Bad Oppa or Good Oppa? (Chapter 1)

Title                               : Bad Oppa or Good Oppa?

Genre                                       : romance, friendship, family

Author                           : Azumi Aozora (@AzmiWiantina)

Length                            : Chaptered

Casts                                       : – Kris (EXO-M)

–         Kim Min Ah (OC)

–         Luhan (EXO-M)

–         SuHo (EXO-K)

–         Lee Eun Hye (OC)

–         Jong Hyun (CN Blue)

–         Jung Jin Young (B1A4)

–         And the other EXO members

 

Chapter 1 : New Oppa

 

Aku mengayuh sepedaku, menyusuri jalanan menuju Universitas Korea. Dimana-mana terlihat pasangan yang saling bergandengan tangan. Cih! Aku memalingkan wajahku. Bulan Februari ya? Sebentar lagi valentine. Aku tidak peduli, dan tidak mau peduli. Bagiku valentine hanyalah hari sial dan buruk!

Sudah setahun berlalu, tapi mengapa aku masih mengingat si brengsek itu?! Sangat menyebalkan!

Aku memarkir sepedaku. Memasang gembok. “Min Ah!!!” panggil seseorang. Aku menoleh dan melihat teman baikku sejak TK, Lee Eun Hye. Gadis berambut ikal se-bahu itu berlari menghampiriku sambil tersenyum riang.

“Oh.., Eun Hye..?”

Eun Hye menggandeng tanganku. “Bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke White Cafe? Aku sudah lama tidak pergi ke cafe itu. Kau tau sendiri kan cafe itu selalu dipenuhi cowok ganteng? Ayoolaah Min Ah kita pergi ke sana ya.. ya.. ya..? Sekalian merayakan kepulanganmu ke Korea..” rayu Eun Hye.

Aku mendelik, lalu menghela napas panjang. Dulu aku sering datang ke White Cafe. Itu salah satu tempat nongkrong favoritku. Tapi tempat itu berubah jadi tempat yang paling kubenci sejak setahun yang lalu.

“Kau pergi sendiri saja..” kataku.

Eun Hye cemberut. Dia menggoyang-goyangkan lenganku manja. “Min Ah.. ayoolaah.., Tenang saja…., Tidak akan ada Jong Hyun di sana. Dia sudah lama tidak datang ke cafe itu. Bulan kemarin aku tidak melihatnya. Ya..Min Ah?? Ayolaah.., katanya nanti malam akan ada penampilan band-band indie yang keren-keren..”

Eun Hye memasang tampang memelas. Aku tahu, aku tidak bisa menolaknya. “Berhentilah memasang tampang seperti itu..” kataku. Berjalan pergi.

Eun Hye mengikutiku. “Jadi..?”

“Karena sekarang ayahku masih di Tokyo, kurasa aku bisa ikut. Jemput aku jam 7 malam.”

“Horeeee!!!!” Eun Hye berseru senang. Dia menggandeng tanganku sambil nyengir lebar. “Kau pasti akan bertemu cowok keren di sana. Percayalah padaku.” Eun Hye mengedipkan sebelah matanya genit. Aku hanya geleng-geleng kepala. Dasar Eun Hye si Boy Crazy!

“Sampai ketemu nanti malam, Min Ah!!!!” Eun Hye masuk ke gedung MIPA, sementara aku masuk ke gedung di sampingnya. Fakultas Teknik. Kami sama-sama tingkat 3. Bedanya Eun Hye mengambil jurusan Kimia, sedangkan aku Teknik Lingkungan.

Aku pun memasuki gedung Fakultasku dengan bersemangat. Hmm.., sepertinya pergi ke cafe itu ide yang lumayan bagus. Sudah lama aku tidak jalan-jalan. Hhhh.., tugas-tugas akhir semester membuatku stress!!!!

********

Pukul 7.30 PM KST, di White Cafe…

Aku dan Eun Hye duduk lumayan dekat dengan panggung. Aku memesan espresso. Aku tidak suka meminum soju, wine, atau sejenisnya. Aku lebih suka kopi.

Sejak tadi Eun Hye sibuk “berkeliaran” sana-sini menyapa beberapa temannya. Aku hanya duduk di kursiku, dan menatap panggung tanpa minat.

“Min Ah.., kenalkan ini Lu Han… dan Su Ho.” kata Eun Hye. Seorang cowok berambut pirang menghampiriku. Di belakang-nya seorang cowok yang berwajah ramah dan penuh senyum berjalan mengikuti.

Aku mengangguk, tersenyum, lalu menjabat tangan kedua cowok itu. Oooh.., jadi ini kedua cowok yang sering Eun Hye ceritakan padaku itu?! Eun Hye sering bercerita tentang Su Ho – dosen muda baru di jurusan Kimia. Dan juga Lu Han, kakak kelasnya yang pernah jadi presiden mahasiswa. Eun Hye si boy crazy memang selalu dikelilingi cowok-cowok keren.

Eun Hye mendekatkan wajahnya padaku, lalu berbisik. “Min Ah.., bagaimana? Su Ho dan Luhan ganteng kan? Hehehe. Sayang sekali aku sudah ada Jin Young..” Eun Hye mengedipkan matanya.

“Mwo?”

“Sorry telat..” tak lama Jung Jin Young pun datang. Cowok cute berambut agak berantakan itu tersenyum lebar. “Waah.., ada Min Ah.., hai Min Ah.. sudah lama ya kita tidak bertemu. Kudengar kau baru pulang dari Belanda untuk pertukaran pelajar?”

Aku mengangguk. “Hmmm…” lalu aku melirik Eun Hye. Mata Eun Hye membelalak lebar. Ingin sekali rasanya aku tertawa melihat wajahnya itu. Aku tahu, meskipun Eun Hye itu boy crazy, tapi sejak dulu dia hanya mencintai Jung Jin Young. Aku tidak tahu hubungan mereka sekarang seperti apa. Tapi sepertinya ada kemajuan.

Ponselku bergetar. Ada sms. Dari Eun Hye? Jarak kami hanya kurang dari 1 meter, dan dia malah mengirimiku sms?! Hahaha. Yang benar saja! Aku menatap Eun Hye. Eun Hye memberiku isyarat untuk membukanya.

Min Ah.., manfaatkanlah momen ini. SuHo keren kan? Luhan juga cute kan?

Aku tersenyum, lalu membalas sms Eun Hye : Ya. Tapi aku sedang ingin sendiri, Eun Hye.

Ponselku bergetar lagi. Sendiri? Sudah 1 thn kau terus sendiri. Pokoknya thn ini kau harus punya namjachingu yg baru! Lupakanlah Jong Hyun si brengsek. Ok?

Aku menatap Eun Hye. Eun Hye mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.

Kami berlima duduk bersama. Eun Hye, Jin Young, dan Luhan banyak membuatku tertawa. Suho sepertinya pendiam. Dia tidak banyak bicara. Hanya menimpali lelucon dengan seulas senyum yang ramah.

Aku mengamati SuHo. Dia sangat tampan. Sikapnya juga baik. Apalagi di usianya yang baru 20 tahun ia sudah menjadi dosen di Jurusan Kimia. Benar-benar tampan, jenius, dan kaya raya. Sosok Pangeran sempurna, bukan? Tapi entah kenapa perasaanku padanya datar-datar saja. Tidak ada “chemistry”.

Terdengar suara tepuk tangan riuh. Empat orang cowok baru saja naik ke atas panggung. Penonton bersuit-suit ria.

“Sepertinya kau dapat saingan, Luhan.” Kata Eun Hye pada Luhan.

“Mwo?? Tentu saja tidak ada yang bisa menyaingiku. Aku ini senior. Tidak mungkin junior-junior ini mengalahkanku.” Timpal Luhan PD. “Selain pandai menyanyi, dance, biola, piano, gitar, semuanya aku bisa.”

Eun Hye menjulurkan lidahnya. LuHan hanya tersenyum polos.

Penonton tak henti-hentinya menjerit-jerit saat keempat cowok keren di atas panggung itu membawakan sebuah lagu berbahasa Inggris dan bernuansa rock ballad.

Hmmm.., mereka lumayan keren.

“Kyaaaaaaa…. vokalisnya ganteng sekaliiii!!!!!” pekik Eun Hye.

“Mwo??? Tentu saja lebih ganteng aku!” tukas Jin Young. Terlihat tidak suka.

Eun Hye terkikik-kikik. “Hihihi… tentu saja..” ujar Eun Hye sambil mencubit kedua pipi Jin Young.

Aku hanya nyengir mendengar obrolan mereka.

Aku menatap vokalis band di atas panggung itu. Dia memakai jaket kulit hitam dan sepatu boots. Rambutnya pirang keemasan, wajahnya tirus dengan garis rahang yang tegas. Hidungnya mancung, dan sepertinya dia blasteran. Bukan asli Korea. Gaya oke, suara bagus, wajah tampan, permainan gitar yang keren – pantas saja penonton terhipnotis olehnya.

Mereka membawakan lagu ke-2. Aku tidak tahu ini lagu apa. Lagipula lagunya berbahasa asing. Sepertinya bahasa Jerman.

“Woah.., ini kan lagunya Tokio Hotel – Durch den monsun.” Ujar LuHan.

“Tokio Hotel?” tanyaku dan Eun Hye berbarengan.

LuHan mengangguk. “Hmm. Band Jerman. Aku lumayan suka. Yaaah.., band ini oke juga. Kuharap mereka sering manggung di sini.” LuHan menyanyi sambil mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama.

Durch Den Monsun?

Aku terus menatap vokalis band itu. Dia bermain gitar sambil terus bernyanyi. Penonton masih menjerit-jerit. Aku berharap penonton diam, agar aku bisa mendengar suara jernih vokalis ini!

Aku merasa si vokalis menatapku balik. Kedua alisnya tebal dan pandangan matanya sangat tajam. Aku nyengir. Mungkin itu hanya perasaanku. Penyanyi kan memang sering melakukan eye contact dengan penonton. Aku menoleh ke kanan dan kiri. Lalu kembali menatap ke atas panggung. Si vokalis itu masih terus melihatku!

Eun Hye menyenggol lenganku. “Yaaa.. ~~~ Min Ah.., sepertinya dia melihatmu terus. Kau mengenalnya?”

Aku menggeleng. “Tidak.”

Si vokalis itu terus saja menatapku!

“Apakah dia marah? Tampangnya seperti orang marah.” Bisiskku pada Eun Hye.

“Dia tampan sekaliii!!! Kyaaaaaaa!!!!!” Eun Hye menjerit kegirangan, tidak menggubris perkataanku, dan sama sekali tidak memedulikan Jin Young yang menatapnya kesal.

Lagu terakhir bernuansa rap. Si vokalis meletakkan gitarnya, begitupula dengan ketiga personel lain yang tidak lagi menggunakan alat music-nya. Si vokalis dan drummer menyanyikan lagu rap, sementara si bassist dan pianis melakukan dance-dance lincah. Penonton mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama yang easy listening dan catchy itu.

Setelah lagu berakhir, keempat namja cool itu membungkukkan badannya, lalu turun dari atas panggung. Penonton terus saja bertepuk tangan riuh, sampai kemudian MC memanggil sebuah nama band lagi. Tiga orang cowok naik ke atas panggung. Penonton bertepuk tangan, tapi tidak se-heboh saat penampilan band barusan.

“Aku lebih suka band yang sebelumnya, terlihat professional. Dance-nya juga lumayan oke.” Komentar si pirang Luhan.

“Omo ~~~~” seru Eun Hye. Sang vokalis keren “band sebelumnya” itu berjalan menghampiri kami. Orang-orang menatap kami. Lebih tepatnya… menatapku! Karena kini si vokalis charming itu berdiri di sampingku!

Cowok itu berbicara padaku. Aku hanya melongo menatapnya, karena dia berbicara dengan bahasa asing! “Hah?” kataku.

“Dia bertanya apakah benar namamu Kim Min Ah…?” kata Luhan. Sebagai mantan presiden mahasiswa, Luhan memang jago bicara banyak bahasa asing.

Saat pertukaran pelajar selama 6 bulan di Belanda dulu, banyak temanku yang orang Jerman, dan sampai sekarang aku tidak pandai bahasa Jerman. Menurutku bahasa Belanda lebih mudah dipelajari.

Aku mengangguk. “Ne. Aku Kim Min Ah.”

Lalu cowok itu pun kembali berbicara, tapi kali ini dengan bahasa Mandarin. Lagi-lagi aku terbengong-bengong. Tanpa menunggu jawabanku, ia pun berjalan pergi.

“Apa yang dia katakan?” tanyaku pada Luhan.

Luhan nyengir canggung padaku. Aku mendapat firasat buruk!

“Ng..ng.. dia bilang… : Aku hanya ingin memastikan. Aneh sekali karena kau terlihat jauh lebih jelek daripada di foto.”

“MWO???” pekikku.

Luhan terlonjak kaget.

“Mianhae..” kataku, karena sudah mengagetkannya.

“Min Ah.., dia siapa? Temanmu?” tanya SuHo.

Aku menggeleng. “Aku tidak punya teman yang belagu dan sok seperti itu!” kataku kesal.

“Sepertinya dia orang Korea. Tapi kenapa dia berbicara pakai bahasa Jerman ya? Bisa bahasa China juga?!” tanya Eun Hye. “Tapi dia memang sangat keren…” lanjut Eun Hye, membuat Jin Young menatapnya sebal.

Aku mencoba mengingat-ingat. Siapa tahu aku pernah bertemu dengan cowok aneh itu di suatu tempat di Belanda. Tapi… tidak. Sepertinya aku baru pertama kali ini melihatnya. Lalu mengapa dia bisa tahu namaku? Siapa dia sebenarnya?

******

Satu minggu telah berlalu sejak aku mengenal SuHo dan LuHan, dan bertemu cowok aneh bertampang seperti angry bird itu! Aku bergidik ngeri setiap kali mengingat tatapan matanya yang mengintimidasi.

SuHo sering mengirimiku e-mail sejak hari itu. Kami juga sering chatting di skype. Aku senang mengenalnya. Dia bukan hanya “punya tampang”, tapi juga “punya otak”. Tadi malam aku berdiskusi dengannya tentang Kimia Lingkungan. Ya.., mengenal dosen Kimia membuatku lebih mengerti mata kuliah yang satu itu. Hehehe.

Hari ini aku pulang agak larut malam. Ada kegiatan klub jurnalistik dulu di kampusku. Sudah lama aku tidak ikut kegiatan klub gara-gara pertukaran pelajar ke Belanda. Dan gara-gara pertukaran pelajar itu juga aku jadi ketinggalan banyak mata kuliah. Tapi aku tidak menyesal. Pengalamanku selama pertukaran pelajar itu benar-benar berharga. Tertinggal 1 semester dari teman-temanku rasanya layak kudapatkan sebagai kompensasinya.

Aku memarkir mobilku di garasi. Ayahku tidak suka aku naik sepeda ke kampus. Padahal aku sudah terbiasa bersepeda saat di Belanda. Tapi memang benar, bersepeda di Belanda jauh lebih aman dan asyik daripada bersepeda di Korea.

Pandanganku tertuju pada sebuah motor sport besar berwarna merah yang terparkir di samping sedan perak ayahku. Motor itu terlihat baru. Motor siapa itu? Apakah Appa baru membelinya? Aneh sekali. Yang kutahu ayahku tidak suka naik motor. Jadi, untuk siapa motor itu? Untukku? Aku benar-benar berharap motor itu untukku. Aku selalu ingin naik motor besar seperti itu. Sangat keren. Tapi dulu ayahku menentangku habis-habisan. Lalu sekarang.., kenapa bisa ada motor itu?

Aku masuk ke dalam rumah dengan senyum lebar. Mungkin ayahku berubah pikiran. Mungkin Tokyo membuat ayahku “berubah”. Yah.. semoga saja.

“Appa…, motor di garasi itu punya….” Aku membelalakkan mataku. Terpaku melihat seorang cowok berkaus hitam yang sedang duduk di sofa ruang keluarga, di samping ayahku – sambil menonton TV.

“Kau..” kataku. Bagaimana mungkin si vokalis aneh yang tidak bisa bicara bahasa Korea itu kini ada di rumahku?!

Cowok itu menatapku dingin.

“Oh..Min Ah. Mulai sekarang Kris akan tinggal di rumah kita. Yi Seul juga.” Kata Ayahku.

“Min Ah…kau sudah pulang…” seorang wanita cantik baru saja keluar dari dapur sambil membawa pudding cokelat.

Mulutku menganga lebar. “Appa…” hanya itu yang bisa kuucapkan. Aku terlalu syok. Tolong jangan bilang…tolong…

“Appa kan sudah bilang akan menikah dengan Yi Seul. Sambil mengurus pesta pernikahan kami minggu depan, Yi Seul dan Kris akan tinggal di sini. Kris seumuran denganmu.” Kata ayahku.

Aku melirik cowok bernama Kris itu. Dia hanya balas menatapku tajam. Lagi-lagi aku bergidik melihat ekspresi-nya.

“Eh…eng..mmm… Hello.., so you’re Kris…Sorry but I can’t speak germany..” kataku.

Kris tersenyum miring, terkesan meremehkan. “Tidak usah berbicara dengan bahasa Inggris atau Jerman..” katanya.

Aku melotot padanya. “Kau bisa bahasa Korea?”

Kris tertawa. “Tentu saja. Aku lumayan lama tinggal di Korea. Aku bisa bahasa Korea, Mandarin, Inggris, Jerman, Jepang, Perancis, dan masih banyak lagi…”

Aku mengepalkan tanganku. Mencoba menahan emosi. Lalu kenapa dia tidak berbicara dengan bahasa Korea saat di cafe dulu?! Hah! Dia pikir dia bisa menjahiliku?! Untung saja Luhan jadi translatorku.

Kris berjalan mendekatiku, dan mendekatkan wajahnya padaku. Aku bisa merasakan nafasnya yang hangat. “Mulai sekarang aku akan jadi Oppa-mu. Kuharap kau jadi adik yang baik.” Kris memukul-mukul kepalaku agak keras.

“Aaaw…” keluhku sambil mengusap-ngusap kepalaku. Kris kembali menatapku tanpa ekspresi, lalu tanpa mengatakan apapun – ia  naik ke lantai 2.

Tidaaaaaakkkkk!!!!!!!!!!!!!!! Aku tidak mau punya kakak tiri seperti Kriiiiissssss !!!!!!!!!!!!!!!!! >_<

********

Keesokan paginya…..

Aku turun ke lantai bawah, dan mendapati Kris yang sedang sarapan di meja makan. Aku pun duduk di seberangnya. “Mana Appa?” tanyaku malas-malasan. Biasanya kalau ada di rumah, Appa yang paling rajin bangun pagi.

Kris hanya diam saja, sama sekali tidak menyentuh sandwich di hadapannya.

“YAA!!! Jangan bilang kau tidak mengerti apa yang kukatakan barusan!” tukasku, sebal karena Kris mengabaikan pertanyaanku.

Cowok berkaus putih itu hanya menatapku dingin. “Mana aku tahu.” Jawabnya.

Aku menghela napas panjang, lalu meraih roti panggang keju-ku. Nyonya Han (pengurus rumah kami) datang sambil membawa secangkir kopi panas dan juga sebotol wine untuk Kris.

“Kau minum kopi dan wine pagi-pagi begini?!” komentarku.

Kris menatapku dingin. Lagi-lagi dia mengabaikanku. Tanpa menjawab pertanyaanku, ia pun meminum kopi-nya, lalu menegak wine beberapa saat kemudian. Dasar aneh!

“Nyonya Han.., Anda tahu di mana Appa?” tanyaku pada nyonya Han.

“Tuan Kim sudah pergi sejak pagi-pagi sekali bersama Nyonya…”

“Pergi? Pergi ke mana?” tanyaku.

“Saya tidak tahu Aggaeshi…”

“Oh..,” Aku mengangguk-anggukan kepalaku.

Kris bangkit berdiri, meraih mantel dan kunci motor di sofa, lalu pergi begitu saja tanpa memakan sandwich terlebih dahulu. Tiba-tiba aku mendapat ide. “Kris!!!!” panggilku.

Kris menatapku galak. “Apa lagi?”

Aku nyengir. “Bagaimana kalau aku saja yang naik motor? Kau naik mobilku. Bagaimana?” tanyaku. Ayahku tidak ada. Aku bisa naik motor sport itu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mengendarai motor.

“Tidak mau.” Kata Kris dingin, lalu dia pun pergi.

“Aiish.., menyebalkan! Dasar cowok es! Si Muka pemarah! Angry Bird!!! Orang aneh!!!” Aku melahap rotiku dengan kesal. Mulai sekarang sudah kuputuskan, aku tidak akan memedulikan cowok aneh itu!

********

Aku memarkir mobilku, lalu cepat-cepat masuk ke gedung fakultas teknik. Gawat!!! Aku sudah terlambat 5 menit! Di depan lift sudah banyak orang mengantri. Sial! Mana lift nya masih di lantai 6. Hari ini aku kuliah di lantai 4. Hhhh.., apa boleh buat, aku pun memutuskan naik tangga saja. Daripada semakin terlambat, lebih baik aku berlari naik tangga.

Akhirnya aku tiba di depan ruangan kelasku di lantai 4. Napasku terengah-engah. Terdengar suara ribut anak-anak. Aku menghembuskan napas lega. Dosenku belum datang! Aku pun masuk ke dalam kelas dengan riang.

“Hmmm… ada apa?” tanyaku pada Mi Young. Aku heran karena banyak anak cewek yang berkumpul di bangku paling belakang.

“Ada murid baru yang ganteng bangeeeet,,, Min Ah…” mata Mi Young berbinar-binar. Mi Young duduk di bangku paling depan, dan menatap ke belakang dengan antusias.

Baek Hyun mendengus. “Apaan..,! cewek-cewek di kelas kita norak-norak semua. Seperti tidak pernah lihat cowok saja…”

“Cowok itu banyak.., tapi cowok yang keren, cool, seperti dia itu sangat sedikit.” Timpal Mi Young. “Gaya-nya oke seperti model-model, tatapan matanya yang cool dan tajam, senyumannya yang agak sinis itu… kyaaaaa… aku meleleh….”

Karena penasaran, aku pun berjalan menghampiri kerumunan di belakang itu. Beberapa anak sudah kembali ke tempat duduknya, dan perlahan “sosok murid baru” itu pun terlihat. Mulutku menganga lebar mendapati siapa anak baru itu!

“Kris…????” aku masih tidak percaya dengan penglihatanku.

Kris menatapku dingin, lalu tersenyum meremehkan. “Ya. Kenapa?”

“Kau kuliah di jurusan teknik lingkungan???? Kupikir seni .. atau… tidak…tidak boleh! Kenapa kau mengikutiku?! Aku tidak mau sekelas denganmu! Kau pindah universitas saja!”

Anak-anak berbisik-bisik keras. Sementara Kris hanya menatapku datar. “Saat di Jerman  juga aku kuliah di Teknik. Musik itu hobi-ku. Karena di Korea universitas ini adalah universitas terbaik, jadi aku masuk kemari.”

“Min Ah.., kalian saling kenal???”

“Kalian kenal di mana??? Kyyaa… kau beruntung Min Ah!!” anak-anak cewek malah berbicara dengan hebohnya. Membuatku semakin kesal.

Aku hanya menatap Kris kesal. Kris balas menatapku datar.

“Hey kalian! Sedang apa kalian di belakang? Ayo duduk di kursi kalian masing-masing!” Mr.Cha masuk. “Oh.., Wu Yi Fan. Selamat datang di kampus ini. Kudengar kau adalah mahasiswa terbaik di kampusmu. Selamat datang…” Mr.Cha tersenyum ramah.

“Ne, seonsangnim.” Kata Kris sopan.

“Nah anak-anak, teman baru kalian ini.. Wu Yi Fan.., atau kalian bisa memanggilnya Kris, pindahan dari Jerman. Dia blasteran Kanada-China. Sudah cukup lama tinggal di Korea, jadi bahasa Korea-nya lancar.” Mr.Cha menatap Kris sambil tersenyum. “Sampaikan salamku untuk ibumu yang sangat cantik, Kris.”

“Ne.” jawab Kris. Dingin.

Aku membelalakkan mataku. Mahasiswa terbaik? Kris??? Aku menatap Kris tak percaya. Kris melotot padaku. “Apa?” katanya tanpa suara. Aku memalingkan wajahku. Cih! Lihat saja nanti! Memangnya sepintar apa dia?! Dan apa-apaan itu tadi?! Mr.Cha kenal ibunya? Calon ibu tiriku!

********

Ketika bel berbunyi, cepat-cepat aku keluar dari kelas, mengekor di belakang Mr.Cha, lalu berbelok ke lorong menuju kantin. Aku butuh sesuatu untuk mendinginkan kepalaku!

“Kriiisss….Kriiiissss… tunggu!!!!!” teriak cewek-cewek.

Aku semakin mempercepat langkahku. Aku tahu si cowok menyebalkan itu mengikutiku!

“KRIIIISSSSSSS!!!!!” teriak cewek-cewek putus asa.

Aku terlonjak kaget. Kris melingkarkan lengannya di pundakku. Aku menoleh dan menatapnya tajam.

“Antar aku berkeliling kampus, dan traktir aku makan.” Katanya seenaknya sambil tersenyum miring. Senyuman khas-nya. Senyum meremehkan dengan tatapan mata tajam mengintimidasi.

Aku mendengus. “Tidak mau!” tukasku, sambil berusaha melepaskan tangannya dari pundakku, tapi tangannya semakin mengeras.

“YAA!! Kau harus menuruti semua kata-kata Oppa-mu!” bentak Kris.

“Mwo? Aku kan sudah bilang.., aku tidak pernah punya Oppa!”

“Sekarang kau punya.” Timpal Kris keras kepala.

Aku mendelik sebal menatap tampang sok keren-nya. Kemudian sebuah ide terlintas di kepalaku. “Aah.., aku mau mengantarmu berkeliling dan mentraktirmu makan. Tapi… sebagai gantinya.., bagaimana kalau kita barteran?”

“Barteran apa?”

“Aku naik motor-mu, kau naik mobilku. Dan jangan bilang-bilang pada Appa. Bagaimana?”

Kris mendengus. “Sebegitu besarnya-kah keinginanmu untuk naik motor?”

Aku menatap Kris serius. “Bagaimana?” tanyaku tak sabar.

“Tidak. Tidak bisa.” Kris pun pergi begitu saja.

“Kenapa???” aku berlari mengejarnya.

Kris tiba-tiba berbalik, membuatku menubruk dada bidang-nya. Aku terpental ke belakang sedikit. Orang ini makan apa sih?! Tubuhnya keras sekali! Dia juga tinggi sekali! Benar-benar mengintimidasi! Mulai dari tampang, tinggi badan, sampai kata-kata yang dia ucapkan, semuanya membuatku merasa “kecil”. Huh! Aku menatap Kris kesal sambil mengusap-ngusap keningku yang sakit gara-gara menubruk dadanya yang keras.

“Karena itu motor kesayanganku. Kau pasti akan menghancurkannya.” Kris pun kembali berbalik, lalu pergi.

Aku menghembuskan napas panjang. Hhhh…, aku tidak akan menghancurkan motormu, bodoh!

*******

Sepertinya hari-hari di neraka baru saja dimulai. Semakin hari, Kris semakin bossy dan menyebalkan! Dia membuatku melakukan banyak hal. Membuatku lebih merasa seperti budak dibanding adik! Huh, Oppa apa-nya? Nappeun Oppa!

Tidak ada yang tahu mengenai hubungan kami sebenarnya. Orang-orang tidak tahu Kris adalah kakak tiriku. “Calon” kakak tiri. Ayahku dan ibunya Kris baru akan menggelar pesta pernikahan resmi sabtu malam ini. Tinggal 3 hari lagi, dan Kris akan benar-benar resmi menjadi Oppa tiri-ku.

TIDAAAAAAKKKKK!!!!!! Kenapa aku harus punya kakak menyebalkan seperti DIAAAAA????!!!!!!!!!!!!!!

–          TBC –

6 thoughts on “Bad Oppa or Good Oppa? (Chapter 1)

  1. Pingback: Bad Oppa or Good Oppa? (Chapter 1) « wiantinaazmi

  2. Author^^ Aku New Reader^^ Aku liat FF ini di EXOfanfic dan udh pengen baca dri dulu tapi blm sempet dan baru bisa sekarang~ Dan…
    AKU SUKA FF INI! SUKA BANGET! Rasanya pengen bgt punya Oppa kaya Kris^^ Love this FF so much^^ Kata-katanya gampang di mengerti terus penyampaiannya bagus banget~ Keep writing author^^

  3. main cast-nya kris???
    ok entah mengapa aku suka kalau kris jadi si bossy tiang menyebalkan/?
    setelah baca chap. 1 ini aku semakin greget sama wu fan
    dari awal liat dia aku udah dendam kesumat/? sama dia karna gayanya yg sok dan menyebalkan
    *curcol
    duh menderita banget ya jadi min ah
    *pukpuk min ah
    semakin kepo dg cerita lanjutannya
    *terbang/? ke chap. 2
    good job azumi (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s