Malaikat Sayap Putih, Hitam, atau Abu? (Chapter 2)

Malaikat Sayap Putih, Hitam, atau Abu? (Chapter 2)

 

Title     : Malaikat Sayap Putih, Hitam, atau Abu?

Genre  : romance, friendship, family

Author : Azumi Aozora

Length : Chaptered

Casts :

  1. Krystal (Jung Soo Jung)
  2. Kai (Kim Jong In)
  3. Shim Chang Min
  4. Lee Tae Min
  5. Key
  6. No Min Woo (Ex member Trax)
  7. Baek Hyun
  8. Su Ho
  9. Kim Jae Joong
  10. Jessica
  11. Another EXO, SHINee, f(x), TVXQ, and SNSD member

–          Chapter 2 –

8 tahun yang lalu….aku hanyalah seorang gadis berusia 10 tahun. Masih tinggal di San Francisco, California – meskipun sering berkunjung ke Korea. Kakak perempuanku, Jessica, sudah bergabung dengan label terkenal di Korea : SM Entertaiment. 5 tahun sebelumnya, SM menawariku untuk bergabung. Menjadi trainee. Tapi orangtua-ku tidak setuju. Saat itu aku masih berumur 5 tahun. Masih sangat muda. Tapi akhirnya orangtua-ku mengizinkanku tampil dalam berbagai iklan dan menjadi bintang video musik penyanyi-penyanyi Korea.

Sampai kemudian, pada tahun 2006, aku resmi menjadi trainee SM entertainment. Meski sebelumnya aku sempat beberapa kali bekerja untuk SM, tapi dulu aku bukan trainee. Baru pada tahun 2006-lah aku resmi menjadi trainee. Belajar menyanyi, dance, akting, dll.

Saat berumur 10 tahun itulah, aku…. si gadis aneh bertampang Korea tapi tidak terlalu lancar bicara bahasa Korea. Si gadis kecil yang sering dikira “kakak”-nya Jessica, karena tubuhku jauh lebih tinggi dari Jessica. Si gadis aneh yang sering dikira sombong ini bertemu dengan seorang laki-laki aneh, dengan dandanan aneh, yang anehnya bisa membuatku nyaman dan bahagia. Yang anehnya, si pria aneh itu bisa mengerti aku. Si gadis aneh. Mungkin karena kami sama-sama aneh.

Rambut pria itu di-cat putih, lalu hari berikutnya di cat pirang, lalu cokelat, lalu hitam, dengan model aneh-aneh. Gaya berpakaiannya pun aneh. Seperti orang-orang yang cosplay ala visual kei. Seperti personel band-band Jepang yang bergaya harajuku dengan dandanan V-Kei.

Sepertinya aku pernah melihatnya dua tahun yang lalu sebelum aku resmi bergabung dengan SME. Satu tahun yang lalu juga sepertinya aku melihatnya tampil di atas panggung. Bermain drum. Dengan dandanan dan gaya aneh, yang anehnya membuatku tidak bisa berkedip.

Nama panggungnya pun sangat aneh. Rose. Seperti nama cewek saja! Aku hampir tertawa saat kami berkenalan di gedung SME. Dia hanya melotot padaku. Tahu dalam hati aku menertawainya. Mungkin dalam hati dia juga menertawaiku.

Namja itu lebih tua 8 tahun dariku. Tapi aku tidak terlalu kelihatan seperti anak kecil bila bersamanya, karena tubuhku tinggi. Aku sudah biasa dikira kakak-nya Jessica!

Tahun 2006, hanya beberapa bulan setelah kami berkenalan, dia berhenti jadi drummer The Trax. Dia masih tetap di SME, hanya saja dia lebih fokus ke akting. Ia ingin menjadi aktor yang hebat.

Namja itu memotong pendek rambutnya dan mengecat rambutnya jadi hitam. Normal. Gaya berpakaiannya masih berbau harajuku, tapi tidak se-aneh sebelumnya. Dia kelihatan lebih normal. Tapi aku tahu…, dia tidak pernah bisa menghilangkan predikat “aneh” dari dirinya, selama ia selalu bersama denganku. Si cewek aneh.

“Krystal…., tadaaaaaa…., tebak siapa aku? Aku tampan kan?” ujar namja itu begitu ia memotong rambut-nya. Ia selalu memanggilku Krystal. Nama Krystal adalah ide-nya. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu apa alasan dia memanggilku Krystal. Dan sampai sekarang aku tetap menggunakan nama Krystal sebagai nama panggung-ku.

“Rose! Tentu saja kau Rose! Hahahaha…” aku terbahak-bahak. Ingat pertemuan pertama kami dulu. Saat itu dia seperti benar-benar ingin memakanku hidup-hidup saat aku menahan tawa.

Namja itu selalu menjadi yang pertama dan yang segalanya untukku.

Dia selalu mendukungku agar tidak menyerah meraih mimpi-mimpiku. Dia juga orang yang memarahiku habis-habisan ketika aku menjadi sombong setelah tampil dalam video klip Rain – penyanyi dan aktor yang sangat terkenal di Asia.

Kehidupanku menjadi sangat berwarna-warni karena kehadiran si malaikat bersayap putih yang sayapnya berubah menjadi pelangi.

Aku tahu aku aneh. Aku sering menganalogikan laki-laki dengan malaikat bersayap, yang punya warna berbeda-beda.

Aku menganalogikan namja-namja baik, yang selalu tulus membantuku, berteman denganku-  sebagai malaikat sayap putih. Tae Min dan Key adalah beberapa contoh malaikat bersayap putih. Dan yang paling putih tentu saja Chang Min Oppa. Aku sudah mengenalnya sejak tahun 2002. Ia namja paling tulus yang pernah kutemui. Malaikat sayap putih yang paling kukagumi.

Namja-namja jahat, menyebalkan, yang selalu membuatku menangis, yang membenciku – kuanggap malaikat bersayap hitam. Saat menjadi trainee, ada 1 orang namja yang sering menggangguku. Dia lebih menyebalkan daripada Kai. Dan untungnya dia keluar dari SME sebelum ia berhasil debut.

Sejak dulu aku tidak pernah tahu… Kai termasuk malaikat bersayap hitam atau putih. Dia sering menyebalkan. Tapi aku tahu, aku juga bersikap menyebalkan padanya. Dia membenciku, dan aku membencinya. Kita impas. Tapi dia juga pernah menolongku 1 kali. 1 kali yang sangat berarti bagiku. Jadi mungkin dia abu-abu.

Dan di seluruh jagad raya ini.., hanya ada 1 malaikat bersayap pelangi. Awalnya ia bersayap putih, lalu berubah menjadi pelangi seiring berjalannya waktu.

Selama 2 tahun, ia adalah malaikat bersayap pelangi bagiku. Sampai kemudian, di akhir tahun 2008, sebelum aku debut, ia menjadi malaikat bersayap hitam.

Rose. No Min Woo. Malaikat sayap hitam-ku.

 

Entah sudah berapa lama aku tertidur di van. Mungkin hanya 10 menit. Ya, 10 menit yang rasanya se-abad.

Kami pun akhirnya sampai di gedung SME. Banyak sekali wartawan, fans, antifans yang berkerumun di depan gedung. Van kami kesulitan parkir di depan. Akhirnya kami lewat jalan alternative yang langsung menghubungkan kami ke basement gedung.

Mimpiku aneh. Tentang malaikat-malaikat bersayap.

Aku hanya tersenyum sinis. Menyadari, mimpi-mimpi itu adalah kenangan masa lalu-ku.

“Soo Jung ~ah!!!!!” Victoria, Sulli, Luna, dan Tae Min sudah menungguku di basement. Langsung saja Vic eonni memelukku. “Aigoo ~~~ uri Krystal. Kau baik-baik saja?”

Entah kenapa telingaku terasa sakit mendengar kata “Krystal”. Mungkin karena aku teringat masa laluku. Teringat kata-kata malaikat sayap hitam-ku yang terdengar jelas lewat mimpiku barusan.

Tae Min menepuk-nepuk pundakku sambil tersenyum menyemangati. Sulli eonni dan Luna eonni memberikan semangat mereka lewat genggaman tangan. Sulli eonni menggenggam tangan kananku, sementara Luna eonni tangan kiri-ku. Vic eonni berjalan di depan kami, dan Tae Min di belakang kami.

“Kalian seperti bodyguard.” Ujarku.

Victoria, Luna, Sulli, dan Tae Min hanya tertawa.

“Kami pengawal-mu, Princess Krystal.” Kata Tae Min sambil membungkukkan badannya. Aku hanya tertawa. Tae Min tahu aku sangat tergila-gila pada cerita fantasi. Dan di dunia ini… hanya ada 2 orang yang tahu aku sering menganalogikan namja dengan malaikat bersayap. Orang itu adalah Tae Min dan Victoria eonni. Kedua orang itu jugalah yang tahu segala hal tentangku. Yang selalu mengerti perasaanku.

Lee Soo Man sajangnim sudah menungguku di ruangannya. Kai sudah duduk di ruangan itu. Aku masuk dengan yakin dan berani. Aku tidak takut pada apa yang akan menantiku. Aku hanya mengkhawatirkan Kai. 10 tahun bekerja bersama sajangnim membuatku mengerti orang seperti apa dia. Meski belum sepenuhnya mengerti.

Sejak dulu…., sebelum aku menjadi trainee, setelah resmi menjadi trainee, setelah debut, bahkan sampai sekarang…. Orang-orang bilang aku adalah anak kesayangan sajangnim.

Aku berharap…. Aku bukanlah anak kesayangannya. Seharusnya.., 4,5 tahun yang lalu (hampir 5 tahun) aku-lah yang dikeluarkan. Seharusnya aku tidak pernah debut. Seharusnya Min Woo Oppa tidak pantas diperlakukan tidak adil.

“Soo Jung.., ayo kemari, dan duduk-lah.” Pinta sajangnim lembut.

Aku masih berdiri 1 meter dari pintu. Kai menoleh ke belakang. Cepat-cepat aku memalingkan wajah. Takut Kai melihat air mataku yang hampir menetes.

“Sajangnim.., aku tidak akan terima bila sajangnim menghentikan semua aktivitas Kai. Dan aku akan keluar dari SM seandainya sajangnim mengeluarkan Kai dari SM.” Kataku. Masih berdiri. Kali ini aku berdiri tepat di hadapan Lee Soo Man.

Lee Soo Man tertawa keras. Aku tahu, aku keterlaluan. Tapi tidak ada gunanya bersikap lembek di hadapan orang semacam Lee Soo Man.

“Hahahaha…, tenang Soo Jung…tenang. Tidak akan ada yang kukeluarkan. Bahkan 4 tahun lalu pun tidak ada yang kukeluarkan, bukan? Min Woo keluar karena keinginanya sendiri.”

Aku meremas tanganku sampai terasa perih. Menatap sajangnim berapi-api. Kai menatapku aneh.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku pada akhirnya. Duduk dengan punggung tegak. Mencoba bersikap tenang.

Lee Soo Man tersenyum lebar. Penuh kemenangan.

“Kau dan Kai akan bergabung dalam acara We Got Married bulan depan. Syutingnya mulai minggu ini.”

Kai membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Tahu kata-kata sajangnim tidak akan bisa dibantah.

“Bagaimana kalau kami menghancurkan rating WGM? Kami tidak cocok.” Kataku berani. Kai membelalakkan matanya padaku. Mungkin heran dengan keberanianku menentang sajangnim.

Seandainya Kai tahu.., sejak dulu aku memang selalu menentang sajangnim.

Lee Soo Man tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kalian justru akan menaikkan rating. Konsep kalian berbeda dari sebelumnya. Aku yakin orang-orang akan melihat kesungguhan kalian. Satu pesanku : bersikap seperti biasa-lah saat syuting. Aku suka kejujuran kalian. Oke. Kalian boleh pergi. Aku ada rapat.”

Kai berdiri, membungkukkan badannya dengan patuh dan hormat. Sementara aku masih duduk di kursiku. Kali ini sambil menyandarkan punggung dan menyilangkan kaki. Kai melotot padaku.

“Sajangnim…, kenapa sajangnim tidak mengeluarkan kami? Atau setidaknya memaksa kami menulis surat pengunduran diri? Di masa lalu…, sajangnim berhasil memaksa seseorang untuk mengundurkan diri. Dan karena sajangnim, dia menyakitiku.”

“Hahahaha….” Lee Soo Man tertawa terbahak-bahak. Kai masih berdiri. Ikut menatapnya. Penasaran.

“Kau membenciku, Soo Jung ssi?” tanya Lee Soo Man.

“Tidak. Aku hanya membenci diriku.”

Lee Soo Man menggeleng. “Jangan. Jangan benci dirimu. Kasus kali ini berbeda. Hanya masalah sepele. Dan kalian berdua adalah anak favoritku. Jangan mengecewakanku, Soo Jung, Jong In.”

Aku berdiri. “Aku berharap, aku bukanlah anak favoritmu, sajangnim. Sehingga sejak dulu kau bisa membuangku. Permisi.” Kataku tegas, tanpa membungkuk sopan seperti Kai, aku hanya langsung berjalan pergi dengan cepat dari ruangan itu.

********

Berita tentang keikutsertaan aku dan Kai dalam WGM langsung menyebar luas. Aku tidak ambil pusing. Aku tidak peduli apa yang orang-orang katakan tentangku.

Suatu siang, setelah syuting WGM, aku duduk di kantin SME sendirian. Aku tidak bernafsu makan. Jadi aku hanya membaringkan kepalaku di atas meja.

“Soo Jung~ah!!!!!” panggil suara riang. Suara Tae Min. Aku masih membaringkan kepala.

“Kau mau ice cream? Atau vanilla late? Atau cupcakes? Atau cokelat?” Tae Min meletakkan semua yang ia sebutkan barusan di atas meja. Aku hanya menghela nafas panjang.

“Mungkin dulu aku memang terlalu muda untuk berpikir jernih.” Kataku.

“Eh?” Tae Min bingung. Ia mengikutiku. Menempelkan pipi di atas meja. Kami saling bertatapan.

“Sekarang pun kau masih muda. Dan kedewasaan itu tidak ditentukan umur. Kau sudah dewasa sejak dulu.” Kata Tae Min. Tersenyum cute dan polos.

Aku ikut tersenyum. Sahabatku yang satu ini selalu bisa menularkan senyumnya padaku.

“Hhhh.., mungkin aku terlalu banyak berpikir.” Kataku.

“Mungkin kau hanya merindukan seseorang.” Kata Tae Min. Aku menatapnya sambil mengangkat sebelah alis mataku. Tae Min tersenyum. “Malaikat sayap hitam-mu. Mungkin sejak dulu sayapnya tetap berwarna pelangi. Kau ingin sayapnya berubah hitam. Tapi nyatanya ia selalu pelangi.”

Aku tersenyum sedih. “Kau tahu bagaimana aku, Tae Minnie. Bedanya kau lebih berani bicara dibanding hatiku yang bicara. Mungkin memang begitu. Aku hanya takut mengakuinya. Gomawo Tae Minnie~ sudah menyuarakan hatiku yang pengecut.”

Tae Min terkekeh. “Masih saja sinis dan aneh.”

Aku tersenyum. Menganggapnya pujian.

“Dan kau orang aneh yang mau berteman denganku.” Balasku.

“Orang aneh di depanku sedang merindukan orang paling aneh sejagad raya. Adaaww!!!” Tae Min mengelus-elus kepalanya yang kupukul cukup keras. “Appo.., sakiit..” Tae Min menatapku dengan puppy eyes-nya.

Aku hanya mendengus dan menyilangkan tangan di depan dada. “Mulai sekarang…, berhenti menyuarakan hatiku. Oke?”

“Oke.” Tae Min membentuk huruf O dengan jarinya. “Ayo makan. Semuanya untukmu.” Tae Min tersenyum lagi. Tanpa disuruh untuk yang ke-3 kalinya, aku langsung melahap habis semua makanan dan minuman yang Tae Min berikan.

******

Acara WGM Kai dan aku belum tayang di televisi. Tapi kami sudah mulai syuting untuk episode 1 dan 2. Hari ini kami harus retake beberapa adegan di episode 2. Kami punya script, tapi selebihnya sajangnim ingin aku dan Kai bertindak dan berbicara secara natural.

Sore ini kami retake adegan jalan-jalan kami di pusat perbelanjaan. Mencari-cari sepatu yang bagus untuk Kai dan aku. PD-nim kurang puas dengan hasil syuting kami waktu itu. Dan sepertinya sekarang pun dia tidak puas.

“Krystal-ssi…, ayolaah.., yang alami saja. Bersikap seperti kau yang biasanya. Pemberani, penuh percaya diri, dan aku suka pertengkaran-pertengkaran konyol kalian.” Ujar PD-nim.

Aku menatap sekelilingku. Sebelum-sebelumnya, syuting selalu dilakukan di tempat yang tidak terlalu banyak orang. Tapi di sini, semua orang berkerumun. Membawa poster. Banner. Dukungan maupun cacian. Semua ada.

PD-nim menyadari perubahan ekspresiku. “Tidak usah pedulikan mereka. Haters.., antifans.., semua orang pasti punya. Apalagi kau artis terkenal.”

Aku tahu wajahku kini pasti terlihat sangat pucat. Bukan. Bukan karena orang-orang itu mencaci maki diriku lewat tulisan.

Aku tidak melihat mereka. Aku melihat lewat mereka. Aku melihat dengan jelas kejadian 4,5 tahun lalu lewat mereka. Yang kulihat kini adalah orang-orang yang dulu. Yang membenciku. Yang membenci Min Woo Oppa.

Yang kulihat kini adalah masa lalu….

*flashback*

No Min Woo merangkul pundakku dengan sebelah lengannya. Ia menyembunyikan wajahku di dada-nya yang bidang, dan menutupi rambut serta kepalaku dengan jaket-nya.

Suara wartawan, jepretan kamera, kilasan cahaya yang menyilaukan. Makian. Seruan. Suara-suara tak sabar. Semuanya bercampur jadi satu.

“No Min Woo ssi.., apakah benar kau akan menikahi gadis berusia 13 tahun? Perbedaan umur kalian 8 tahun, apakah orang tua gadis itu setuju?”

“Siapa gadis itu sebenarnya? Kenapa kau selalu menutupinya dari publik? Apakah dia tidak cantik?”

“Kabarnya gadis itu sekolah di sekolah Internasional. Apakah ia orang asing?”

“Benarkah gadis itu adalah trainee SM Entertaiment? Benarkah begitu, No Min Woo ssi? Siapa namanya? Kapan dia akan debut? Apakah Lee Soo Man akan mengizinkan seorang trainee yang punya skandal untuk debut?”

Pelukan Min Woo Oppa semakin erat begitu ia mendengar pertanyaan barusan. Selama ini, bila kami berkencan di luar, Min Woo Oppa  selalu menyamarkan wajah kami. Kami bahkan niat sekali di make over menjadi seperti bukan diri kami oleh stylist professional. Pernah juga kami makan di restoran dengan memakai topeng.

Tapi suatu hari, ketika aku mendengar Min Woo Oppa sakit, tanpa pikir panjang aku langsung menuju apartemennya. Menerebos wartawan yang berkumpul di depan apartemennya.

Mulai saat itulah sajangnim melarang hubungan kami. Dia berhasil melenyapkan foto-foto wajahku yang sempat terambil oleh beberapa wartawan. Sajangnim orang yang sangat berpengaruh. Dia bisa melakukan apa saja.

Tapi gossip tidak berhenti sampai di situ, netizen penasaran siapa diriku yang sebenarnya. Selama hampir 3 bulan, aku tidak masuk sekolah. Hidupku terasa seperti burung yang berada di dalam sangkar. Semuanya mengawasiku. Bahkan Min Woo Oppa dan kakak kandungku sendiripun (Jessica) tidak diizinkan menemuiku.

Gossip semakin gila. Orang-orang penyebar hoax memang gila. Hal yang mustahil pun dibuat-buat ada.

Menyebar lagi gossip Min Woo Oppa menghamiliku. Orang-orang percaya, dan membenci Min Woo Oppa.

Ada juga gossip Min Woo Oppa akan pergi dari Korea bersamaku. Dan netizen semakin yakin aku adalah trainee SME.

Saat itu aku tidak peduli pada debut-ku yang tinggal kurang dari 1 tahun lagi (dari rencana sajangnim). Aku tidak peduli lagi bila saat itu juga sajangnim mengeluarkanku dari SM. Aku hanya ingin Min Woo Oppa mendapatkan kembali nama baiknya.

Aku memohon-mohon pada sajangnim agar mengeluarkanku. Agar membuangku. Bila predikat “Trainee SM” membebani Min Woo Oppa dan juga diriku, lebih baik aku membuang predikat itu. Lebih baik aku kembali ke California. Min Woo Oppa pun bisa bebas berkencan denganku. Bila aku bukan trainee SM.

Tapi tidak kusangka, justru Min Woo Oppa-lah yang mengkhianatiku. Dialah yang membuangku. Dia lebih suka aku menjadi idol, menjadi penyanyi, menjadi aktris – daripada menjadi pendampingnya. Ia bilang…ia tidak akan mencintaiku bila aku bukan gadis yang hebat. Ia bilang ia akan melupakanku bila aku tidak menjadi penyanyi. Ia bilang, ia akan membenciku bila aku berhenti jadi trainee.

Min Woo Oppa mengundurkan diri dari SM tahun 2009. Sebenarnya dia sudah mengundurkan diri sejak tahun 2008, tapi taktik sajangnim agar pers tidak terlalu curiga. Min Woo Oppa mengadakan konferensi pers. Menjelaskan semuanya hanyalah kesalah pahaman. Semuanya hanya dilakukan untuk menaikkan popularitasnya. Semuanya palsu. Aku tidak pernah benar-benar ada. Aku hanyalah si gadis stunt yang bertugas untuk menaikkan popularitasnya. Sampai akhir pun tidak ada yang tahu identitas si gadis stunt itu.

Semuanya terasa mimpi. Ketika aku bangun, aku hanyalah Jung Soo Jung, si trainee SM. Min Woo Oppa pergi. Sama sekali tidak peduli lagi padaku. Bahkan setelah aku debut, Min Woo Oppa tidak pernah menghubungiku lagi.

Benar apa kata Tae Min. Aku ingin Min Woo Oppa berubah menjadi malaikat sayap hitam. Tapi seberapa kejam pun ia, seberapa menyebalkannya pun – ia tidak pernah bisa benar-benar menjadi malaikat sayap hitam. Sayapnya selalu pelangi.

*End of Flashback*

Kembali ke masa sekarang….

PD-nim berkali-kali memanggil namaku. “Jung Soo Jung ssi.., Krystal ssi..”

Aku menyentuh kepalaku. Pening.

“PD-nim.., izinkan aku kembali ke van sebentar. Aku lupa meminum obat sakit kepala.” Kataku berbohong. Aku tidak butuh obat sakit kepala. Aku butuh obat penenang.

PD-nim mengangguk. Beberapa bodyguard memanduku berjalan menerobos kerumunan orang-orang. Kai tetap tinggal bersama PD-nim. Aku merasakan tatapan Kai menembus punggungku.

Aku masuk ke van. Membiarkan pintunya terbuka. Para bodyguard berjaga-jaga agak jauh dariku. Aku meminta mereka menjauh.

Dengan tangan bergetar, aku membuka tas tanganku. Mengeluarkan beberapa butir obat penenang dari dalam botol.

PLAK!!!

Tiba-tiba ada yang menampar tanganku. Seketika obat-obat di tanganku berjatuhan.

“Berhentilah meminum obat itu! Sampai kapan kau akan meminumnya? Kau pikir aku tidak tahu? Kau meminumnya melebihi resep yang dokter berikan padamu! Kau gila, Krystal?!”

Mulutku menganga lebar. Mataku terasa panas. Air mata mulai mengaburkan pandanganku. Tapi aku masih bisa melihat wajahnya dengan jelas. Rahangnya yang tegas. Matanya yang tajam. Hidungnya yang lurus. Semuanya masih sama.

“Min Woo Oppa….” Lirihku. Aku pasti sudah gila. Berhalusinasi. Benar apa kata halusinasi-ku barusan. Terlalu banyak makan obat penenang.

Halusinasi-ku menuntun tanganku dengan kasar. Mendudukanku di dalam sebuah mobil sport. Memacu mobil sport itu dengan kencang.

Kenapa halusinasi-ku kali ini terasa sangat nyata?

Mobil melaju meninggalkan Seoul. Aku tidak tahu lagi kami berada di mana. Yang kulakukan hanyalah memandangi wajah di sampingku. Halusinasi-ku. Imajinasi liar-ku. Takut dalam sekejap halusinasi-ku itu akan menghilang. Halusinasi-ku hanya terdiam seperti patung. Wajahnya penuh amarah dan kecemasan. Ya, sudah seharusnya halusinasi diam. Halusinasi harusnya juga tidak bisa bicara.

Mobil berhenti. Halusinasi-ku tentang Min Woo Oppa masih menatap lurus ke depan. Tak bergerak. Aku memandangnya lekat-lekat. Takut lama kelamaan halusinasi-ku akan mengabur dan hilang bersama angin.

“Min Woo Oppa.., jangan pergi.., kumohon…” lirihku.

Min Woo Oppa memalingkan wajahnya, menatapku lekat-lekat. Perlahan mendekatkan wajahnya padaku. Aku bisa melihat butiran air di sudut matanya yang tajam. Aku bisa merasakan nafasnya.

Adakah halusinasi yang se-nyata ini? Apakah ini nyata?

Semuanya terjawab begitu bibir kami bertemu. Hangat dan manis. Nyata. Efek nyata halusinasi tidak mungkin terasa lama. Halusinasi akan menghilang. Tapi ia tidak menghilang. Min Woo Oppa tetap ada di sana. Memelukku dan menciumku seolah kami sudah berpisah selama milyaran tahun.

–          TBC –

2 thoughts on “Malaikat Sayap Putih, Hitam, atau Abu? (Chapter 2)

  1. Pingback: Malaikat Sayap Putih, Hitam, Atau Abu? (Chapter 4) | wiantinaazmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s