Bad Oppa or Good Oppa? (Chapter 4)

Title                               : Bad Oppa or Good Oppa?

Genre                            : romance, friendship, family

Author                           : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Length                            : Chaptered

Casts                                       : – Kris (EXO-M)

–         Kim Min Ah (OC)

–         Luhan (EXO-M)

–         Kai (EXO-K)

–         SuHo (EXO-K)

–         Lee Eun Hye (OC)

–         Jong Hyun (CN Blue)

–         Jung Jin Young (B1A4)

–         And the other EXO members

Chapter 4 : Memories

Ibu Kris memeluk lengan Kris dan membimbingnya ke meja makan. Aku hanya menunduk, dan ingin segera tidur di kamarku, tapi ayahku menghalangiku.

“Kau baik-baik saja, Min Ah sayang?” ayahku memegang pundakku. Aku mengangguk lemah.

Ibu Kris merangkul pundakku lembut. “Ayo kemari, Min Ah.., kau harus mencoba Lasagna buatanku. Kris sangat suka lasagna.”

Aku pun terpaksa menurut. Selama di meja makan, aku selalu menghindari tatapan mata Kris. Sial! Mau ditaruh di mana wajahku?! Tidak tahu hari ini adalah hari ulang tahun Kris, marah-marah dan kesal padanya seharian – tapi malah mendapatkan banyak surprise, banyak hadiah darinya.

Aku bahkan tidak tahu Kris suka lasagna. Padahal Kris tahu semua makanan favoritku!

“Kau suka sunset di sana?” tanya ibu Kris padaku, dengan lembut, sambil tersenyum hangat. Selama beberapa saat aku terpaku. Senyumannya agak mirip dengan senyum Kris. Senyum tulus Kris. Bukan senyum setengahnya yang biasa dia tampakkan.

“Mmmm…, ya.” Kataku. Perlahan memakan lasagna buatan ibu Kris.

Ibu Kris tersenyum lebar. “Aku tahu.., kau pasti akan suka suasana di tempat itu. Kris.., aku tidak mengira kau ternyata ingat tempat itu. Kalian merayakan ulang tahun Kris di sana?”

Aku melirik Kris. Kris hanya menatapku datar.

“Ng..ng..mmm…, sebenarnya….aku tidak tahu hari ini adalah ulang tahun Kris.” Kataku cepat. Lebih baik aku jujur kan?!

Aku tidak berani memandang Kris lagi.

Ibu Kris tertawa, begitupula dengan ayahku. Mereka berdua bertatapan penuh arti, lalu tersenyum lebar padaku.

“Min Ah sayang.., apa kau tidak ingat? Dulu kau pernah membuatkan boneka kelinci dari tanah liat untuk Kris saat ulang tahunnya?” tanya Ibu Kris. Aku sedikit bergidik. Tidak terbiasa dipanggil sayang oleh ibu Kris, dan rasanya aneh karena sekarang mau tak mau wanita itu menjadi ibuku juga.

“Boneka kelinci dari tanah liat?” aku sama sekali tidak ingat.

Kris mengerutkan keningnya. Kedua alis matanya yang tebal bertaut.

Ibu Kris tersenyum. “Sudah kuduga kalian tidak ingat.” Ibu Kris menatap ayahku. Ayahku mengelus bahunya lembut.

“Apakah dulu kita pernah bertemu?” tanyaku pada Kris.

Kris hanya mengangkat bahu-nya cuek. “Sepertinya tidak..” Kris menatap ibunya. “Tidak pernah ada yang memberiku boneka kelinci dari tanah liat….” Kata Kris. Tapi kata-kata terakhirnya menggantung, seolah ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ia katakan. Dengan kedua alis masih bertaut, Kris pun melanjutkan makan malam-nya. Lasagna favoritnya.

Dalam hati aku bertekad akan memberikan Kris hadiah. Besok.

Aku tidak mau terus-terusan merasa tidak enak karena bukannya memberi hadiah kepada Kris yang sedang ulang tahun, tapi malah mendapatkan banyak hadiah darinya!

Selama makan, Kris sering menatapku. Aku melotot padanya. Tapi Kris tidak balas membelalak seperti biasanya. Sepertinya ia terlalu sibuk mengingat-ingat.

******

APA YANG HARUS KUBERIKAN PADA KRIS?????

Aku sibuk mondar-mandir di dalam kamarku. Aku terlalu gengsi untuk bertanya pada ibu Kris apa saja yang Kris sukai. Dan kalau dipikir-pikir lagi.., Kris pasti tahu makanan apa saja yang kusuka karena dia bertanya pada pengurus rumah kami, Nyonya Han. Lalu.., bagaimana aku bisa tahu apa yang Kris sukai????

Musik.

Kris suka musik. Tapi apa yang bisa kuberikan padanya???? Tadi siang dengan mudahnya dia membeli grand piano yang mahal. Masa aku harus membelikan gitar listrik mahal untuknya????!!!

Tapi Kris memberiku biola cantik yang katanya dia beli di Prague….

Aaaarrrgghhhhh!!!!!

Aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur. Sekarang sudah pukul 11 malam. Aku tahu Eun Hye belum tidur. Tidak ada salahnya bertanya pada sahabatku itu.

“Yeoboseyo…” kata Eun Hye dengan suara aneh. Aku tahu rutinitas malamnya. Pasti sekarang dia sedang maskeran!

“Eun Hye. Hadiah apa yang cocok diberikan untuk cowok yang sedang ulang tahun?” Tanyaku cepat.

“Memangnya dulu saat mantan-mu ulang tahun…kau tidak pernah memberinya kado?” tanya Eun Hye dengan suara aneh. Kaku karena masker. Kemudian beberapa detik kemudian Eun Hye menjerit. “YAAAA!!! Kim Min Ah!!! Kado untuk siapa??? Kau punya cowok baru?? Kyaaaaa!!!! Aduh…aduh..masker-ku…”

Aku menjauhkan ponselku dari telinga. Sakit mendengar jeritan Eun Hye yang melengking itu.

“Cowok baru apanya?! Untuk Oppa tiri-ku.” Ujarku kesal.

“Ck..ck..ck.., untuk apa malam-malam begini kau repot-repot memikirkan hal itu sih, Min Ah? Sudah kuduga…ada yang aneh antara kau dan Kris. Kalian benar-benar saudara tiri? Sepertinya ada hidden agenda…”

“Hidden agenda apanya?!” tukasku. Makin kesal. Tapi kemudian terdiam. Benar juga. Kenapa aku repot-repot?! Tapi Kris…

Sebelum aku berpikir macam-macam, Eun Hye keburu nyerocos panjang lebar. “Cowok tidak melihat kado ulang tahun dari harganya, tapi dari siapa kado itu berasal. Yang penting…, kau memberinya dari hati. Kau bisa buat kue atau cokelat, atau apapun yang berasal dari hatimu. Kau bisa membuat kue dengan bentuk-bentuk atau hiasan bola misalnya. Cowok kan biasanya suka bola. Kris suka apa?”

Aku hanya terdiam. Kris suka apa? Dia suka musik. Tapi membuat hiasan gitar di atas kue terlalu sulit. Haruskah aku membuat kue bergambar angry bird? Meskipun aku tidak tahu kue apa yang ia suka. Tapi kurasa angry bird cocok untuknya. Lagipula…gambar angry bird kan banyak sekali di internet. Burung bulat dengan alis tebal itu sedang booming sekali akhir-akhir ini. Kedua alis matanya yang tebal juga mirip sekali dengan Kris!

“Oke.., gomawo Eun Hye…,” kataku riang.

“Ne…ne.., ck..ck..ck.., pasti ada sesuatu. Aku mencium sesuatu yang tidak beres!” Eun Hye sok detektif.

“Hahahaha. Dasar kepo! Tidak ada apa-ap…..” tiba-tiba saja aku teringat saat Kris menghapus darah di bibirku dengan bibirnya. Aaarrrggghhhh!!!!!

“Min Ah… Min Ah.., kau tidur ya?”

“Eh? Memangnya kau bilang apa?” tanyaku.

“Tsk! Sudahlah! Ayo cepat buat kue-nya. Kris ulang tahun besok?”

“Hari ini.” Jawabku lemas.

“Haaah??? Dan kau belum memberinya hadiah??? Adik tiri macam apa kau ini! Hahahaha.”

“Aku tahu. Sudah ya. Terima kasih masukannya.”

“Oke…semoga sukses! Kau mau bertaruh denganku?”

“Bertaruh apa?” tanyaku bingung.

“Bertaruh kalau kalian akan saling mencintai? Atau mungkin….sudah?”

“Hahahaha. Kau gila! Tidak mungkin.”

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, sayang. Kalian memang saudara tiri. Memangnya antara saudara tiri tidak boleh saling mencintai?”

“Dasar aneh!”

Eun Hye hanya terbahak-bahak. “Aku punya banyak teori, kau tahu? Sepertinya aku akan bertanya banyak hal pada ayahmu, dan ibu tirimu. Feelingku mengatakan…..”

“Sudah. Sudah.” Potongku kesal. “Aku harus cepat-cepat membuat kue.”

“Hahahaha. Baiklaaaah… ~~~ Oh ya, apa kau sudah tahu? Universitas kita akan mengirimkan mahasiswa tingkat akhir yang punya prestasi bagus dari tiap jurusan untuk ikut seminar di Jepang. Tiap jurusan mengirimkan 2 orang. Tidak dari semua jurusan juga sih.., dari fakultas teknik hanya jurusanmu dan teknik informatika. Luhan bilang…, dari Teknik Lingkungan yang terpilih kau. Huwaaaa… selamat! Hahaha. Aku dapat bocorannya tadi. Dari jurusanku sih..pastinya bukan aku. Hahaha.”

“Benarkah?” tanyaku. “Satu lagi siapa?”

“Ng..ng…aku tidak tahu. Luhan hanya memberi tahuku namamu saja. Luhan juga ikut ke Jepang. Kau bisa PDKT dengannya di sana, Min Ah! Hehehe.”

Aku hanya menghembuskan napas panjang. “Kau mau kulempar telur?!” kataku galak. Aku berjalan menuju dapur. Sepertinya semua orang sudah tertidur. Baguslah.

“Hahaha…, oke..oke…, aku tidak akan mengganggumu lagi. Selamat membuat kue untuk Kris tercinta. Hihihiii….”

Aku menahan diriku agar tidak berteriak pada Eun Hye. Bisa-bisa semuanya terbangun karena teriakanku.

Setelah mematikan handphone, aku pun mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat kue.

Aku memang tidak pandai memasak apalagi membuat kue! Tapi dulu aku pernah satu kali membuat kue brownies. Cukup mudah. Hanya tinggal mengikuti langkah-langkah di buku resep. Rasanya juga lumayan. Asal tidak terlalu gosong saja!

Hmmmm…, baiklah. Sudah kuputuskan! Aku akan membuat kue brownies berlapis gula-gula bergambar angry bird!

Aku melirik jam dinding. Pukul 3 pagi. Duh! Dapur kotor sekali! Banyak sekali telur, tepung, dan adonan yang terbuang sia-sia gara-gara eksperimen-ku!

Ting!

Aku membuka panggangan dengan hati-hati. Mengeluarkan kue brownies. Hmm.., wangi. Semoga saja rasanya juga seenak wanginya.

Hoaaahhhmmm. Aku menguap lebar. Besok aku harus memakai kacamata ke kampus. Kalau tidak, mataku pasti akan terlihat seperti mata panda!

Aku mengipasi kue yang masih panas itu agar cepat dingin. Tidak mungkin juga aku memasukkannya ke dalam lemari pendingin dalam keadaan panas!

Lama-lama tanganku mulai pegal. Waah.., bagaimana iniiii??? Sudah jam setengah 4 pagi!

Kue-nya sudah terasa hangat. Aku memasukkan kue itu ke dalam lemari pendingin selama 30 menit. Aku berusaha menahan rasa kantuk. Kalau aku tertidur, kemungkinan aku tidak akan bisa bangun dalam 30 menit ke depan. Bisa gawat!!! Apalagi aku ada kuliah pagi!

Pukul 4 lewat 15 dini hari. Aku mulai melapisi kue brownies panggang berbentuk persegi itu dengan cream warna-warni. Mencoba membuat angry bird.

Aaahhh!! Sial! Alis mata si angry bird terlalu panjang dan terlalu tebal!

Duuh.., ternyata membuat si burung pemarah ini susah juga! Kupikir gampang! Tapi ternyata…

“Kau sedang apa?”

DEG!

Suara berat ini…..

“Ng…ng…ng…” seperti pencuri yang ketahuan sedang mencuri, aku pun hanya bisa bengong dengan mulut menganga bego.

Perlahan…Kris berjalan menghampiriku sambil menatapku tajam. Wajah bangun tidur-nya tetap saja terlihat keren. Rambutnya acak-acakkan. Tapi tetap saja dia terlihat….

Aku menggelengkan kepalaku. Pasti gara-gara tidak tidur semalaman, otak-ku jadi rusak!

Kris sudah berdiri tepat di hadapanku! Matanya tertuju pada kue di atas meja.

“Angry bird?” Kris menaikkan sebelah alis matanya.

Aku menghembuskan napasku. Ya sudahlah…, terlanjur sudah ketahuan, tidak ada gunanya berpura-pura.

“Aku membuat kue ulang tahun untuk-mu. Tapi belum selesai aku menggambar si Mr.Angry Bird dengan cream-cream ini…kau keburu datang! YAAAAAA!!! Apa yang kau lakukan???” pekikku begitu melihat tangan Kris mencolek wajah si Angry Bird yang sudah hampir jadi.

“KAU MERUSAK ANGRY BIRD-KU!!!!” jeritku kesal.

Kris mendelik. “Kau bilang kue ini untukku? Berarti ini angry bird-ku kan?”

“Aisssh!!!!” aku mendesis dan menatap Kris yang hanya tersenyum miring.

Lalu, tanpa kuduga… Kris tertawa lepas!

“Hahahaha… kau lucu sekali, Miiin!” Kris mengacak-acak rambutku.

“YAH~!” bentakku. Menepis tangannya.

“Terima kasih.” Kata Kris simple sambil tersenyum tulus.

Lagi-lagi…, kenapa jantungku terasa aneh ketika melihat Kris tersenyum tulus seperti itu? Kedua matanya (yang biasanya melotot tajam) itu ikut tersenyum. Benar-benar seperti malaikat. Seperti dewa… Seperti….

“Boleh kumakan sekarang?” tanya Kris.

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Menepis pikiran aneh yang melintas di otak-ku yang mulai rusak ini!

“Tidak boleh?” tanya Kris bingung.

“Eh???” rupanya Kris salah mengartikan gelenganku. Aku juga menggeleng di saat yang tidak tepat ya?

“Makan saja.” Kataku. Kemudian menguap lebar.

Kris meraih ponsel-ku di atas meja, lalu memfoto kue yang kubuat. Kris mengarahkan kamera padaku.

“YAAA!!!!” bentakku sambil menutup wajah. Kris menyeringai dan memasukkan ponselku ke dalam saku celana-nya.

Kris mulai memotong kue hati-hati. Aku menatapnya penasaran.

“Enak?”

Kris mulai mengunyah. Menatapku tajam. Dingin.

Aku menghela napas. “Aku tahu, rasanya pasti mengerikan…”

“Enak.” Kris tersenyum polos. Aku tertegun. Satu lagi ekspresi wajah Kris yang baru kulihat. Aneh. Entah Kris yang aneh, atau otak-ku yang aneh. Atau jantung-ku? Atau seluruh tubuhku ini rasanya perlu di-servis karena sudah mulai error, terutama otak dan hati-ku!

“Aku akan menghabiskan kue-nya nanti. Jangan ada yang memakan kue ini selain aku.  Sekarang kau harus tidur.” Tiba-tiba saja Kris menggendongku menyamping. Bridal style.

Kris menggendongku menaiki tangga, menuju ke kamarku di lantai 2.

“Tidurlah. Tidak usah masuk kuliah pagi. Nanti kau lihat catatanku saja. Masuk saat praktikum siang saja. Arraseo?”

Aku hanya mengangguk dengan mata terpejam. “Kris…”

“Hmm?” Kami sudah hampir mencapai pintu kamarku.

“Aku akan pergi ke Tokyo. Seminar. Eun Hye bilang aku terpilih. Besok…eh, hari ini.. akan ada pengumuman resmi-nya.” Kataku. Masih dengan mata terpejam.

Kris berhenti sejenak. “Tokyo?” pandangannya menerawang. Seperti mengenang sesuatu.

Kris masuk ke dalam kamar, membaringkan tubuhku dengan hati-hati ke atas tempat tidur.

“Setelah ibuku meninggal, aku dan ayahku tinggal di Tokyo selama 2 tahun. Aaah.., kurasa aku merindukan Tokyo.” Cerocosku.

Kris menarik selimut, menutupi tubuhku. Kedua alis matanya bertaut.

“Apa yang kau pikirkan?” tanyaku.

Kris menggeleng, lalu menyentuh kepalaku dengan tangannya yang besar dan hangat. “Tidurlah…” dia tersenyum, kemudian pergi.

Aku menghembuskan napas panjang. Tak perlu menunggu waktu lama bagiku untuk masuk ke alam mimpi.

*******

Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela. Gorden kamarku masih tertutup. Perlahan aku membuka mata dan melirik jam. 11 siang! Sial! Dua jam lagi aku ada praktikum. Kris pasti sudah pergi sejak pagi. Aku akan menagih janjinya untuk meminjami-ku catatan.

Perutku keroncongan. Aku turun dari kamarku. Semoga masih tersisa banyak makanan di dapur.

“Annyeong.” Sapa seseorang sambil tersenyum ramah.

“Kau siapa?” tanyaku curiga. Menatap kiri dan kanan, kemudian bernapas lega saat melihat ibu Kris datang dari arah dapur.

Aku menutupi wajahku yang pasti terlihat berantakkan. Belum sempat cuci muka apalagi gosok gigi!

“Aku akan mengantarmu ke kampus.” Kata cowok berkulit tan itu.

Ibu Kris tersenyum padaku. “Kai teman baik Kris. Lebih baik kau diantar oleh Kai saja ya ke kampusnya, daripada menyetir sendiri. Oya.., aku membuat pasta kesukaanmu.” Ibu Kris menuntun tanganku ke dapur. Aku pun duduk dan karena lapar – tanpa berpikir apa-apa lagi – langsung saja melahap pasta buatan ibu Kris itu secepat kilat.

Apakah Kris memberi tahu ibunya tentang makanan kesukaanku? Ataukah ibu Kris tahu dari Nyonya Han lalu memberi tahu Kris? Atau Ibu Kris tahu dari ayahku?

“Saat masih kecil…, kau bilang pasta buatanku enak sekali. Apakah sekarang masih enak?” tanya ibu Kris dengan mata berbinar.

Aku berhenti mengunyah. “Dulu kita pernah bertemu?” tanyaku.

Ibu Kris mengangguk. “Hmmm. Cukup sering. Tapi mungkin kau tidak ingat karena masih kecil.”

Tiba-tiba saja nafsu makan-ku menghilang. Jadi, Ibu Kris dan ayahku sudah sering bertemu sejak dulu? Sejak ibuku masih hidup?

Aku membanting garpu-ku di atas piring. Ibu Kris terkejut.

“Aku mau mandi.” Kataku. Segera pergi dari ruang makan.

Saat melewati ruang tamu, si cowok berkulit tan itu tersenyum lagi padaku. “Sudah selesai makan?”

Tanpa repot-repot menjawab pertanyaan-nya, aku hanya terus berlari menuju kamarku.

Aku tidak mau bertemu lagi dengan ibu Kris! Dengan ayahku juga! Lebih baik aku segera pergi ke kampus. Segera pergi ke Tokyo untuk seminar. Aaah.., sepertinya tinggal selamanya di Tokyo sendirian juga ide yang bagus. Aku tidak perlu bertemu dengan ayahku dan dengan ibu Kris!

Tapi Kris….

Aku menggelengkan kepalaku, dan cepat-cepat masuk ke kamar mandi.

Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku segera meraih tas dan kunci mobilku.

“Kau siap?” tanya cowok di ruang tamu.

“Aku pergi sendiri saja.” Kataku.

Cowok itu menahan tanganku. Dia menatapku tajam. “Ini perintah Kris.”

Aku mendengus. Dia pikir Kris raja ya?!

Cowok itu meraih kunci mobil-ku dan meletakkannya di atas sofa. Menuntun tanganku dengan agak kasar. Terpaksa aku mengikutinya, karena genggaman tangannya kuat sekali.

“Hati-hati di jalan, Min Ah.., Kai..” Ibu Kris melambaikan tangannya sambil tersenyum lembut.

Cowok bernama Kai itu balas melambai dan tersenyum. Sementara aku hanya memasang tampang datar.

Aku pun masuk ke dalam Audi hitam Kai. “Namaku Kim Jong In. Tapi kau bisa memanggilku Kai. Orang-orang yang dekat denganku biasa memanggilku Kai.” Cowok itu berkata ramah.

“Tapi aku tidak dekat denganmu.” Kataku dingin.

Kai tertawa. Lalu mulai memacu mobil-nya dengan kecepatan sedang.

“Kita pernah bertemu di café saat aku dan Kris manggung. Aku drummer dan dancer. Mungkin kau tidak ingat. Tapi aku ingat wajahmu karena Kris terus membicarakanmu.”

Aku mengamati wajah Kai baik-baik. Benar juga. Wajahnya terasa tidak asing.

“Apa yang Kris katakan tentangku?” tanyaku. “Dia menjelek-jelekkanku kan?”

Kai terbahak-bahak. Lalu tersenyum sambil sesekali melirikku. “Kau tahu? Bila Kris mengganggumu, mem-bully-mu, itu berarti tandanya dia peduli padamu. Tapi kalau dia mengacuhkanmu, berarti dia menghindarimu dan tidak peduli padamu.”

“Benarkah? Kau pernah di bully olehnya?”

Kai tersenyum. “Selalu.”

Aku ikut tersenyum. Entah kenapa, tapi sepertinya aku mulai merasa Kai orang yang menyenangkan.

Kami sampai di depan gedung fakultas teknik.

Kai menatapku lekat-lekat. “Min Ah ssi, sebenarnya…saat di café itu.., aku bertanya-tanya… apakah sebelumnya kita pernah bertemu juga? Apakah saat… hmmm.., high school? Apakah kau pernah tinggal di Kanada?”

Aku menggeleng. “Tidak.”

Kai tampak kecewa. “Tapi kalian mirip.”

“Siapa?”

“Kau dan gadis itu. Gadis yang melihat street performance aku dan Kris untuk yang pertama kalinya, saat di Kanada dulu. Gadis yang menarik perhatian kami.” Kai tersenyum. Seperti mengenang sesuatu yang membahagiakan.

Aku tertawa. “Meskipun dulu aku pernah berlibur ke Kanada, tapi sepertinya gadis yang kau maksud bukan aku. Bagaimana mungkin hanya dalam sekejap aku bisa menarik perhatian Kris yang…?” lalu aku terdiam begitu menyadari ke arah mana mulut sialan ini menuju.

Kai masih mengamatiku dengan saksama. “Aku akan meminta Alex mengirimkan lukisannya. Dia sempat melukis gadis itu dulu…”

“Hahahaha. Baiklah. Tunjukkan padaku nanti, Kai. Aku yakin aku belum pernah bertemu kau dan Kris di Kanada.”

“Oke.” Kai nyengir lebar.

“Kau kuliah di sini juga?” tanyaku.

Kai menggeleng. “Aku di sungkyungkwan. Sudah 3 tahun aku kembali ke Korea. Aku teman baik Kris saat senior high. Oh ya.., lain kali kau harus kenalan dengan kedua teman band kami yang lain : Lay dan ChanYeol. Sebenarnya ada Alex, tapi dia masih tinggal di Kanada.”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Sampai nanti..” Kai melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. Aku balas melambaikan tanganku. Benar. Kai orang yang menyenangkan.

Begitu keluar dari mobil Kai, Mi Young – teman sekelasku – langsung menghampiriku. “Min Ah…Min Ah.., kau kenapa tidak masuk tadi pagi? Oh ya.., chukkae karena terpilih pergi ke Jepang!!!!” Mi Young memelukku.

“Gomawo Mi Young ~ah..” aku balas memeluknya.

“Eh..eh.., cepat ke gymassium. Anak-anak yang terpilih disuruh berkumpul di sana. Barusan ketua murid kita yang bawel…, Byun Baek Hyun meneleponku. Dia marah-marah padaku karena tidak bisa menghubungi ponselmu.”

“Astaga!” aku menepuk jidatku. Ponsel-ku masih ada di Kris! Kris belum mengembalikan ponsel-ku tadi pagi setelah dengan seenaknya mengambil foto-ku dan foto kue buatanku!

“Sudah..sudah..ayo cepat ke gymnasium. Nanti kau ketinggalan info. Huwaaaa.., Min Ah.., pokoknya aku mau oleh-oleh yang banyak dari Jepang ya! Hehehe.”

“Siip.” Aku mengacungkan ibu jari-ku, kemudian segera berlari menuju gymnasium yang terletak dekat gedung MIPA.

Ada cukup banyak orang di gymnasium. Kira-kira 30-an mahasiswa dari berbagai jurusan. Dari Teknik Lingkungan..kira-kira selain aku… siapa yang terpilih ya? Baek Hyun kah? Aaahh…, benar saja! Si ketua kelas-ku, Baek Hyun, terlihat sedang mengobrol dengan beberapa anak dari jurusan lain.

“Kim Min Ah!!!” Luhan melambaikan tangannya sambil tersenyum cerah. Dia menghampiriku. “Kau senang bisa terpilih pergi ke Jepang?” tanyanya dengan mata berbinar.

“Hmmm.” Aku mengangguk.

“Eun Hye bilang….dulu kau lumayan lama tinggal di Jepang. Kau mau menjadi guide-ku selama di sana?” tanya Luhan. Masih tersenyum cerah.

Aku tertawa pelan. “Tergantung berapa bayaran-nya. Jadi guide itu dibayar mahal lho…” kami berdua pun tertawa.

“Luhan…, kemarilah..” tiba-tiba dosen Kimia berkumis tebal memanggil Luhan.

“Sampai nanti, Min Ah….” Luhan melambaikan tangan sebelum pergi.

Aku memandang berkeliling. Rata-rata anak-anak didampingi satu orang dosen dari jurusan masing-masing. Mana dosen-ku???

Beberapa anak menyapaku. Ada Min Hyuk dari jurusan seni rupa. SeungRi dari jurusan arsitektur. Victoria dari jurusan seni musik.

Kemudian…detik itu lah waktu terasa berhenti. Seorang cowok tinggi, putih, berambut hitam agak gondrong- menatapku. Dia berdiri bersama seorang teman satu jurusannya. Manajemen bisnis.

Tolong jangan datang kemari….tolong…

Tapi cowok itu terus berjalan mendekat ke arahku.

Aku tahu…aku sangat membenci cowok itu. Tapi harus kuakui, jauh di dalam lubuk hatiku…aku merindukannya.

Keringat dingin mulai membasahi keningku. Aku ingin pergi dari sana, tapi kaki-ku terasa kaku.

“Min Ah…” Jong Hyun berdiri tepat di hadapanku sambil tersenyum. Senyum khas-nya yang sangat kubenci, tapi sangat kurindukan itu.

Aku hanya terdiam. Mulut-ku seolah terkunci rapat.

“Kau ada di sini rupanya.” Tiba-tiba saja datang seorang cowok.

“Kris???” aku menatap Kris bingung.

Kris tersenyum padaku sambil memeluk pinggang-ku dengan sebelah lengannya.

“Apakah kau juga pergi ke…?”

Kris tersenyum. “Jepang. Aku akan pergi bersama-mu. Aku tamu khusus.” Kris mengedipkan sebelah matanya.

Kris merapikan ikatan rambut-ku yang acak-acakkan. Wajahku merona merah. Aku tahu semua orang kini memperhatikan kami. Selain Eun Hye dan Mi Young.., tidak ada yang tahu hubunganku dan Kris yang sebenarnya. Mi Young sih tidak mau memberi tahu yang lain karena dia pikir asyik melihat sikap cewek-cewek penggemar Kris padaku. Sementara Eun Hye yang aneh justru selalu menolak saat aku menyebut Kris kakak tiriku. Eun Hye masih yakin dengan teori gila-nya!

Kris merapikan poni-ku juga. Seolah tidak peduli dengan semua orang. Terlebih Jong Hyun.

“Ayo..,” Kris menggenggam tanganku, menuntunku menjauhi Jong Hyun. Jong Hyun hanya membelalakkan matanya.

Kami berjalan menghampiri Baek Hyun. Kris berbisik di telingaku, “Kau berhutang padaku, Miin. Dia cowok yang kita lihat di restoran Jerman waktu itu kan? Cowok yang membuatmu benci cerita-cerita romantis?”

Aku hanya menatap Kris. Bagaimana dia bisa tahu?

Kris tersenyum miring. “Kau itu mudah sekali dibaca, Miin. Berhati-hatilah.” Kris menyeringai.

“YAAAAA!!!! Kau ke mana saja? Kenapa tadi pagi tidak masuk kuliah? Aku meneleponmu berkali-kali tapi tidak kau angkat, hah?!” cerocos Baek Hyun.

Kris menatapku. “Ponsel-mu ada di kamarku. Aku lupa mengembalikannya, Miin.”

“Aiisshhh!! Jinja!!!” desis Baek Hyun. “Jadi semalam kalian bersama? Di kamar Kris? Mana PJ buatku hah??? Kalian berdua kan anak buah-ku di kelas..,” sikap bossy dan sok tahu Baek Hyun mulai muncul. Duh! Mana suara Baek Hyun kencang sekali lagi!

Aku menendang tulang kering Baek Hyun dengan keras.

“Aduh! YAAAA!!!” Pekik Baek Hyun. Aku menjulurkan lidahku. Dasar ketua kelas sok dan bawel!

Kris menertawai kami. Aku pun menendang tulang kering Kris. Kris tidak berteriak. Dia hanya melotot tajam padaku.

Kedua orang aneh ini memang sudah seharusnya mendapat balasan setimpal atas perbuatan mereka yang suka seenak jidat! Gara-gara kata-kata Baek Hyun yang sok tahu, dan ulah Kris yang seenaknya tanpa pikir panjang dan tanpa memedulikanku dan sekitar-ku, kini semua orang pasti membicarakan-ku! Padahal aku benci jadi bahan gossip!

Baek Hyun masih mengelus kaki-nya yang kesakitan. Sementara Kris masih tetap menatapku dengan tatapan dingin-nya. Aku berani bertaruh, Kris menahan rasa sakit. Dasar cowok jaim! Sok cool!

Hah! Rasakan Kris! Baek Hyun!

–          TBC –

16 thoughts on “Bad Oppa or Good Oppa? (Chapter 4)

  1. kyaaa kriss unyu banget sumpah >.<
    sumpah aku sering banget ngecek blog ini cuma mau liat next partnya udh keluar apa belom, ternyata udah wahhhhh
    min ah kok jahat banget sama eommanya kris?😦
    next part yang cepet ya thor :*

    • aduh,,,jadi terharu..
      gomawo yah udh baca ^_^
      min ah nggak jahat kok…dia cuma sakit hati gara2 ayahnya nikah lagi sama wanita lain (eomma kris). hehe
      oke,,,ditunggu yaa next chapter-nya. mungkin agak lama juga, soalnya lagi banyak tugas nih😦

  2. Wakakak kasian si baekki ya *pukpuk
    mpus, si jong hyun cembukur noh
    cie si angry bird sok jaim wkwk
    part ini keren bgt thor😀
    eh trs itu, kok si kai jg kenal sm min ? Apa emg min itu emg bner yg diliat di kanada ? Ato mungkin dia amnesia ? *reader sotoy
    overall this is good ff😀

  3. Huaaa thor, kenapa sama kris ? Kok dia pergi ?
    Terus hubungan mereka gimana ? *histeris tingkat 7
    lama kelamaan ff’nya bagus, alur ceritanya juga rapi apalagi konfliknya mulai berkembang😀
    lanjut thor😀

  4. Beruntungnya Minah! Wah aku penasaran bgt thor hubungan Kris dulu wktu masih kecil apa… Trs siapa cewek yg di Kanada wkwkwk… Tapi, AKU MAU JADI MIN AH TT_TT iri banget huhuhuhuhu… Author aku gatau mau comment apalagi. Aku emang udh cinta sama cerita ini~ Keep writing thor^^

  5. pnasaran w ma kris,
    sypa dy sbnrny?
    koq bsa apa aja,
    kayak jini aje,,

    emang nya emak nya kris udah knal lma ma kluarganya min?

  6. jangan sampe mereka fallin in love >.<
    ada sebuah rahasia antara kris-min ah di mana min ah bisa jadi merupakan masa lalu kris
    apa min ah amnesia sehingga dia gk ingat masa lalunya sama kris???
    sepertinya kris ingat tapi pura-pura lupa ttg masa lalunya dg min ah di depan gadis itu
    apalagi perkataan kai yg bikin penasaran
    hmmmmmm…. makin kepo sama masa lalu mereka
    terus masa lalunya jonghyun-min ah yg buat dia sakit hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s