Bad Oppa or Good Oppa? (Chapter 5)

Image

Title                               : Bad Oppa or Good Oppa?

Genre                                       : romance, friendship, family

Author                           : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Length                            : Chaptered

Casts                                       : – Kris (EXO-M)

–         Kim Min Ah (OC)

–         Luhan (EXO-M)

–         Kai (EXO-K)

–         SuHo (EXO-K)

–         Lee Eun Hye (OC)

–         Byun Baek Hyun (EXO-K)

–         Jong Hyun (CN Blue)

–         Jung Jin Young (B1A4)

–         And the other EXO members

 

Chapter 5 : Ai

@Pesawat menuju Tokyo…..

Sekitar 30 mahasiswa, ditambah 10 dosen pendamping sudah menduduki seat masing-masing.

Penentuan posisi duduk diatur oleh dosen. Secara acak. Tapi sialnya, aku harus kebetulan duduk bersebelahan dengan si bawel Byun Baek Hyun. Padahal ada begitu banyak peluang untuk duduk bersama mahasiswa dari jurusan lain, tapi kenapa aku harus ditakdirkan bersama ketua Kelas-ku yang berisik ini?!

Yah.., tapi aku bersyukur karena tidak harus duduk dengan Jong Hyun.

Ngomong-ngomong…, Jong Hyun duduk bersebelahan dengan Kris! Yap. Kris. Gara-gara insiden di gymnasium waktu itu, berkat mulut besar Baek Hyun, semua orang kini mengira Kris dan aku berkencan. Jadi, bisa dipastikan mantan pacarku yang brengsek (Jong Hyun) bersikap aneh pada Kris.

Kris dan Jong Hyun duduk di seat jajaran kanan, agak lebih depan daripada kami, sementara kami di barisan kiri. Aku bisa melihat Kris dan Jong Hyun dari belakang tanpa mereka sadari.

Berkali-kali Jong Hyun menolehkan kepalanya ke arah Kris, tapi Kris tetap terdiam. Cuek. Seperti biasa. Khas Kris. Dalam hati aku senang. Entah kenapa.

Selama di perjalanan, Baek Hyun tak henti-hentinya mengoceh tentang segala hal. Tentang tempat-tempat yang ingin dia kunjungi, tentang makanan Jepang, dan mitos-mitos.

Baek Hyun tidak pernah kesal meski aku sering mengabaikan ocehannya. Aku masih mengamati Kris dan Jong Hyun. Kris memasang headphone. Sementara Jong Hyun membaca majalah. Ah.., seandainya aku bisa melihat ekspresi wajah mereka saat ini.

“…. Kau mau coba..?” tanya Baek Hyun.

“Eh?? Coba apa?”

Baek Hyun menggembungkan pipinya. Mulai merasa sakit hati karena aku terus mengabaikan kata-katanya.

“Salah satu mitos yang kujelaskan barusan.”

“Yang mana?”

“YAAAA!!! Kim Min Ah!!! Mulutku sudah berbusa begini,,, tapi tidak ada satu kata-pun yang kau dengarkan???” Pekik Baek Hyun. Beberapa orang melihat ke arah kami.

“Sssstttt…” bisik-ku. “Jangan berisik! Kau pikir ini di pasar?!”

Baek Hyun menyilangkan kedua lengannya di dada. “Sudahlah! Lebih baik nanti aku cerita pada Kris saja! Dia pasti akan mendengarkanku. Tidak seperti seseorang..” Baek Hyun mendelik kesal.

“Hehehe.., mian..”

Baek Hyun membalikkan badannya, memunggungiku. Dan tidak berbicara lagi selama sisa perjalanan.

*******

Kami semua naik bus khusus yang disiapkan oleh Todai university. Lagi-lagi, kami harus duduk dengan partner seperti di pesawat. Baek Hyun masih tidak mau bicara denganku. Kami duduk di bagian tengah.

“Mianhae, Baekki~ah…” kataku, memanggil Baek Hyun dengan panggilan khas-nya saat di sekolah dasar. Dulu, aku sempat satu sekolah dasar dengan Baek Hyun, sebelum aku pindah-pindah rumah.

BaekHyun membekap mulutku dengan tangannya. “Ssshhhh.., jangan keras-keras. Dan jangan memanggilku dengan sebutan itu!”

“Oke, baekki.., eh.., Baekhyun. Hehehe…”

“Traktir aku sushi dan udon.” Baek Hyun nyengir lebar.

Aku menghela napas. “Oke.” Dalam hati aku berdoa semoga partner-ku selanjutnya bila bepergian adalah Luhan, bukan Baekhyun.

Bus tiba di depan hotel tempat kami menginap. Tak jauh dari Todai.

Ketika aku turun dari dalam bus, seseorang menarik tanganku.

“Jetlag?” tanya Kris dengan husky voice-nya yang khas. Aku menggeleng. Kris membantu membawakan koperku sampai ke depan kamar-ku. Aku sekamar dengan Victoria dan JinRi.

“Kamarku di lantai 10.” Kata Kris. Aku hendak bertanya siapa partner kamar-nya, tapi sebelum aku bertanya, Kris sudah memberitahuku. “Aku satu kamar dengan Baekhyun dan Jonghyun. Bukankah ini menarik?” Kris tersenyum miring.

Aku mendengus. “Jangan macam-macam!” perintahku.

“Kau ingin agar aku diam-diam mencekik pria yang kau benci itu saat dia tertidur?” Kris menyeringai.

Aku memukul lengannya. “Tidak lucu, Kris!”

Kris tertawa, lalu mengacak-acak rambutku. “Cepat ganti baju dan kita makan. Tunggu aku. Aku akan menjemputmu di sini. Kita ke bawah bersama.”

Aku mengangkat sebelah alis mataku. “Kenapa?”

“Bukankah kau ingin membuat mantan-mu itu menyesal karena telah mencampakkan-mu?” tanya Kris. Dengan wajah datar. “Ikuti saja apa kataku. Aku akan membantumu.” Kris pun pergi.

Aneh. Aku merasa dadaku sakit. Entah karena perkataan Kris, kenyataan Jonghyun mencampakkanku hampir 2 tahun yang lalu, atau… kenyataan bahwa semua sikap gentle Kris hanyalah pura-pura untuk membalas Jonghyun?!

Aku tidak tahu mana yang membuatku lebih sakit.

******

Aku dan Kris turun ke ballroom bersama-sama. Beberapa orang melihat ke arah kami begitu kami memasuki ruangan. Berbagai orang dari penjuru dunia memenuhi ballroom yang  sudah dipenuhi meja bundar, kursi, dan ada panggung di depan, lengkap dengan berbagai alat musik. Malam ini memang diadakan pesta penyambutan para peserta khusus dan pemateri seminar dan kegiatan ilmiah yang diadakan oleh universitas Tokyo alias Todai.

Untung saja aku mengikuti saran Eun Hye untuk membawa gaun. Ternyata gaun itu berguna juga!

Kris menggandeng tanganku. Semua cewek yang ada di ruangan itu menatap Kris penuh rasa kagum. Bukannya merasa terhormat atau senang karena akulah yang digandeng oleh Kris, bukan cewek-cewek itu…, tapi aku malah merasa kesal. Entah kenapa.

“Haruskah kita duduk di sana..?” tanya Kris pelan. Melihat sebuah meja yang baru terisi oleh 3 orang. Luhan, Baekhyun, dan… Jong Hyun.

Sebelum aku sempat menjawab, Kris sudah menggandengku menghampiri meja itu. Kris menarik kursi untukku. Aku pun duduk.

“Woaaahhhh…, malam ini kau cantik juga Min Ah! Ck…ck..ck.., kau bisa dandan juga rupanya?” seru Baek Hyun sambil terkekeh.

“Diam kau, Baekki!”

Baekhyun mendelik kesal padaku. Tapi aku tidak memedulikannya, karena Luhan yang duduk di samping kiri-ku tersenyum sambil berbicara, “Annyeong.., tidak jetlag kan.., Min Ah ssi?” tanya Luhan ramah sambil tersenyum manis.

Aku menggeleng. Senang melihat Luhan. Dia tampak imut dalam balutan tuksedo.

Jong Hyun duduk di hadapanku. Dia hanya menatapku dengan tajam. Sekilas aku menatapnya, lalu mengalihkan pandanganku ke kanan. Menatap Kris. Kris tersenyum.

Acara dimulai dengan sambutan oleh seorang professor dari Todai, ketua pelaksana, dan seorang mahasiswa Todai yang dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi.

Akhirnya, setelah acara sambutan yang membosankan…, acara yang ditunggu-tunggu pun tiba. Makan-makan!!!

Puluhan pelayan memasuki ruangan sambil mendorong troli berisi makanan. Aroma lezat makanan langsung memenuhi ruangan. Membuat kami semua semakin lapar.

“Woaaahhhhh… daebakkkk!!!!!” gumam Baekhyun takjub. Melihat makanan dengan mata membelalak lebar. Seolah itu pertama kalinya dia melihat makanan seumur hidup-nya. Aku yakin, dengan perut karet-nya itu si Baekki sanggup menghabiskan semua makanan yang tersaji di meja kami.

Selama makan, beberapa hadirin memainkan berbagai alat musik sambil bernyanyi. Baru saja seorang mahasiswa dari Taiwan membawakan lagu-lagu China sambil bermain gitar.

Seorang pembawa acara bertanya dalam bahasa Inggris. “Aku ingin perwakilan dari mahasiswa Korea. Adakah yang mau bernyanyi malam ini?”

Kami saling tatap. Baek Hyun menatap JinRi di meja sebrang. “JinRi.., mau duet denganku?” tanya Baek Hyun.

“Shireo!” JinRi menjulurkan lidahnya.

Tanpa kuduga, Kris dan Jonghyun berdiri bersamaan.

“Woaaahhh.., baiklah, siapa yang akan maju duluan?” tanya pembawa acara.

Tanpa bicara, hanya dengan isyarat tangan, Kris mempersilakan Jonghyun maju duluan.

Anak-anak dari kampusku bertepuk tangan riuh.

Jonghyun bernyanyi sambil memetik gitar. Membawakan versi akustik dari lagu Jason Mraz – Geek in The pink.

Selama bernyanyi, entah perasaanku saja atau bukan, Jonghyun terus melihat ke arah-ku.

Jonghyun membawakan lagu dengan sangat baik. Seperti yang diharapkan dari si jenius gitaris itu. Penonton bertepuk tangan riuh.

Jonghyun turun dari panggung. Kris berjalan ke arah panggung. Saat mereka bersimpangan di tengah jalan, selama beberapa detik mereka saling tatap, kemudian terus berjalan ke tempat masing-masing. Jonghyun kembali duduk di hadapanku, sementara Kris duduk di depan sebuah grand piano putih. Sangat kontras dengan tuksedo hitam yang ia kenakan.

“Annyeonghaseyo, good night everyone. My name is Kris, from Korea. I’ll sing a special song for someone there…” Kris berhenti sejenak. Menatapku intens. “Kim Min Ah.., this song is for you…”

Suit…suit…, orang-orang (termasuk Baek Hyun yang paling heboh) bersiul keras.

Aku merasa wajahku memanas ketika  semua orang menatapku. Kris mulai menekan tuts piano. Perlahan seuntai nada lembut terdengar. Lagu ini… lagu yang pernah Kris bawakan untukku saat ulang tahun Kris. Lagu Christinna Peri – a thousand years.

Selama memainkan piano dan bernyanyi, Kris terus menatapku. Semua orang terhanyut dengan suara Kris dan permainan piano-nya.

Prok..prok…prok…

Banyak penonton yang melakukan standing applause begitu Kris selesai membawakan lagu. Kris membungkukkan badannya, dan sebelum turun dari atas panggung, ia meraih setangkai white rose yang terletak di atas grand piano.

Kris berjalan lurus ke arah-ku. Orang-orang penasaran melihat kami.

Kris berjongkok ala kesatria di hadapanku sambil memegang white rose itu dengan kedua tangannya. Terdengar siulan dan tepuk tangan di mana-mana. Aku masih terdiam. Kris tersenyum.

Mataku memanas. Bukan. Bukan karena terharu atau bahagia.

Aku marah.

Aku merasa sangat marah pada Kris!

Aku marah karena semua sikap manis yang ia tunjukkan malam ini hanyalah akting. Aku marah karena ia merusak lagu yang mulai kusukai (karena dulu ia membawakan lagu itu untukku saat ulang tahunnya). Dulu ia dengan tulus membawakan lagu itu, sementara kini hanya pura-pura. Kini lagu yang kuanggap berarti itu menjadi terasa seperti sampah.

Aku meraih bunga yang Kris berikan. Meremas tangkai-nya dengan keras, sampai telapak tanganku berdarah karena duri-nya. Kris tersenyum lalu berdiri. Ia mendekatkan wajahnya padaku, mengecup keningku, lalu kembali duduk di kursinya.

Tanpa bisa kucegah, air mataku mengalir deras.

Baekhyun menyenggol lenganku. “Kau benar-benar terharu sampai menangis seperti itu ya.., Min ah? Hehehe..” kekeh Baekhyun.

Aku hanya menatap Kris dengan tajam.

Semua orang mungkin berpikiran sama seperti Baekhyun. Tapi.. hanya aku yang tahu apa yang sebenarnya kurasakan.

Aku bangkit berdiri dan segera pergi meninggalkan ballroom.

Kris sama sekali tidak memanggilku apalagi mengikutiku.

Itu berarti dia mengerti. Mungkin.

*******

Keesokan harinya….

Aku sengaja sarapan bersama Victoria dan Jinri di dalam kamar. Victoria malas turun ke bawah karena dia belum dandan (dandan-nya lama sekali), dan aku malas makan di ruang makan karena pasti Kris ada di sana. Sementara itu Jinri hanya mengikuti kami berdua, ikut-ikutan memesan sarapan dan makan di dalam kamar kami.

Sesuai instruksi dosen pendamping, kami harus tiba di auditorium Todai pukul 9 pagi. Seminar internasional di mulai hari ini sampai besok. Lusa kami bebas. Mau jalan-jalan atau shopping, atau seharian tidur juga terserah. Yang pasti, selama 2 hari ini kami harus bekerja keras mengharumkan nama universitas kami dan terlebih lagi…negara kami.

Semua jurnal hasil penelitian kami (baik yang sudah selesai diteliti maupun yang sedang dalam proses), sudah diproses oleh panitia. Entah siapa yang akan tampil mempresentasikan jurnal ilmiah-nya. Bahkan para dosen pun tidak tahu siapa diantara kami yang akan dipanggil nanti. Yang pasti, kami semua sudah mempersiapkan power point dan data-data pendukung lainnya. Yang dipanggil untuk tampil nanti adalah… yang terbaik.

Aku duduk diantara Jinri dan Victoria, di barisan keempat dari depan. Perlahan, auditorium mulai dipenuhi berbagai mahasiswa dan dosen dari berbagai negara di seluruh dunia.

Kris masuk bersama Baekhyun. Sekilas, pandangan kami bertemu. Sejak aku keluar dari dalam ballroom tadi malam, Kris teus berusaha meneleponku. Tapi aku mengabaikannya. Begitupula dengan sms dan email. Tak ada satupun yang kubalas.

Baekhyun dengan riang duduk di samping Jinri. Kris duduk di sebelah Baekhyun.

“Kalian berdua kenapa?” bisik Victoria. Heran melihat sikapku dan Kris.

Aku hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.

Presentasi penelitian dari berbagai bidang ilmu dan dari berbagai belahan dunia itu sanggup membuatku melupakan Kris sejenak. Semua mahasiswa dari berbagai negara yang sudah tampil memang benar-benar luar biasa. Benar-benar yang terbaik. Aku tidak tahu apakah aku akan terpilih. Tapi feelingku mengatakan… tidak.

“Kuharap aku tidak terpilih.” Kata Baekhyun.

“Kenapa?” tanya Jinri.

Baekhyun mengangkat bahu-nya. “Nanti fans-ku tambah banyak. Huwehehehe.”

JinRi berdecak kesal. “Kau tidak pede karena bahasa Inggris-mu jelek kan?” Jinri tersenyum puas. Baekhyun balas mendelik kesal. Aku hanya tersenyum mendengar adu mulut mereka. Biasanya aku dan Kris yang selalu beradu mulut tentang hal-hal tak penting seperti itu. Tapi kini…

Aku menahan keinginanku untuk menoleh ke arah Kris. Pemakalah berikutnya  berhasil membuatku fokus pada seminar lagi.

Saat jam istirahat makan siang….

Ketika aku keluar dari dalam auditorium, Kris menarik tanganku dan membawaku menjauh.

“Lepaskan, Kris!!” aku menyentakkan tanganku, tapi Kris menggenggamnya semakin erat.

Kris berbalik dan menatapku tajam. “Ada apa denganmu?” tanyanya dingin.

Aku mendengus. “Tidak ada apa-apa. Lepaskan!” aku menyentakkan tanganku lagi dan berhasil lepas darinya. Cepat-cepat aku membalikkan badanku dan berjalan pergi.

“Kau marah padaku?” tanya Kris.

Aku berhenti sejenak, kemudian tanpa menjawab pertanyaan Kris, aku pun hanya terus berjalan pergi meninggalkannya.

******

Malam hari-nya.., kami mengikuti upacara minum teh di Todai. Acara-nya tidak wajib, tapi karena penasaran, aku , Victoria, dan Jinri ikut acara ini. Terlebih lagi, kami senang karena memakai Yukata.

“Neomu yeppo…” gumam kami bertiga saat bercermin. Kami tertawa, dan dengan bersemangat mengikuti upacara minum teh.

Kebanyakan hanya anak perempuan yang ikut. Kata Jinri.., anak laki-laki memanfaatkan waktu bebas dengan pergi jalan-jalan.

“Paling juga mereka pergi ke club.” Dengus Jinri. “Pokoknya..di sini aku mau mencari cowok Jepang yang keren!”

Hanya Luhan anak cowok dari Korea yang ikut upacara minum teh. Luhan terlihat imut memakai Yukata. Dia memang terlihat imut memakai pakaian apapun.

Kaki-ku terasa pegal sekali, tapi aku senang. Setidaknya di sini tidak ada Kris.

Luhan tersenyum manis padaku.

Kenapa aku tidak menyukai cowok baik seperti Luhan saja..? Kenapa aku harus selalu menyukai cowok brengsek?! Jong Hyun.., Kris…

Kris. Benar. Sepertinya aku memang menyukai kakak tiri-ku itu. Apa yang harus kulakukan? Mungkin aku harus memberi tahu seluruh dunia bahwa dia adalah kakak-ku. Agar Kris berhenti berpura-pura. Agar Kris tidak merasa terbebani karena harus membantuku. Jujur saja, sekarang aku tidak peduli lagi dengan apa yang Jong Hyun pikirkan tentangku.

Selesai upacara minum teh, aku tidak mengira Kris akan datang dan menunggu-ku di luar. Dia tidak memakai Yukata. Hanya coat hitam panjang. Sudah jelas dia datang kemari bukan untuk ikut upacara minum teh.

“Ikut aku…” lagi-lagi Kris menarik tanganku dengan paksa. Aku kesulitan mengikuti langkah-nya yang lebar-lebar. Apalagi sekarang aku memakai yukata.

Aku tidak tahu kami akan pergi ke mana. Kris hanya terus menuntunku dan hanya terdiam selama kami berjalan. Kris rupanya menyadari kesulitanku berjalan dengan yukata ini. Dia pun memperlambat langkahnya.

Kami melewati pepohonan lebat dan akhirnya berhenti di depan sebuah air mancur besar dengan patung naga emas di tengah-tengahnya. Kris menatap air mancur dan kolam besar di hadapan kami. Aku memandang berkeliling. Suasana-nya sepi sekali dan agak… mengerikan. Satu-satunya hal yang membuatku tidak takut hanyalah genggaman tangan Kris yang hangat. Aku menatap wajah Kris dari samping. Kris masih tetap terdiam. Ingin sekali rasanya aku mendengar apa yang otak dan hatinya katakan saat ini. Seandainya kekuatan pembaca pikiran benar-benar nyata….

Kris menoleh padaku. Dia terlihat…, berbeda. Entah kenapa dia terlihat begitu sedih. Hilang semua ekspresi angkuh yang biasa ia tampakkan.

Kris menatapku dalam-dalam. “Maafkan aku….” Kata Kris pelan.

“Untuk apa?” tanyaku dingin. Untuk sikapmu yang berlebihan? Untuk aktingmu yang brilliant? Untuk tindakanmu yang tanpa pikir panjang? Untuk kata-katamu yang tanpa perasaan?

Aku hanya bisa menggemakan pertanyaan-pertanyaan itu dalam kepalaku.

Kris semakin mendekat ke arah-ku. Entah karena pantulan air kolam, atau cahaya rembulan, tapi mata Kris terlihat berkaca-kaca.

Kris menyentuh tengkuk-ku dengan tangan kanan-nya. “Maafkan aku, Kim Min Ah…” Kris mendekatkan wajahnya padaku. Aku bisa merasakan nafas-nya. “Maafkan aku…” katanya sekali lagi.

Detik berikutnya Kris mencium bibir-ku. Aku terkejut. Kris memejamkan matanya dan terus mencium bibirku dengan penuh perasaan. Aku pun memejamkan mataku dan membalas ciuman-nya.

Kali ini ciuman-nya berbeda dengan saat dia menghapus darah di bibirku waktu itu. Kali ini ia melakukannya dengan dalam dan penuh perasaan.

Saranghae, Kris…, saranghae…

Aku berkata dalam hati sambil terus membalas ciuman Kris yang semakin dalam.

Kris berhenti. Perlahan ia menatapku. Aku tersenyum. Tapi Kris hanya menatapku sedih. “Maafkan aku..” katanya pelan.

Aku menggeleng. “Untuk apa? Karena kali ini kau juga berpura-pura? Tapi di sini tidak ada Jonghyun atau orang lain. Hanya kita berdua. Apakah kau masih berpura-pura?” tanyaku. Kris hanya terdiam.

“Sarang…” sebelum aku selesai berkata saranghae, Kris, dia langsung mencium bibir-ku lagi.

Kris menempelkan keningnya di keningku dan menatapku dalam-dalam. “Ayo kita kembali ke hotel. Karena jalanmu lambat sekali, jadi aku….” Kris menggendongku ala bridal style.

“YAAAAAAHH!!!” pekikku, tapi aku tersenyum. Kris balas tersenyum. Tapi lagi-lagi matanya terlihat sedih.

Aku melingkarkan lenganku di leher Kris dan menyandarkan kepalaku di dada-nya yang bidang. Kris berjalan dengan perlahan.

Tuhan…, seandainya ini mimpi…, aku tidak ingin terbangun.

*****

Keesokan harinya…..

Aku membuka mataku karena silau oleh cahaya matahari. Victoria sedang mengeringkan rambutnya, dan Jinri sedang memakai pelembap. “Good morning..” sapa mereka berdua ceria.

“Tadi malam kalian dari mana? Kalian romantis sekali…, Kris menggendongmu sampai kemari. Kyaaaaa….” Pekik Jinri heboh.

“Benarkah?” tanyaku.

Mereka berdua mengangguk. Aku tersenyum, lalu kembali berbaring sambil merentangkan kedua tanganku. “Kupikir aku bermimpi….”

Victoria duduk di tempat tidurku. “Yah..yah.., ceritakan padaku…apa yang kalian lakukan semalam? Kalian pergi ke mana sampai jam 11 malam?”

Aku tersenyum lebar. “Rahasia.”

*****

Berbeda dengan kemarin. Hari ini aku bersemangat pergi sarapan di ruang makan. Aku mencari-cari Kris tapi tidak menemukannya. Apakah dia makan di dalam kamar ya? Aku mengiriminya message.

Di auditorium…..

Seminar hari ke-2 hampir dimulai. Tapi Kris belum datang juga. Aku meneleponnya berkali-kali, tapi tidak diangkat. Sms-ku pun tidak dibalas. Aku mendengus. Apakah dia balas dendam karena aku bersikap seperti itu kemarin?!

Seminar sudah dimulai. Tapi Kris belum juga menampakkan batang hidungnya. Aku bertanya pada Baekhyun, tapi Baekhyun bilang…, Kris sudah keluar sejak tadi pagi. Entah kenapa perasaanku jadi tidak enak. Di mana Kris????

“Untuk perwakilan dari Korea Selatan…, kami mempersilakan Luhan dan Kris untuk mempresentasikan jurnal ilmiah mereka.” Ujar moderator. Tepuk tangan riuh terdengar di sana sini. Sudah kuduga.., Luhan-lah yang akan terpilih. Lalu Kris.., di mana dia sekarang?

Triing…

Tiba-tiba ada e-mail masuk di ponselku. Cepat-cepat aku membukanya.

From : krisyifan@gmail.com

Subject : Mianhae….

Dear Min Ah…

Maafkan aku….

Maafkan aku…

Maafkan aku…

Aku selalu menyalahkan diriku karena hal itu. Seharusnya sejak dulu aku terus mengabaikanmu.., tapi aku tidak bisa.

Kupikir.., perasaan aneh itu akan menghilang dengan sendirinya…, tapi ternyata ia tidak pernah menghilang.

Kupikir.., dengan membuatmu membenciku…, aku akan dengan mudah meninggalkanmu. Tapi ternyata tidak.

Maafkan aku, Min Ah…

Setelah kau membaca ini, aku tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu. Dan jangan pernah mencariku, karena kau tidak akan pernah menemukanku.

Aku tahu, pada akhirnya aku harus memilih antara ibuku atau dirimu. Dan aku memilih ibuku. Bagaimana mungkin aku bersikap egois.., membahagiakan diriku sementara ibuku menderita. Aku ingin ibuku bahagia bersama ayahmu. Itu berarti aku harus pergi.

Maafkan aku, Min Ah..

Maaf karena aku mencintaimu.

==== TBC =====

18 thoughts on “Bad Oppa or Good Oppa? (Chapter 5)

  1. Huaaa thor, kenapa sama kris ? Kok dia pergi ?
    Terus hubungan mereka gimana ? *histeris tingkat 7
    lama kelamaan ff’nya bagus, alur ceritanya juga rapi apalagi konfliknya mulai berkembang😀
    lanjut thor😀

  2. eonni T.T
    awalnya suka karena ada so sweet so sweetnya, tp knp tbcnya harus nyesek gini sih -..-
    eon aku kok penasaran ya, itu dulu jonghyun sm minah nya putus knp sih? kok sampe si minah benci banget sama jonghyun? apakah jonghyun selingkuh?
    si suho g pernah nongol lg ya eon kkk ~
    aku penasaran sm lanjutannya, ngepostnya jgn lama-lama ya eon ^^
    semangat ya bikin next chap nya (‘-‘)9
    salamcipok!

  3. yahh eonni kemana aja, lama bener, aku sampe lupa ff ini, krn lama juga ga buka tweet.
    Pas muncul knp jadi ada konflik gini, kemana kris pergi, oh ya sini jonghyunnya siapa, cnblue, apa shinee

  4. oemji,,
    mulia bgt qmu kris,
    udah ganteng pinter lg,
    perfect,
    tp sayang lu ngilang dmi emak lu..

    emg sjak kpan lu pnya rasa ke min?
    Jngn2 lu emg inget dlu prnah knal ma min?

    hadeu,,
    next

  5. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    tuh kan mereka fallin in love
    pertanyaan-pertanyaan yg ada di dalam otakku belum terjawab semua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s