayahku orang Belanda, ibuku orang Korea. Ibuku adalah adik dari ayahnya Sehun. Aku hanya pernah ke Korea saat umurku 10 tahun, dan saat itu Sehun masih menjadi trainee SM Entertainment. Setelah lulus Senior high school, aku memutuskan untuk kuliah di Seoul dan tinggal di apartemenku sendiri. Kupikir keadaan di Korea akan berbeda dengan saat di Belanda dulu. Tapi ternyata sama saja. Aku muak dengan cowok-cowok yang sudah kutolak tapi masih saja mengejarku. Seperti stalker.

Aku jarang bertemu Sehun karena saat aku pertama tiba di Korea, dia sangat sibuk dengan drama dan promo album-nya. Setelah setahun tinggal di Korea, keadaan semakin parah karena para penguntit itu semakin gencar menguntitku. Aku sampai harus pindah apartemen beberapa kali. Untunglah saat keadaan parah itu, Sehun ada di dekatku. Dia sudah tidak terlalu sibuk. Tapi rupanya ada gossip miring tentang Sehun. Dia digossipkan pacaran dengan Luhan, sahabatnya sendiri! Awalnya hanya rumor tak penting, hanya pairing fans, HunHan (Sehun Luhan), tapi lama-lama rumor itu jadi semakin meluas dan para fans yakin HunHan itu nyata. Meski para fans menyukai HunHan pairing, tapi banyak orang yang me-ngecam dan menjelek-jelekkan reputasi Sehun, bahkan EXO. Apalagi setelah tersebar foto-foto aneh Sehun dan Luhan. Meski Sehun bilang semua foto itu palsu, netizen tetap menjelek-jelekkan mereka.

Kemudian terlintaslah ide gila itu di otak Sehun. Untuk menepis gossip gay Sehun, dan juga untuk melindungiku dari para penguntit. Kalau orang-orang tahu kami pacaran.., maka para penguntit itu akan menyerah. Tidak ada yang tidak mengenal Sehun di negeri ini. Semua tahu Sehun. Dia adalah seorang penyanyi, aktor, dan model yang sangat terkenal. Jadi, sepertinya kecil sekali kemungkinan akan ada cowok yang berani merebut “cewek” Oh Se Hun!

Aku setuju dengan idenya. Pada awalnya memang terbukti idenya sangat brilliant. Setelah semua media tahu mengenai “hubungan” kami, para penguntit itu berhenti menggangguku. Kehidupanku aman. Ya, dulu kupikir begitu. Tapi ternyata.., sama saja. Bedanya, kini orang-orang yang menggangguku adalah fans Sehun. Tapi untunglah mereka hanya menggangguku lewat dunia maya. Blog-ku penuh dengan makian dan kata-kata kasar para fans Sehun. Tapi aku tidak peduli, selama aku terbebas dari penguntit-ku.

Tapi kini aku mulai merasa Sehun terlalu berlebihan.

*******

“Hun.., wake up!” aku menggoyang-goyang tubuh Sehun.

“Hmmm..” Sehun membalikkan badannya. Memunggungiku.

Sepupuku itu menginap di apartemenku tadi malam. Dia berusaha meminta maaf padaku karena telah membuatku kesal pagi harinya. Sehun tahu aku tidak bisa lama-lama marah padanya, apalagi saat dia membawakan banyak makanan favoritku : pizza, donut, spagethi, dan tteokpokki.

Jadi sementara aku melahap semua makanan yang Sehun bawakan untukku, tadi malam ia hanya minum soju. Aku tidak pernah menyukai soju maupun minuman beralkohol lainnya, jadi Sehun hanya minum sendirian. Akibatnya.., dia terkapar tak berdaya di apartemenku.

“OH SE HUUUNN!!!” jeritku di telinganya. “Banguuuunnnn!!! Aku ada kuliah sebentar lagi!”

Sehun membuka matanya. Sayu. “Kau pakai saja mobilku.” Lalu ia pun kembali menutup matanya dan memeluk guling.

“Bukan itu maksudku! Aku bisa pergi sendiri. Apakah hari ini kau tidak ada kerjaan?”

“Tidak. Aku bebaaaasss!!! Hahahaha. Jadi biarkan aku tidur seharian ini.” Kata Sehun dengan mata tertutup.

Aku mendengus. “Aku pergi.” Kataku.

“Kunci mobilnya ada di jaket-ku..” lagi-lagi Sehun berkata dengan mata terpejam.

“Aku naik bus saja.” Aku pun pergi. Mana mau aku mengemudikan mobil Sehun?! Bisa-bisa nanti aku diikuti paparazzi!

Kali ini aku mengikuti saran Sehun. Aku mengikat rambut panjangku, memakai topi, dan kacamata baca. Tidak ada yang menatapku dengan penasaran seperti kemarin. Syukurlah. Tapi tetap saja.., kini semua orang jadi tahu di-mana- pacar-Oh Sehun-kuliah! Ini semua gara-gara Sehun kemarin mengantarku dan sengaja show off di depan kampusku!

Aku mengambil jurusan Kimia. Seharian ini akan full dengan praktek di laboratorium. Aku tidak perlu menyamar di laboratorium bukan?! Lagipula di antara teman-teman sekelasku tidak ada fans berat Sehun. Mereka juga tidak pernah menanyaiku macam-macam tentang Sehun. Dulu mereka memang sempat bertanya, tapi itu pun hanya pertanyaan biasa : “Kau benar-benar pacaran dengan Sehun EXO?” Hanya itu. Aku pun mengatakan iya. Entah kebohongan yang keberapa yang kuucapkan.

Orangtuaku dan orangtua Sehun tidak ambil pusing dengan apa yang kami lakukan. Ibuku malah mendukung Sehun. Tapi ibu Sehun pernah mengatakan sesuatu yang sampai saat ini masih kuingat : “Carina, kalau orang-orang mengira kau pacarnya Sehun, kau tidak akan dapat pacar sungguhan di sini.”

Pacar sungguhan? Aku juga tidak berniat mendapat pacar sungguhan di Korea. Tapi.., tetap saja.

Apa itu berarti aku akan “terjebak” selamanya bersama Sehun? Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Tidak! Suatu hari nanti kami harus “putus” di depan publik. Tentu saja pada akhirnya kami harus mengakhiri hal gila ini kan?! Tidak mungkin juga selamanya Sehun akan menjomblo. Dia harus benar-benar mengencani cewek sungguhan. Bukan pura-pura pacaran dengan sepupu sendiri.

Kadang aku merasa heran.., Sehun begitu terkenal. Semua cewek (setidaknya fans-fans nya) pasti mau diajak kencan oleh-nya. Lalu, di saat tersebar gossip Sehun gay dan pacaran dengan sahabatnya sendiri, Luhan, mengapa Sehun tidak menepis gossip itu dengan mengencani cewek sungguhan?! Kenapa harus pura-pura pacaran dengan aku? Saudaranya sendiri!

Mungkin untuk membantuku juga. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Hhhh.., seandainya aku tidak punya masalah dengan para penguntit, pasti semua ini tidak perlu terjadi. Aku tidak perlu jadi sorotan media!

Praktikum di laboratorium Kimia Organik berakhir pukul 3 sore. Aku baru saja akan merapikan jas lab-ku ketika ponselku bordering. Nomor tidak dikenal. Aku mengabaikannya. Siapa tahu salah satu penguntit itu beraksi lagi! Atau.., bisa saja media yang berusaha mengorek kehidupan pribadiku.

Aku berjalan keluar dari laboratorium. Sebelum pulang ke apartemen, aku memutuskan untuk belanja terlebih dahulu. Aku memakai penyamaran seperti saat pergi tadi.

Ponselku bordering lagi. Nomor yang sama? Aku mengabaikannya lagi.

Hari ini aku ingin memasak pasta seafood dan sup rumput laut. Aku mendorong troliku dengan riang. Merasa senang karena tak ada seorangpun yang mengenaliku. Mungkin aku terlalu paranoid. Tapi sepertinya tidak semua orang tahu aku. Hanya segelintir orang..terutama fans EXO yang mengenali wajahku. Selain itu aku aman. Aman bila aku sendirian. Orang-orang (yang bukan fans Sehun maupun EXO) baru akan mengenaliku saat Sehun bersamaku.

Ponselku berbunyi, tapi kali ini sms.

Carina, ini Sehun. Aku td berusaha meneleponmu. Apa kau sdh plg kuliah? Ponselku tertinggal di apartemenmu. Bisakah kau antarkan kemari? Telepon ke sini kalau kau sudah beres kuliah.

Aku mendengus. Benar-benar khas Sehun. Dasar pelupa!

Tapi…, apa benar ini Sehun? Bagaimana kalau hanya sms iseng? Bagaimana kalau ternyata yang mengirim sms ini ternyata fans Sehun yang membenciku? Tapi..

Kuputuskan untuk menelepon ke nomor itu. Aku hanya menunggu beberapa detik sebelum ponsel itu diangkat. “Yeoboseyo..” ujar suara seorang pria. Rasanya aku kenal suara ini.

“Yeoboseyo.., apakah Sehun ada di sana?” tanyaku.

“Sehun? Oooh.., ini Carina?”

“Mmmm.., Ya. Apa tadi benar-benar Hun yang mengirim sms? Kau siapa?” tanyaku galak. Mulai curiga.

Cowok itu tertawa. “Hahahaha, benar.., yang tadi itu Hun. Dia sedang di toilet. Oh, ini dia datang…”

Beberapa saat kemudian terdengar suara Sehun. “Rin.., kau di mana? Aku meneleponmu terus… tapi kenapa tidak diangkat? Kau tahu kan aku benci menulis sms!”

Aku tertawa. “I’m sorry Hun.., aku tadi sedang di laboratorium, dan sekarang aku di supermarket. Aku takut nomor itu hanya iseng meneleponku. Penguntit. Kau tahu..”

“Hahahaha. Yaa..ya.. aku tahu. Ini nomor Luhan. Kau harus menyimpannya, kalau-kalau aku menghubungimu lagi dalam keadaan gawat darurat.”

Aku mendengus lalu tertawa. “Kau di mana sekarang?”

“Apartemen Luhan. Kemarilah sambil membawa ponselku. Kau tahu kan aku tidak bisa hidup tanpa ponselku..”

“Kalau begitu kenapa kau meninggalkannya di apartemenku, Pabo!”

Sehun tertawa. “Aku lupa. Tiba-tiba saja saat bangun tadi .. sekitar pukul 11..  aku ingat … hari ini aku harus mengepas baju untuk show besok malam. Aku terburu-buru.., jadi..yah.., I’m sorry Rin..”

“Hhhh.., oke-oke. Beritahu aku di mana alamatnya. Tapi mungkin aku baru akan sampai sana agak sore, aku masih belanja. Ah, benar.., percuma saja aku belanja. Aku tidak akan bisa memasaknya hari ini. Aku akan menyimpannya di lemari pendingin saja kalau begitu..”

“Bawa ke sini saja.” Usul Sehun.

“Apa?”

“Masak di sini saja, Rin. Aku akan membantumu..”

“Kau? Memasak? Hahaha.., tidak perlu. Traktir saja aku makan di luar malam ini Hun.”

“Aku malas keluar, Rin. Masak di sini saja, oke?”

Aku menghela napas. Aku tahu aku tidak bisa menang melawan Sehun di saat dia benar-benar keras kepala. “Oke.” Kataku.

*******

Apartemen Luhan lumayan jauh dari apartemenku maupun dari apartemen Sehun. Sesuai saran Sehun, aku naik taksi. Dia bilang ongkosnya dia yang bayar nanti. Jadi aku sih setuju-setuju saja.

Taksi berhenti di depan sebuah apartemen mewah. Aku menelepon Luhan. Sesuai saran Sehun.

“Carina? Kau sudah sampai?” aku terkejut karena Sehun langsung menjawab panggilanku.

“Ya. Cepatlah turun dan bayar taksi ini Hun!” kataku. Memutuskan sambungan. Aku bisa saja bayar sendiri taksi ini, tapi Sehun sudah berjanji akan membayarkannya untukku. Jadi aku menunggu.

“Carina?” seseorang memanggilku. Aku terkejut karena mendapati Luhan menghampiriku, membayar taksi, lalu meraih kantung belanjaan di tanganku. Aku sudah beberapa kali bertemu Luhan, tapi tidak di kediaman pribadi-nya, maupun bertemu dengannya dalam pakaian sangat santai. Luhan hanya memakai celana pendek dan hoodie putih.

“Kenapa tidak Sehun saja yang turun?” tanyaku, ketika kami menaiki lift. “Maaf aku jadi merepotkanmu.” Kataku.

Luhan tersenyum manis. “Tidak apa-apa. Sehun sedang manja. Dia berbaring terus sejak siang tadi. Dia bilang..dia menghabiskan berapa.. hmm.. 20 botol soju semalam?”

Aku menatap Luhan heran. Sehun sedang manja? Yang benar saja! Mau tak mau aku ikut berpikir yang tidak-tidak mengenai mereka berdua.

“Kau benar-benar baik Carina ssi.., jauh-jauh datang kemari untuk mengantarkan ponsel Sehun. Kupikir Sehun keterlaluan sekali membiarkan pacarnya yang baru saja pulang kuliah datang kemari, membawa belanjaan pula. Biar aku saja yang masak. Kau istirahat saja…”

“Eh?? Kau bisa masak???” tanyaku penasaran.

Sehun tersenyum. “Tidak terlalu jago sih.., tapi setidaknya jauh lebih baik daripada masakan Sehun.”

Aku tertawa. “Sehun benar-benar parah di dapur. Dia bisa membuat dapur meledak .. hahahaha..”

Luhan membukakan pintu apartemennya dan mempersilakan aku masuk.

“Rin., kau bawa ponselku?” Tanya Sehun langsung, begitu kami masuk. Sehun tiduran di sofa sambil menonton TV kabel yang menayangkan drama Jepang.

Aku memutar bola mataku. “Menyebalkan bukan?” kataku pada Luhan. Ia hanya tertawa.

“Sehun.., tega sekali kau bersikap seperti itu pada pacarmu.” Kata Luhan.

Sehun tertawa. “Tentu saja.., karena dia pacarku…” Sehun menatapku penuh makna. Tentu saja karena aku sebenarnya adalah sepupunya, yang lebih muda, yang otomatis membuatku berada pada posisi “adik”, Sehun bisa leluasa menyuruhku. Aku bukan pacar sungguhan, jadi tidak masalah.

“Hun.., kurasa kita harus putus.” Kataku main-main.

Sehun mengangguk sambil tertawa. “Ya..ya.., kita putus saja Carina Pettyfer..”

Aku mendelik sebal menatap Sehun. Sehun menatapku sambil nyengir lebar. Aku tahu.., aku tidak akan bisa cepat-cepat “putus” dari “kepura-puraan” ini. Aku mendengus kesal.

Luhan tertawa melihat kami. “Kalian tahu.., kalian tidak seperti sepasang kekasih. Kalian seperti …adik- kakak..” Luhan menatap kami bergantian.

Sehun tertawa aneh. “Ha..ha..”

Aku membelalakkan mataku. Ini pertama kalinya ada yang curiga pada kami.

“Aku masak dulu.., kalian santai-lah..” Luhan tersenyum, lalu masuk ke dapur.

Aku menatap Sehun. Sehun berbisik, “kita harus hati-hati di depan Luhan. Dia itu.., sahabatku. Dia benar-benar tahu aku. Sejak awal dia sudah curiga.., tapi aku berhasil meyakinkannya. Sekarang sepertinya dia mulai curiga lagi. Kita jangan bertengkar seperti…adik-kakak. Tapi.., bagaimana memangnya kalau pasangan sungguhan bertengkar?”

Aku membelalak tak percaya. “Come on.., you’ve datting so many girls in the past…”

“Sssshhttt..” Sehun menyuruhku memelankan suara. “Aku punya banyak cewek dulu.., tapi bukan sungguhan. Maksudku.., it’s just for have fun. I’ve never been in loved before.”

“Huwahahahaha…” aku terbahak-bahak. Sehun menutup mulutku. Aku melepaskan tangannya dari mulutku lalu menatapnya jahil. “kau hanya main-main dengan cewek-cewek.., karena soulmate-mu adalah Luhan. Aku mengerti. Kalian tinggalah di Belanda,, menikah di sana…”

Sehun terbahak-bahak sambil terbungkuk-bungkuk dan mengeluarkan air mata. Luhan menghampiri kami sambil tersenyum. Dia memakai celemek. “Kalian sudah baikan rupanya..” dia pun kembali ke dapur.

Sehun masih tertawa, lalu dia berbisik. “Rin.., you know I’m not a gay..”

Aku menatapnya tak percaya. “Prove it!” tantangku.

Sehun memutar bola matanya. “Semenjak sibuk dengan berbagai show.., aku jarang bermain-main dengan cewek lagi. Aku selalu bersama Luhan kalau ada waktu luang. Pasti karena itu gossip mulai menyebar…”

“Lalu kenapa kau tidak pergi ke club dan gaet saja semua cewek di sana?! Atau.., kalian punya foto-foto aneh berdua ya?” tanyaku lagi.

“Aku ingin berubah..” kata Sehun. Tiba-tiba saja dia jadi serius. Tidak terpancing dengan ucapanku.

Aku mengangkat sebelah alis mataku. “Untuk?”

“For that girl..” Sehun melirik layar TV . Sebuah drama Jepang. Seorang cewek Jepang.

“Do you fall for her?” tanyaku tak percaya.

“Sssshhhtt.., pelankan suaramu.” Kata Sehun. Dia mengangguk. “Yes. But she already has a boyfriend. Aku tidak ingin image-ku semakin buruk. Dulu aku dikenal playboy.., lalu beberapa tahun kemudian gay?” Sehun menggeleng. “Lebih baik aku dikenal punya 1 pacar, dan setia. Meski itu hanya pura-pura. Maaf aku membebanimu, Rin..”

“You should told me about this earlier, Hun.” aku tersenyum. “I’ll help you, no problem. Tapiii.., jangan pernah terlalu show off di depan public. I hate paparazzi..”

Sehun tertawa. “Oke..” dia mengacak-acak rambutku.

“NOT my hair!!” aku menyingkirkan tangan Sehun. Sehun hanya terbahak-bahak. “I’ll help Luhan..” aku bangkit berdiri.

“Hey..” Sehun meraih tanganku. “Don’t fall for Luhan…” kata Sehun serius. Suaranya pelan.

“Why? Because you love Luhan?” bisikku, berusaha menahan tawa.

Sehun menatapku tajam. “You know I’m not…”

“I know..I know.. tenang saja Hun.., aku tidak akan jatuh cinta pada cowok Korea.” Kataku santai.

“Oh really?” Sehun tersenyum mengejek. “Siapa yaa.. yang saat umurnya 10 tahun merengek-rengek padaku minta foto dan tanda tangan Kim Jae Joong?”

“Ssshhh…” aku membekap mulut Sehun. “Don’t say it too loud! Aku bantu Luhan dulu.” Kataku. Sehun mengangguk. Matanya fokus lagi ke layar televisi saat aktris Jepang itu muncul lagi. “Happy watching drama…” aku tersenyum miring, lalu cepat-cepat pergi ke dapur sebelum Sehun melempariku dengan popcorn.

Luhan tersenyum saat melihatku datang. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Ternyata dia cukup cekatan juga dalam memasak.

“Let me help you..” kataku.

“Tidak usah.” Kata Luhan. Aku menatapnya terluka. Luhan tertawa. “Oke.., kau boleh membantuku dengan mengupas mangga dan melon.”

“Oke..” kataku riang.

Luhan – yang sedang memasak sup rumput laut dan pasta seafood- menatapku sejenak. “Anehnya…kau agak mirip Sehun.”

Aku terdiam. No way!!!!! Wajah kami sama sekali tidak mirip.

“Sifat kalian..” kata Luhan, seolah bisa membaca pikiranku. Aku hanya tersenyum tipis.

“Kau mencintai Sehun?” tanya Luhan tiba-tiba. Aku berhenti mengupas mangga, menatap Luhan sejenak, lalu kembali mengupas.

“Ya.” Kataku. Tentu saja aku mencintai Sehun. Sebagai saudara. Tambahku dalam hati. “Kalian berdua tidak benar-benar.., gay kan?” tanyaku.

Cowok berwajah babyface itu meledak tertawa. “Menurutmu?” Luhan tersenyum miring.

“You love him.” Tukasku cepat.

Luhan mendekatiku, membungkukkan badannya dan menatapku lekat-lekat. “Are you jealous?” Luhan tersenyum. Aku hanya tertawa.

“Kami sahabat baik. Hanya itu. Kau tidak usah khawatir..” kata Luhan.

Aku menatap Luhan. Lalu teringat kata-kata Sehun barusan. “Don’t fall for Luhan..” Kenapa? Kenapa Sehun melarangku? Aku tidak jatuh cinta padanya seperti yang Sehun kira, tapi karena kata-kata Sehun itu aku jadi penasaran. Memangnya ada apa dengan Luhan?

Pikiranku mulai melantur ke mana-mana. Jangan-jangan…, Luhan-lah yang memiliki “kelainan”. Bukan Sehun! Luhan mencintai Sehun, tapi Sehun tidak. Sehun hanya menganggap Luhan sahabat. Seperti dulu. Karena itulah, cara yang paling aman dan paling cepat agar Sehun bisa menolak Luhan dengan halus adalah dengan pura-pura menjadi pacarku..

OH NOOOO!!!! Sepertinya aku terlalu banyak mengkhayal. Yaoi? It’s funny. Aku akan menyelidikinya.

-TBC-

8 thoughts on “I Don’t Know What I Can Save You From (Chapter 1)

  1. Annyeong chingu~ ff ini bikin penasaran sumpah >_<
    Comment aku cuma 'menurut aku' ya ada beberapa dialog yang kesannya terlalu panjang dan kayanya bahasanya kurang bikin greget, mianhae, ini cuma pendapat saya tapi to be honest, overall ff ini Daebakkkk!

    Saya reader setia menunggu lanjutannya yak😀

  2. hihi tega lo thor HunHan gay…
    mereka kan soulmate#samaja
    thor kasi foto dong buat ngayalin muka bule nya Carina
    ditunggu lanjutannya tp bad oppa or good oppa jgn dilupain yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s