Bad Oppa or Good Oppa? (Chapter 2)

Title                               : Bad Oppa or Good Oppa?

Genre                                       : romance, friendship, family

Author                           : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Length                            : Chaptered

Casts                                       : – Kris (EXO-M)

–         Kim Min Ah (OC)

–         Luhan (EXO-M)

–         SuHo (EXO-K)

–         Lee Eun Hye (OC)

–         Jong Hyun (CN Blue)

–         Jung Jin Young (B1A4)

–         And the other EXO members

Chapter 2 : Party

“Min, belikan aku pulpen baru.”

Aku menggosok-gosok telingaku. Sial sekali! Tidak di rumah, tidak di kampus, sama saja! Kris –dengan wajah dingin dan tatapan mengintimidasi-nya itu selalu saja memerintah ini itu! Membuatku kesal! Dan seenaknya saja dia memanggilku Min… Min.. Min. Aneh!

“Kau bisa pakai pulpenku, Mr.Angry Bird.” Kataku sambil tersenyum manis. Kris membulatkan matanya. Dia terlihat tidak suka bila aku memanggilnya Angry Bird. Tapi dia tidak pernah berkomentar, hanya menatapku dengan lebih sinis.

Kris tersenyum miring. “Kau kan hanya punya 1 pulpen.” Balas Kris.

Aku tertawa, lalu mengeluarkan kotak pensil dari dalam tas-ku. “Aku punya banyak pulpen dan pensil, Kriiis.” Menyodorkan banyak pulpen dan pensil padanya sambil tersenyum puas.

Kris menatapku dingin. “Aku biasa pakai pulpen khusus, buatan Jerman. Merk-nya XXX Sepertinya toko buku di sebrang punya pulpen jenis itu. Kau punya waktu 5 menit.” Kata Kris datar, dengan husky voice-nya yang sangat menyebalkan!

Mulutku menganga lebar. Seenaknya saja dia selalu menyuruhku tanpa pernah memakai kata-kata “tolong” ! Dan kenapa juga aku harus selalu nurut padanya?!

Kris menatapku tajam. Seperti biasa, tanpa senyum! Kalau dipikir-pikir lagi… Kris tidak pernah tersenyum tulus. Senyumnya hanyalah senyum miring, setengah, smirk evil!

“Tapi aku sedang mengerjakan tugas. Kau beli saja sendiri!”

“4 menit…”

“Oke..oke.., aku belikan!” bentakku. Kris menyeringai puas.

*******

“Min Ah, apa sebenarnya hubunganmu dengan Kris? Kalian pacaran ya?” tanya Mi Young saat kami berdua makan siang di kantin.

Aku membelalak sambil tertawa. “Mwo? Hahahaha.., tentu saja tidak!”

Mi Young menatapku tak percaya. “Tapi.. dimataku terlihat begitu. Yaa.., walaupun kerjaan kalian adu mulut. Tapi.. anak-anak di kelas menganggap itu romantis lhoo..”

“Hahahaahahaha….” Aku terbahak-bahak mendengar perkataan Mi Young barusan. “Romantis apanya? Apa kalian sudah buta?! Aku tertindas tau! Hhhhh.., enaknya…, kalau pacar bisa putus.., tapi sialnya hubungan kami tidak akan bisa putus. Aku sepertinya bernasib sial karena tidak akan bisa lepas darinya!” Aku menggigit roti-ku dengan keras  dan mengunyahnya cepat.

“Kalian dijodohkan ya?” tanya Mi Young.

Aku menatap salah satu teman baikku itu. Dari mana dia punya pikiran seperti itu? Dasar aneh!

Aku mendekatkan kepalaku ke telinga Mi Young, lalu berbisik. “Dengar.., ini rahasia. Jangan beritahu siapapun. Kami itu sebenarnya….”

“Min. Pulang kuliah nanti kita ke restoran Jerman atau China. Aku bosan makan makanan Korea.” Tiba-tiba saja Kris datang sambil membawa nampan berisi kimbab, kimchi, dan tteokpokki. Dia duduk di kursi kosong di sebelahku.

Dasar! Mengganggu obrolanku dengan Mi Young saja! Aku jadi tidak bisa memberitahu tentang Kris pada Mi Young.

Mi Young menatap Kris antusias. “Kau lama tinggal di Jerman ya?”

“Hmm.” Gumam Kris tanpa senyum dan tanpa memandang Mi Young.

“Kau lebih suka tinggal di mana? Kanada? Jerman? China? Atau Korea?” tanya Mi Young lagi. Tidak memedulikan sikap dingin Kris.

“Jepang.” Jawab Kris.

“Waaahhh!!! Kau pernah tinggal di Jepang juga??? Daebakk!!” seru Mi Young.

“Hanya 2 minggu.” Jawab Kris cool. Aku hanya mendengus. Aku saja yang pernah tinggal di Jepang selama 2 tahun tidak sombong. Cih! Dasar Mr.Angry Bird!

Kris menatapku. “Aku lupa beli minum.” Katanya.

Bahuku terkulai lemas. Aku tahu, dia pasti menyuruhku beli minum.

“Kau minum saja punyaku..”

“Punyaku saja. Masih baru lho, belum kuminum.” Tiba-tiba saja –entah dari mana- cewek-cewek datang ke meja kami dan menyodorkan aneka jenis minuman untuk Kris.

Kris mengabaikan mereka dan malah menatapku sambil tersenyum miring dan matanya melotot tajam. Dasar!

Aku pun berdiri dan berjalan menuju mesin minuman kaleng. Mi Young mengikutiku, lalu menepuk-nepuk pundakku, sambil berbisik. “sepertinya semua cewek di sini menyukai tunanganmu. Kau harus menjaganya baik-baik. Kalau tidak….” Mi Young menggerakkan jari di lehernya. “Kau akan kalah.”

“Dia bukan tunaganku! Untunglah. Tapi sama saja. Aku tidak bisa lepas darinya, si Oppa bodoh itu!” tukasku sebal sambil memijit tombol mesin dengan keras.

“Kau bahkan memanggilnya Oppa. Hubungan kalian pasti sebenarnya baik kan? Hanya kadang-kadang saja bertengkar…” Mi Young menyenggolku dengan sikut-nya sambil tersenyum menggoda.

Aku menghembuskan napas  panjang. Mencoba bersabar. “Dia memang Oppa-ku. Oppa tiri-ku. Kau puas?!”

*******

Makan di restoran Jerman….

Sudah kuduga, akulah yang harus bayar. Dasar matre! Tega-teganya dia meminta traktiran setiap hari pada “calon adik tiri-nya.” Kris itu sudah menyebalkan, sok memerintah, matre pula!

Aku mengeluarkan kartu kredit-ku dengan setengah hati. Di saat aku menderita karena harus membayar mahal, dia enak-enakkan tersenyum menyepelekan seolah tak ada beban.

“Min, kau pernah coba restoran Jepang yang ada di….”

“Kau mau makan lagi?” bentakku sambil berkacak pinggang.

Pelayan yang mengantarkan kembali kartu kredit-ku tersenyum melihat tingkah kami.

“Aku sudah bayar mahal. Masa sehabis makan langsung pergi?! Lagipula perutku masih penuh. Tunggu turun sebentar lagi.” Bisikku pada Kris.

Kemudian, tepat pada saat itulah aku melihatnya! Sosok tinggi itu. Rambut hitam bergelombang itu. Jaket kulit hitam, boots hitam, gitar listrik di bahunya. Jong Hyun!

Jong Hyun baru saja masuk ke restoran bersama beberapa cowok yang sudah tak asing lagi bagiku. Teman-teman kampus Jong Hyun.

“Ayo kita pergi!” bisikku pada Kris.

“Akhirnya kau menuruti kata-kataku, Min. Ayo! Kita ke toko musik dulu, lalu ke restoran Jepang.” Kris berjalan lebih dulu.

Aku hanya menganggukkan kepalaku sambil terus menunduk. Takut Jong Hyun melihatku.

“Kim Min Ah!” aku mendengar salah satu teman Jong Hyun memanggilku. Aku terus saja berjalan.

“Mereka temanmu?” tanya Kris.  Dia berhenti, dan berbalik melihat mereka.

Aish! Anak ini!

Aku terpaksa menggandeng lengannya. “Kajja! Aku ingin segera pergi dari sini!” bisikku, lalu menarik Kris dengan keras. Kris pun mengikuti.

“Ayooo cepat! Sebelum dia keluar!” kataku, ketika kami sudah berada di atas motor sport merah Kris.

Kris hanya menatapku heran, tapi kali ini dia menuruti kata-kataku. Motor melaju dengan kencang.

Fiuh…, selamat.

Untunglah aku bisa “menghindari”- Jong Hyun!

******

Pesta pernikahan ayahku dan ibu Kris diadakan di salah satu hotel bintang 5 di pusat kota Seoul. Kebanyakan yang hadir adalah rekan bisnis ayah. Hanya segelintir keluarga ayah yang datang, dan tidak ada satupun keluarga mendiang ibuku yang datang. Sejak dulu keluarga ibuku memang menentang hubungan ibu dan ayah.

Aku berdiri di atap gedung. Menegak wine (entah yang ke-berapa gelas), padahal aku tidak pernah suka wine maupun minuman beralkohol lainnya! Tapi malam ini pengecualian. Gaun putihku agak kusut, begitupula rambutku. Aku muak berbasa-basi di pesta. Lebih baik sendirian di atas atap sambil menatap milyaran lampu di bawah sana.

“Mau kabur?” tiba-tiba saja Kris, dengan wajah datar-nya, muncul di sampingku.

“Eh?”

“Ayo…” Kris menarik tanganku. Aku bingung, dan hanya berjalan mengikutinya.

Kami tidak turun lewat lift, melainkan lewat tangga darurat. Gila juga si Mr.Angry Bird mengajakku turun tangga! Padahal tadi kami ada di lantai 40!

“YAAAA!!!! Sebentar!” Aku terengah-engah. Melepaskan high heels-ku dan memegangnya dengan satu tangan, sementara tanganku yang satu lagi masih menggenggam tangan Kris.

Kris berusaha menahan tawa, tapi sia-sia. Aku mendelik kesal padanya. “Kita turun lewat lift saja! Ini baru lantai berapa? 30? Masih ada 30 lantai lagi sampai kita berada di bawah!”

“Dan mengambil resiko bertemu tamu undangan di lift? Kita tidak akan bisa kabur.”

Aku menghela napas panjang. “Hhhhh.., oke. Ayo.” Kami pun kembali menuruni tangga yang sepertinya tidak berujung itu.

Napas kami terengah-engah. Akhirnya sampai juga di taman belakang hotel. Aku baru sadar bagian belakang gaunku robek. Tapi biar sajalah!

Kris menuntunku ke tempat motor-nya diparkirkan. Berhati-hati agar tidak bertemu tamu undangan yang mungkin saja ada di tempat parkir.

Kris melemparkan helm padaku. Aku duduk di belakang dan langsung memeluk pinggangnya dengan erat begitu motor melaju kencang.

Aku sengaja membuka kaca helm-ku. Membiarkan angin malam menerpa pipi-ku. Kris memacu motornya dengan kencang, tapi tidak sekencang yang biasa kulakukan dulu. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa ayahku melarangku naik motor. Karena aku suka kebut-kebutan!

Kami berhenti di tepi sungai. Air sungai yang terlihat tenang merefleksikan cahaya-cahaya di sekitarnya.

Kris duduk di atas rumput, agak jauh dari sungai. Aku mengikutinya. Heran mengapa kami “kabur” ke tempat seperti ini. Kupikir kami akan ke bar atau apa.

Kris menepuk-nepuk rumput di sebelahnya, menyuruhku duduk di sana. Masih bertelanjang kaki, aku pun menurut.

Kris melepas helm-nya, lalu berbaring terlentang di atas rumput. Memandangi langit hitam yang hanya dipenuhi sedikit bintang.

“Abeoji dan eomma bercerai saat aku berada di dalam kandungan eomma. Setelah aku agak dewasa, Abeoji sering memintaku datang ke China. Tapi aku selalu menolak. Aku tahu, meskipun eomma mengizinkanku pergi, tapi sebenarnya eomma takut aku akan benar-benar pergi darinya. Jadi aku tidak pernah menemui ayahku.”

Aku masih duduk. Menatap wajah Kris. Rasanya aneh juga melihat wajah Kris yang biasanya dingin itu kini dipenuhi berbagai macam emosi. Sedih, kesepian, kesal, marah.

Kris terus bercerita sambil tetap menatap langit. “Karena aku tidak pernah pergi ke China, maka abeoji datang padaku. Dia membelikan semuanya untukku. Apartemen mewah, mobil, motor, uang yang banyak. Aku tidak menolaknya, tapi juga tidak berterima kasih padanya.”

Selama beberapa saat hening. Kris hanya terdiam. Seperti memikirkan sesuatu.

“Kenapa? Kenapa kau tidak berterima kasih padanya?”

Kris tersenyum miring. “Karena… meskipun aku bagian dari darah dagingnya, dia seperti orang asing bagiku.”

Aku ikut merebahkan tubuhku di atas rumput. “Apakah kau senang ibumu menikah dengan ayahku?”

Kris mengerutkan keningnya, membuat kedua alis tebal-nya bertaut. Kris terdiam agak lama sebelum akhirnya menjawab. “Entahlah. Yang pasti aku senang kalau ibuku senang.”

Aku sama sekali tidak menyangka Kris akan menjawab seperti itu. Sejauh yang selama ini kulihat, Kris seperti bukan tipe anak yang berbakti pada ibunya. Dia sering membuat ibunya kesal. Tapi, harus kuakui, mereka terlihat seperti sahabat. Jadi pasti hubungan mereka baik. Tidak seperti aku dan Appa.

“Ibuku meninggal saat aku 8 tahun.” Cerita itu meluncur bebas dari mulutku. Selama ini aku tidak pernah mengungkit-ungkit masa laluku di depan siapapun, termasuk di depan sahabatku, Eun Hye. Bercerita tentang mendiang ibuku hanya akan membuatku sedih dan semakin merindukannya.

“Ibuku punya penyakit jantung. Suatu hari sakitnya kambuh. Di rumah hanya ada aku. Ayahku sibuk di kantor seperti biasa, dan pengurus rumah kami sedang mengambil cuti. Aku…” Aku terdiam sejenak. Memejamkan mataku. Lalu kembali bicara. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat melihat ibuku kesakitan…, aku menelepon ayahku. Ayahku sibuk. Entah pada sambungan ke berapa akhirnya dia mengangkat teleponku. Dia bilang aku tidak usah panik. Dia sudah panggil ambulans. Tapi percuma saja. Semuanya sudah terlambat.” Aku bisa merasakan air mataku mengalir membasahi pipiku.

Tanpa kuduga, Kris menggenggam tanganku dan meremasnya.

“Dan mulai saat itu aku membenci ayahku. Padahal seharusnya aku membenci diriku sendiri kan? Seandainya saat itu aku langsung menelepon rumah sakit dan bukannya malah menyia-nyiakan waktu dengan mencoba menelepon ayahku selama 20 menit. Mungkin eomma….”

“Bukan salahmu. Semuanya bukan salahmu.” Kris memiringkan tubuhnya menghadapku. Perlahan mengusap air mataku dengan ibu jarinya. Aku hanya bisa terdiam menatap kedua bola matanya yang berwarna cokelat cemerlang.

“Kau mau naik motorku?” tanya Kris tiba-tiba.

“Mwo?”

“Sekali ini saja kuizinkan kau mengendarai motorku, Miiiin. Asal jangan sampai rusak. Arraseo?”

Mau tak mau aku pun nyengir lebar. Langsung saja aku berdiri dengan bersemangat. “Mana?” Aku menegadahkan tanganku, meminta kunci motor.

Kris mengamatiku dengan ragu. “Kau yakin mau mengendarai motor dengan memakai gaun?”

Aku mengangguk mantap. “Memangnya kenapa? Aku bisa menaikkan gaunku. Tidak masalah! Aku ahli mengendarai motor.”

“Oke. Kita lihat saja.” Kata Kris tak yakin.

Adrenalinku berpacu cepat. Sudah lama sekali aku tidak mengendarai motor. Kris duduk  di belakang. Tanpa ragu lagi aku memacu motor sport Kris dengan kecepatan tinggi yang bisa membuatku ditilang seandainya aku cukup sial bertemu polisi!

“YAAAAAAAA!!! JANGAN TERLALU KENCANG!!!!! KAU MAU MATI, HAH???!!!!” Teriak Kris.

“TENANG SAJA. KAU TIDAK AKAN MATI, KRIIISSSS! PEGANGAN SAJA YANG ERAT AGAR TIDAK JATUH!!!!” Aku tertawa lepas. Rasanya menyenangkan memacu motor dengan kecepatan tinggi. Merasakan angin yang menampar pipi dan lengan-ku yang tidak tertutup gaun.

Kris pun akhirnya menuruti kata-kataku. Dia memeluk pinggangku dengan erat. “Dasar crybaby! Dia tidak pernah apa merasakan sensasi asyik kebut-kebutan?! Untuk apa punya motor bagus seperti ini kalau tidak pernah kebut-kebutan?!” pikirku.

Hampir selama satu jam aku memacu motor Kris, entah ke mana. Menembus jalanan padat, berliku di jalan sempit, merasa bebas di jalan kosong, lalu menembus kemacetan lagi, menyalip semua kendaraan. Membuatku merasa menjadi seorang tokoh utama dalam film action yang sedang dikejar-kejar musuh. Berbagai sumpah serapah pengemudi lain tidak kuhiraukan. Yang penting aku merasa bebas.

Aku menepikan motorku di depan restoran Pizza yang buka 24 jam. Kris turun, melepas helm-nya dan  menatapku dengan wajah pucat pasi. “Micheosso?!” tanyanya dengan nada mematikan dan tatapan tajam mematikan.

Aku hanya tertawa terbahak-bahak. Melepaskan helm-ku. Lalu cepat-cepat menarik tangan Kris, berjalan masuk ke restoran pizza itu. “Traktir aku makan. Aku lapar sekali.” Senyuman lebar masih menghiasi wajahku.

Orang-orang menatap kami penasaran. Bagaimana tidak! Seorang cewek memakai gaun putih yang robek di sana-sini, tanpa alas kaki, dengan rambut acak-cakan, menuntun paksa seorang cowok yang memakai tuksedo lengkap dan masih terlihat rapi dan charming. Aku tertawa terbahak-bahak. Membayangkan seorang kesatria wanita yang menculik seorang pangeran. Hahaha. Pasti itu yang ada di pikiran orang-orang!

Kami duduk di dekat jendela. Kris masih menatapku. Masih terlihat syok.

“Kau baru saja hampir membuatku menjadi abu! Kau tidak lihat saat ada truk yang melaju kencang ke arahmu?! Apakah kau punya otak?! Apakah kau tahu apa artinya lampu merah?!”

“Tentu saja aku lihat, makanya aku bisa menghindar. Hahahaha. Sudah kubilang aku pengemudi yang handal kan Kriis..” Aku tersenyum lebar. “Aku pesan 3 loyang pizza super besar.”

Kris hanya geleng-geleng kepala.

“Awww!” Aku baru merasakan perih di telapak kakiku. Benar juga. Aku tidak memakai alas kaki sejak kami menuruni tangga hotel.

“Kakimu berdarah?” Tanpa kuduga, Kris berjongkok di sampingku. Meraih kakiku, meletakkannya di atas pahanya.

“Tidak apa-apa.., hanya sedikit ko..”

Kris mengeluarkan sapu tangan, lalu melilitkannya di telapak kaki kiri-ku yang sebenarnya darahnya cukup banyak. Sepertinya tadi aku menginjak benda tajam tapi tidak sadar.

Orang-orang yang ada di restoran itu tersenyum melihat kami. Duh, sial! Malam ini aku sukses menjadi si bad girl, sedangkan Kris adalah si good prince!

Ponselku berbunyi terus sejak tadi. Sekarang sudah pukul 11 malam. Sudah hampir 3 jam kami “kabur” dari pesta pernikahan ayahku dan ibu Kris.

Aku sama sekali tidak berminat mengangkat telepon dari ayahku itu. Jadi aku membiarkannya saja. Tidak berminat mematikannya juga. Membuat ayahku khawatir sudah menjadi rutinitas bagiku.

Tak lama ponsel Kris berbunyi juga. “Ayahku?” tanyaku tanpa memandang Kris. Aku kembali memasukkan potongan pizza ke mulutku, meskipun aku sudah kekenyangan dan rasanya ingin muntah.

Aku harus makan! Makan membuat stress-ku berkurang.

Kris membiarkan ponselnya terus berdering. Ia menahan tanganku. “Sudah, jangan makan lagi! Ayo pulang ke rumah.”

Aku menepis tangan Kris. Kris melotot marah padaku, menghampiriku, lalu menggendongku begitu saja.

“YAAAA!! KRIS! YAAA!!! WU YI FAN!! Turunkan aku!!!” aku memukul-mukul punggung Kris. Tapi Kris terus saja menggendongku dengan posisi menyamping. Membayar tagihan di kasir, lalu keluar dari dalam restoran pizza. Aku menutup wajahku. Malu karena orang-orang melihat ke arahku.

Kris akhirnya menurunkanku di samping motor. Memakaikan helm di kepalaku, lalu menstarter motor-nya. Aku masih tetap berdiri di samping motor Kris. Rasanya aku tidak ingin pulang. Lebih baik aku tidur di restoran yang buka 24 jam saja!

“Mau menginap di apartemen-ku?” tawar Kris.

Aku membelalakkan mataku. “Kau punya apartemen? Di Korea?” aku sama sekali tidak tahu Kris punya apartemen di Seoul.

“Karena aku senang travelling, ayahku membelikanku banyak apartemen. Di Kanada, Jerman, Korea, Jepang, Perancis, Inggris, China, Thailand. Bahkan di Jerman aku punya bar sendiri.” Kris memutar kedua bola matanya.

“Kita pulang ke rumah saja.” Kataku akhirnya. “Ayahku tidak akan memarahiku hanya karena kabur dari pesta pernikahannya. Dan dia juga tidak berhak memarahimu.”

Kris tersenyum. Aneh. Kali ini sepertinya senyumnya benar-benar tulus. Matanya yang dingin seolah ikut meleleh bersama senyum langka-nya itu.

Aku hanya diam terpaku. Kris menunjuk jok belakang dengan kepalanya. “Naiklah. Akan kutunjukkan bagaimana pembalap professional beraksi. Kau pikir aku tidak jago kebut-kebutan?!”

Aku mengangkat sebelah alis mataku dan menyeringai. “Benarkah?” kataku tak yakin. Tadi saja dia ketakutan saat aku kebut-kebutan! Bagaimana mungkin pembalap professional takut kebut-kebutan! Hah! Dia pasti hanya membual!

“Aku kebut-kebutan safely. Tidak seperti kau yang kebut-kebutan seperti orang buta! Entah buta atau bodoh! Haruskah kuajari tentang rambu-rambu lalu lintas?” sindir Kris.

Aku mendengus. “Oke..oke.., kita lihat sejauh mana kemampuanmu.” Aku pun naik ke jok belakang.

“Kau siap?” tanya Kris.

“Hmm…”

Kris menarik tanganku dan melingkarkannya di pinggang Kris. “Pegangan yang erat!”

Motor pun melaju dengan sangat kencang. Menembus kegelapan malam.

******* ~~~~~~ ********

9 thoughts on “Bad Oppa or Good Oppa? (Chapter 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s