Bad Oppa or Good Oppa? (Chapter 3)

Title                               : Bad Oppa or Good Oppa?

Genre                             : romance, friendship, family

Author                           : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Length                            : Chaptered

Casts                                       : – Kris (EXO-M)

–         Kim Min Ah (OC)

–         Luhan (EXO-M)

–         SuHo (EXO-K)

–         Lee Eun Hye (OC)

–         Jong Hyun (CN Blue)

–         Jung Jin Young (B1A4)

–         And the other EXO members

====== Previous Part =====

“Aku kebut-kebutan safely. Tidak seperti kau yang kebut-kebutan seperti orang buta! Entah buta atau bodoh! Haruskah kuajari tentang rambu-rambu lalu lintas?” sindir Kris.

Aku mendengus. “Oke..oke.., kita lihat sejauh mana kemampuanmu.” Aku pun naik ke jok belakang.

“Kau siap?” tanya Kris.

“Hmm…”

Kris menarik tanganku dan melingkarkannya di pinggang Kris. “Pegangan yang erat!”

Motor pun melaju dengan sangat kencang. Menembus kegelapan malam.

 

=== New Part ===

Chapter 3 : New Life

Kris benar. Dia seperti pembalap professional.  Dia juga mengendarai motor safely. Tidak seperti aku yang seradak-seruduk!

Motor berhenti di depan rumahku. Penjaga rumah membukakan pintu pagar.

Aku tidak sadar motor Kris sudah masuk ke dalam garasi. Lenganku masih memeluk pinggang Kris dengan erat.

“Kau tertidur?” tanya Kris halus sambil menyentuh lenganku.

Aku pun tersadar dan langsung turun dari motor, melepas helm, dan langsung masuk ke dalam rumah. Kris mengikutiku.

Aku naik ke kamarku di lantai 2 dan langsung merebahkan tubuhku yang letih di atas tempat tidur, tanpa mengganti gaun-ku yang kotor dan sobek-sobek.

“Min…, minumlah.” Kris tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarku sambil membawa segelas susu cokelat hangat. Aku mengerutkan keningku. Darimana dia tahu aku suka susu cokelat hangat?!

Aku duduk dan meminum susu cokelat yang Kris buatkan untukku. Kris sudah mengganti pakaiannya dengan kaus abu-abu lengan panjang.

Ponsel Kris berdering. “Mom…”

Selanjutnya Kris berbicara dengan bahasa China, sambil sesekali melirikku. Aku meminum susu sampai habis. Tepat ketika Kris berhenti menelepon, giliran ponsel-ku yang berbunyi.

Ayahku!

“Yeoboseyo…” kataku.

“Sayang.., kau baik-baik saja? Yi Seul bilang kau demam…, apakah kau sudah panggil dokter Park?” tanya ayahku khawatir.

Aku melirik Kris sekilas. Kris hanya menatapku datar. Apa sih yang Kris katakan pada ibunya barusan?!

“Aku baik-baik saja, Appa…, tidak usah khawatir. Maaf…tadi aku pulang duluan.” Kataku sambil menggigit bibir bawahku dengan keras. “Appa langsung pergi ke Jeju? Hhmm.., ya..tidak apa-apa. Sungguh. Oke.. aku tahu.. bye…” aku menghela napas panjang dan melemparkan ponselku begitu saja ke atas tempat tidur dan langsung berbaring lagi.

“Bibirmu berdarah.” Kris – yang berdiri di sampingku – menatapku tajam.

Aku menyentuh bibir bawahku. Benar. Sepertinya tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku dengan keras.

Tanpa kuduga, detik berikutnya, Kris membungkukkan badannya dan menempelkan bibirnya ke bibirku. Mataku membelalak lebar. Mata Kris terpejam.

Bibir kami hanya menempel selama beberapa detik. Tapi apakah dia sudah gila?!!! Apa yang baru saja dia lakukan?!!!!

Kris tersenyum. Lagi-lagi aku hanya bisa terpaku melihat senyuman tulus-nya. Di bibir Kris terdapat darahku.

Kris menyentuh bibir bawahku dengan ibu jarinya. Mengusap darah yang masih tersisa.

“Tidurlah…” katanya dengan husky voice-nya yang khas. Kris menarik selimut, menutupi tubuhku.

Tangan Kris yang besar memegang puncak kepalaku selama beberapa saat sebelum akhirnya ia keluar dari kamarku dan menutup pintu.

Kris gila!!! Dia pasti mabuk!!! Kenapa dia bersikap baik??? Dan apa-apaan ciuman barusan itu?! Meskipun bibir kami hanya menempel sebentar, tapi tetap saja….

KRIS GILAAAAA!!!!!!!!

Dan aku lebih Gila!!! Ada apa dengan jantungku???!!! Kenapa jantungku jadi lemah begini????!!!!!

Nafas Kris tidak bau alkohol. Dia tidak mabuk.

Bibir Kris….

Aaarrrrggghhhh!!! Aku bisa GILAAAA!!!!!!

Aku menarik selimutku sampai menutupi kepala.

Pokoknya besok aku harus meminta Nyonya Han untuk mengganti seprai-ku yang kotor karena gaun-ku!

Besok aku ada kegiatan klub jurnalistik.

Besok aku akan nyalon dengan Eun Hye.

Besok jangan lupa nyicil mengerjakan laporan praktikum.

Besok aku…..

Bibir Kris.

Aaarrrrgghhhhh!!!! Sekeras apapun aku mengalihkan pikiran, kenapa malah Kris yang selalu muncul?!

Sudahlah. Sebaiknya aku tidur saja. Saat bangun besok pagi, semua ini hanya akan terasa seperti mimpi. Tidak nyata.

********

Keesokan paginya….

Begitu turun dari lantai 2, bau harum masakan langsung tercium.

“Nyonya Han.., kau memasak pasta blackpapper kesukaanku?” seruku sambil menuruni tangga dengan riang.

“Good morning.” Sapa Kris.

“KRIS?????!!!” Aku kaget sekali melihat ternyata Kris-lah yang berada di dapur. Dia memakai celemek dan memasak. MEMASAK!! Astaga! Aku tidak pernah menyangka ternyata dia bisa memasak! Aku saja.. ehem.., sebagai wanita.., jujur saja.., aku tidak bisa memasak, selain memasak ramyun instan.

Aku duduk di ruang makan. Di meja sudah banyak sekali tersaji makanan enak. Beberapa makanan favoritku. Salad buah, pudding cokelat, susu cokelat hangat, dan beberapa saat kemudian Kris datang sambil membawa pasta blackpapper yang baru saja matang. Kris melepas celemek, lalu duduk di hadapanku.

“Makan yang banyak.” kata Kris datar.

Aku mulai memakan pasta buatan Kris. Enak sekali!

Aku melirik Kris diam-diam. Dia sibuk makan sambil membaca koran. Aku meneliti wajahnya yang angkuh. Kedua alis tebal-nya hampir bertaut karena sibuk berpikir. Mulutnya mengunyah makanan. Bibirnya…

Aaarrrrggghhhh!!!!! Sial!

“Uhuk..uhuk…” aku tersedak.

Kris menatapku tajam. “Minum.” Katanya datar. “Kalau sedang mengunyah jangan bicara dan jangan berpikir macam-macam. Jadinya tersedak kan.” Ujar Kris dengan suara angkuhnya yang menyebalkan.

Aku meraih gelas berisi air putih dan langsung meminumnya sampai habis. Kemudian melirik Kris. Dia sudah kembali asyik membaca koran. Dasar! Tidak punya perasaan!

Kris meletakkan koran-nya, lalu menatapku tajam dan serius. “Hari ini kosongkan semua jadwal-mu!”

“Kenapa?” protesku, dengan mulut penuh makanan.

Kris memelototi-ku. “Telan dulu makanannya baru bicara!”

Aku menelan makananku dengan susah payah, minum air putih, lalu kembali bicara. “Aku ada kumpul klub jurnalistik.”

“Batalkan!”

“Mwo??? Tapi.., aku juga sudah janji akan pergi ke salon dengan Eun Hye.”

“Batalkan juga! Kau harus menemani-ku.” Kris keras kepala.

“Ke mana? Hmm.., boleh saja.., tapi aku yang mengendarai motor-mu.”

“Pakai mobil-mu saja.” Kata Kris dingin. “Tidak usah banyak tanya kita pergi ke mana. Kau hanya harus jadi supirku seharian ini. Dan jangan menolak! Barusan kau sudah bilang boleh saja. Berarti kau sudah setuju.” Kris tersenyum miring.

“MWO????!” pekikku. Kris hanya menyeringai. Dasar evil! Kepribadian ganda! Angry bird menyebalkan!!!!!

*******

Setelah selesai sarapan dan mandi, terpaksa aku menuruti keinginan Kris. Aku sudah siap di balik kemudi. Kris lama sekali! Sejak tadi aku menunggu di dalam mobil, tapi dia belum keluar juga dari dalam rumah!

Aku membunyikan klakson mobil dengan tidak sabar.

Akhirnya.., setelah se-abad rasanya menunggu, Kris keluar juga dari dalam rumah. Dia menaruh gitar listrik-nya di jok belakang, dan kemudian duduk di sampingku.

“Ke alamat ini.” Kris menyerahkan secarik kertas padaku, berisi deretan alamat. Aku hanya bisa membelalakkan mata.

Cih! Dasar! Gaya-nya seperti bos kepada supir-nya saja! Well…well.., hari ini aku memang Supir-nya!

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah toko buku!

Awalnya aku berjalan mengikuti Kris, tapi lama-lama bosan juga. Buku-buku yang ia lihat hanya buku-buku tebal membosankan dan membuat ngantuk saja! Jadi aku pun memutuskan untuk melihat-lihat komik.

Ah, sudah lama juga aku tidak baca komik. Aku meraih sebuah komik Jepang yang menjadi sample, lalu duduk sambil membacanya.

“Hahahaha… hahahaha…” tak henti-hentinya aku tertawa membaca komik Jepang ber-genre komedi itu.

Dulu aku memang suka membaca komik-komik dan novel-novel romantis, tapi sejak dua tahun lalu aku benci cerita-cerita romantis!

“Ayo pergi!” tiba-tiba ada yang menarik komik yang sedang kubaca. Kris! Siapa lagi kalau bukan dia?! Mengganggu kesenanganku saja!

Kris menaruh kembali komik itu ke rak semula. Kris sudah menenteng plastik berisi buku-buku tebal. Dengan malas, aku pun mengikutinya keluar dari dalam toko buku.

“Langsung lanjut ke alamat ke-2.” Kata Kris datar, begitu kami sudah berada di dalam mobil. Aku hanya menghembuskan napas panjang, dan menuruti permintaannya.

Tempat ke-2 adalah butik terkenal! Sebuah butik yang biasa dikunjungi oleh idol-idol Korea. Yah.., berharap saja semoga aku cukup beruntung untuk bertemu Lee Seung Gi.

Kris asyik memilih baju-baju untuknya. Berkali-kali keluar masuk ruang ganti dan meminta pendapatku tentang penampilannya. Aku selalu bilang : “Oke, bagus.” Agar Kris cepat selesai memilih baju!

Tapi.., harus kuakui – meskipun aku enggan mengakuinya – Kris terlihat bagus mengenakan pakaian apapun!

Setengah jam telah berlalu, tapi Kris masih asyik memilih baju. Aku duduk dengan kesal. Kalau ada yang bilang cewek yang belanja lama itu menyebalkan, maka cowok yang belanja-nya se-abad jauuuuhhh lebih menyebalkan!

Beberapa pelayan wanita melihat ke arahku, lalu melihat Kris yang keluar-masuk dari dalam ruang ganti dan meminta pendapatku itu. Mereka tersenyum-senyum dengan ekspresi wajah memuja. Aku menatap pelayan-pelayan wanita genit itu dengan kesal. Mereka ingin bertukar tempat denganku, hah?! Silahkan! Dengan senang hati!

Hari ini aku benar-benar menjadi supir dan pembantu Yang Mulia Mr.Wu Yi Fan!

Satu hal yang kupelajari tentang Kris : Jangan cepat mengira Kris itu orang yang baik, hanya karena sekali dua kali dia menunjukkan sikap baik!

Satu jam telah berlalu. Tanpa sadar aku tertidur di kursi. Kris mengguncang-guncang bahuku. Aku pun tersadar dan cepat-cepat mengikutinya keluar dari dalam butik. Berharap semoga pelayan-pelayan genit tadi tidak mengambil fotoku saat aku tertidur dan menyebarluaskannya di internet! Awas saja!

Tempat ke-3 yang kami kunjungi adalah toko musik! Toko-toko alat musik yang sering muncul di drama-drama. Yang juga pernah muncul di acara We Got Married-nya Yong Hwa dan Seo Hyun.

Aku melihat-lihat biola. Saat kecil, aku pernah les biola. Hanya sebentar, karena aku mudah bosan.

Kris melihat-lihat gitar. Aku tidak pernah bisa bermain gitar, jadi aku masuk ke toko yang menjual piano. Aku menekan tuts-tuts piano. Memainkan nada simple. Twinkle-twinkle little star.

Kris menghampiriku. “Minggir!” katanya dingin. Aku menatapnya kesal. Kris duduk, lalu mulai menekan tuts-tuts piano dengan jari jemarinya yang panjang.

Kris memainkan lagu-lagu Choppin. Wuaaahhh.., selain jago main gitar ternyata dia jago main piano juga?! Ck…ck..ck.., Tuhan tidak adil. Kenapa orang sekejam Kris harus punya banyak bakat?!!!!

“Waaahhh.., Anda hebat, Tuan.” Seorang pelayan Pria berambut putih bertepuk tangan riang.

Kris mengakhiri permainannya dengan indah. “Piano-nya bagus. Aku minta dikirim ke rumahku.” Kris menyodorkan kartu kreditnya. Aku membelalakkan mataku tak percaya! Semudah itu ia membeli sesuatu!

Pelayan menerima kartu kredit Kris dengan kedua tangan. “Baik, Tuan. Staff kami akan mengirimkannya siang ini juga.”

Aku berjalan pergi meninggalkan Kris. Jadi tema hari ini menghambur-hamburkan uang ya?! Aku heran.., kenapa dia harus mengajakku segala! Mau pamer? Atau.., aaah.., aku lupa. Aku kan jadi supirnya!

Aku berani bertaruh…, Kris pasti tidak punya teman dekat! Teman-teman band-nya pun pasti sebenarnya malas bergaul dengan Kris seandainya Kris tidak punya kemampuan bermusik!

“Aku sudah lapar.., kita ke tempat selanjutnya.” Kata Kris.

Hhhhhhh…, nafsu makanku sudah menguap sejak tadi! Aku hanya ingin pulang dan tidur!

Entah Kris kurang kerjaan.., entah aku yang memang bodoh karena mengikuti kemauannya! Tempat berikutnya berada di luar Seoul! Jauuuuh dari Seoul! Makan siang saja kenapa harus repot jauh-jauh sih? Kan bisa di resto-resto yang ada di Seoul saja! Lagipula sekarang sudah jam 2. Sudah lewat waktu makan siang!

Aku belum pernah makan di tempat ini. Jalan-nya saja aku tidak tahu. Berkali-kali aku bertanya kepada orang yang kutemui di perjalanan….. ke mana arah rumah makan yang Kris maksud!

“Kau pernah makan di tempat itu?” tanyaku pada Kris.

Kris mengangguk. “Hmm. Sudah lama sekali. Bersama ibuku.”

Aku pun hanya terdiam. Aku malas mengungkit topik mengenai ibu Kris maupun ayahku. Aku masih tidak rela ayahku ternyata bisa mencintai wanita lain selain ibuku setelah ibuku meninggal, dan tidak rela karena ayahku memperlakukan wanita itu dengan lebih baik dibanding ibuku di masa lalu!

Kami melewati jalan-jalan berliku. Pinggir kami tebing dan jurang yang curam. Pegunungan membentang di sekeliling kami.

Akhirnya, setelah melewati jalanan yang cukup panjang, kami pun sampai di depan sebuah gate ala Yunani. Setelah parkir, kami berjalan menaiki undakan tangga yang terbuat dari bebatuan.

Aku menahan napasku. Takjub.

Tempat makan outdoor yang ada di puncak tebing itu menghadap langsung ke arah laut dan ke arah matahari yang akan terbenam sekitar 2 jam lagi.

Meja-meja bundar dengan ornament cantik sudah terisi banyak orang. Hanya tinggal 1 spot yang kosong. Entah beruntung, atau entah sebelumnya Kris memang sudah memesan. Kami berjalan menuju meja dan kursi cantik yang terletak tepat di tengah, diiringi pelayan. Ada yang aneh. Hanya kursi kami yang berwarna emas. Apa mungkin….

“Mr.Wu.., sudah lama Anda tidak datang kemari.” Salah seorang pelayan berkumis tebal membungkukkan badannya hormat.

Tuh kan! Apa kubilang!

“Kau pemilik tempat ini?” tanyaku sinis. “Pemilik yang tidak tau jalan ke tempat makan miliknya sendiri?!” tukasku ketus.

Kris menyeringai. “Bukan milikku. Tapi milik sahabat ibuku.”

Aku mengangkat sebelah alis mataku. Tak percaya. “Siapa?”

Kris mengangkat bahunya. “Aku tidak ingat. Waktu itu aku masih belasan tahun. 13. Saat aku bilang aku mau kemari lagi…, tadi malam ibuku langsung memesankan tempat. Aku suka tempat ini. Dan di sebrang sana ada sebuah rumah yang mirip dengan rumah keluarga Cullen di film Twilight.”

Aku mendengus. “Kau suka cerita cheesy seperti Twilight?!”

Kris mengerutkan dahinya. “Ibuku.”

Aku mendengus. Lagi-lagi ibunya.

“Aku sudah memesan menu-menu yang paling enak.” Kata Kris tanpa kutanya. “Sebentar.” Kris berdiri dan meninggalkanku. Entah ke mana. Aku menghirup udara dalam-dalam. Aaahhh.., suasana di sini memang segar sekali. Pemandangannya juga indah. Aku tidak sabar menanti sunset. Semburat jingga sudah mulai memenuhi langit.

Aku memerhatikan orang-orang yang ada di sekelilingku. Kebanyakan pasangan. Ada juga keluarga.

Tak lama, terdengar suara dentingan piano dan sebuah suara menyanyikan lagu “In a Rush”. Aku hafal suara ini! Benar saja! Saat melihat panggung kecil tak jauh di sana, Kris duduk di depan grand piano putih sambil bernyanyi. Semua orang menatapnya. Mau tak mau aku ikut menatap Kris.

Sama seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya saat di café, kali ini pun Kris menatapku. Hanya menatapku! Dengan tatapan tajam dan menusuk-nya yang khas itu.

Pengunjung bertepuk tangan riuh. Lagu berikutnya adalah “A Thousand Years”-nya Christina Perri. Kris masih menyanyi sambil bermain piano.

Kris bilang..ibunya-lah yang nge-fans Twilight saga, tapi Kris sendiri ternyata juga hafal soundtrack Breaking Dawn. Kurasa ia juga suka film itu! Dasar!

Setelah lagu berakhir, Kris turun dan berjalan menghampiriku diiringi tepuk tangan meriah orang-orang yang ada di sana. Selama Kris berjalan, cewek-cewek menatapnya dengan tatapan memuja.

“Mereka memintaku bernyanyi.” Kata Kris, duduk di hadapanku.

“Kau suka lagu-lagu romantis dan cerita-cerita romantis! Sepertinya kau menyukai semua hal yang kubenci.” Aku mendengus. Kris menatapku sambil mengerutkan kening.

Pelayan datang membawa makanan. Banyak sekali! Dan benar apa yang Kris bilang. Makanannya super duper enak! Selama sesaat, aku melupakan kekesalanku pada Kris dan hanya menikmati makanan sambil diiringi dentingan piano.

Selama makan kami hanya saling diam. Aku terlalu fokus dengan makanan, sementara Kris terlalu fokus menahan dirinya agar tidak mengomentari cara makanku yang tidak Lady-like.

“Aaaahhh…, kenyang!!!!” Aku bersandar pada kursi setelah menghabiskan makananku. Mengelap sudut bibirku dengan jari tangan, sementara Kris mengelap mulutnya dengan serbet. Kris menatapku tajam. Aku hanya nyengir. Aku tahu…etika makanku kurang baik. Tapi siapa peduli! Aku kan tidak sedang makan dengan ratu Inggris di dalam istana!

Beberapa saat kemudian, pelayan mengantarkan beberapa kotak berbungkus kado dan berhiaskan pita putih, meletakkan kado-kado itu di atas meja kami. Aku menatapnya bingung. Pelayan itu tersenyum padaku dan Kris, lalu pergi.

“Untukmu.” Kata Kris. Kini giliranku menatap Kris dengan bingung.

“Untukku? Dalam rangka apa? Ini bukan ulang tahunku.” Aku masih bingung.

Kris tersenyum miring. “Memangnya memberi hadiah hanya harus di saat kau ulang tahun?” tanyanya. “Buka saja.”

Perlahan…karena penasaran…akhirnya aku pun membuka kado-kado itu. Aku tahu orang-orang kini menatapku. Aku mencoba mengabaikan mereka. Risih! Apa sih yang mereka harapkan akan kutemukan dari sekian banyak kado ini? Cincin berlian?! Hah! Yang benar saja! Untuk apa kakak tiri-ku yang menyebalkan ini memberiku cincin?! Tidak mungkin!

Kado pertama berisi puluhan komik Jepang komedi. Mataku membelalak. Ada judul komik yang siang tadi kubaca saat di toko buku juga. Sampai seri terakhir! Aku menatap Kris. Dia hanya menatapku datar.

Aku pun kembali membuka kado kedua yang berukuran besar, yang ternyata berisi baju-baju cantik. Kapan Kris membeli baju ini? Setahuku dia hanya memilih baju-baju untuk dirinya sendiri! Bagaimana dia bisa tahu ukuran baju-ku?

“Aku memilihnya saat kau tertidur. Pelayan-pelayan membantuku memilih.” Kata Kris.

Kado terakhir, yang berukuran besar juga, berisi biola! Sebuah biola cantik berwarna putih.

“Wow..” gumamku takjub.

“Itu biola yang kubeli saat di Prague. Sepertinya kau suka biola. Saat di rumah kau sering mendengarkan instrumental biola.”

Aku menatap Kris. Takjub. Dia ini sebenarnya malaikat atau iblis sih?

Pertama…dia tahu aku suka susu cokelat. Lalu tahu makanan-makanan kesukaanku. Lagu apa yang suka kudengar di rumah. Ck..ck..ck.., apakah dia detektif yang suka menyelidiki?!

Aku menatap Kris lekat-lekat. Kris hanya menatapku datar.

“Kau tahu…, kau itu aneh sekali, Kris.” Kataku.

Kris menyeringai.

Aku serius! Kadang dia jahat, menyebalkan, baik juga. Dasar aneh!

“Apakah ini semua suap agar aku mau menjadi supirmu terus?” tanyaku.

Kris tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini aku melihatnya tertawa lepas seperti itu.

“Dasar aneh!” kata Kris, membalas kata-kataku. “Ayo, kita pulang. Aku tidak mau kita sampai ke Seoul kemalaman.”

Kris membantuku membawa hadiah-hadiah yang dia berikan padaku barusan. Memasukkannya ke dalam bagasi, bersama belanjaan Kris.

“Biar aku yang menyetir. Kau pasti kelelahan. Tidur saja.” Kris pun masuk dan duduk di balik kemudi. Aku hanya menuruti apa maunya. Terserah sajalah. Dasar aneh!

Dalam hati aku senang. Akhirnya aku bisa tiduuurrr!!!!!

********

Selama di perjalanan aku tertidur, dan baru bangun saat kami sudah sampai di rumah.

Begitu masuk ke dalam rumah, Ibu Kris menyambut kedatangan kami. “Happy birth day, dear…” Ibu Kris memeluk Kris .

“Selamat ulang tahun, Kris. Maaf kami baru tiba dari Jeju tadi sore.” Kata ayahku.

Aku membelalakkan mataku. APA???? Kris ulang tahun?????

Omo ~~~ orang macam apa aku ini, yang malah menerima hadiah dari orang yang sedang ulang tahun?! Aku bahkan sama sekali tidak tahu ini hari ulang tahunnya, padahal Kris sudah tahu cukup banyak hal tentanku.

Hhhhhhh…, aku tidak tahu apa-apa tentang Kris.

–          TBC –

13 thoughts on “Bad Oppa or Good Oppa? (Chapter 3)

  1. Aaaaaaaaaaa Kris cium-_-” Thor aku juga mau di cium TT_TT Astaga Kris transformasi jadi romanris-_-” Kece abis. Nyanyi lagu A Thousand Years trs Twihard >< Pokoknya thor aku suka bgt FF ini! Chapter ini romantis banget! KRIS HARUS SAMA MIN AH! ABSOLUTELY YES. Huhuhuhuhuhu *Mohon-mohon*

  2. entah kenapa tiba-tiba pengen jadi adeknya kris setelah baca chap. ini
    kris yg nyebelin tapi baik
    aaaaaa jadi pengen digituin si kris
    minus kelakuan nyebelinnya ya
    lanjut ke chap. 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s